Tangkal Doomscrolling dan FOMO, Psikolog Ajak Terapkan Detoks Digital

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, MALANG—Saat ini sangat rentan mengalami digital distress akibat FOMO (fear of missing out), kecemasan akan validasi, hingga kebiasaan doomscrolling,  kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam untuk terus-menerus menelusuri, membaca, atau menggulir layar ponsel, sehingga perlu diterapkan detoks digital

"Gejalanya bisa muncul dalam berbagai bentuk. Secara psikologis seseorang menjadi sulit berkonsentrasi, gelisah, cemas saat jauh dari ponsel, mudah marah, hingga akhirnya mengalami burnout akademik," kata Psikolog Pendidikan sekaligus Ketua Korps Immawati DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Wilda Kumala Sari, dikutip Selasa (16/6/2026).

Dia menyoroti bagaimana kecemasan digital sering kali merenggut kesadaran mahasiswa akan realitas saat ini, sehingga mereka kerap kehilangan kendali atas prioritas belajar dan produktivitas mereka.

“Sering kali kita terjebak pada masa lalu atau kecemasan tentang masa depan secara berlebihan. Karena itu, bersikap bijak terhadap masa lalu dan masa depan dimulai dengan kemampuan untuk hadir sepenuhnya di masa kini,” ungkapnya.

Mengatasi persoalan tersebut, integrasi antara psikologi dan agama menjadi solusi utama, yakni dengan menerapkan digital mindfulness melalui konsep khusyuk dan ihsan. 

Dia menerangkan, khusyuk melatih mahasiswa untuk memusatkan pikiran agar terlepas dari distraksi gawai, sementara ihsan menumbuhkan kesadaran bahwa Allah Swt. selalu mengawasi setiap aktivitas, termasuk di ruang siber.

Baca Juga

  • TikTok Cegah Pengguna Bablas Doomscrolling, Fitur Wellbeing Diperbarui
  • Mengenal Doomscrolling, Kebiasaan Mencari Berita Buruk hingga Sebabkan Kecemasan
  • Waspada Doomscrolling Sosial Media Bisa Ganggu Kesehatan Mental

“Ihsan membuat kita memiliki filter dalam berperilaku di media sosial. Dengan begitu, kita tidak akan melakukan cyberbullying, menyebarkan hoaks, atau melakukan plagiarisme digital,” tegasnya.

Untuk mengimplementasikan kesadaran tersebut, mahasiswa diarahkan untuk melakukan langkah praktis seperti mematikan notifikasi yang tidak penting, membiasakan monotasking daripada multitasking, serta menerapkan teknik STOP (Stop, Take a breath, Observe, Proceed) sebelum membuka media sosial.

"Pada jeda tersebut, mahasiswa dapat bertanya kepada diri sendiri, ‘Apakah Allah rida dengan apa yang aku lakukan? Apakah ini membawa manfaat?’ sebelum memutuskan untuk berinteraksi di dunia maya," tambahnya.

Melalui pembekalan mindfulness ini, kata dia, maka mahasiswa UMM diharapkan mampu menjadi pengendali penuh atas teknologi yang mereka gunakan, bukan justru menjadi budak algoritma. Kegiatan ini menitipkan pesan mendalam bahwa menjaga kesehatan mental dan spiritual melalui batasan digital yang sehat adalah fondasi wajib bagi mahasiswa untuk meraih kesuksesan akademik dan kehidupan yang menenangkan di masa depan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kronologi Kecelakaan Maut 3 Truk di Jalinsum Lampung Selatan, Rem Blong Hilang Kendali
• 16 jam lalurctiplus.com
thumb
Jawa Tengah Mencatat Capaian Sertifikasi Tanah Wakaf Tertinggi Nasional dengan Target Menembus 95 Persen
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Pejabat BKAD Purwakarta Ditemukan Tewas di Rumah, Polisi Selidiki Luka Tusukan | KOMPAS PAGI
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Korupsi Jalan Tol Layang MBZ, PT Acset Indonusa Dijatuhi Pidana Uang Pengganti Rp 179,9 Miliar
• 16 menit lalukompas.id
thumb
Deschamps Sebut Pergantian Posisi Kunci Kemenangan Prancis atas Senegal
• 9 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.