Menjaga Kesehatan Otak Demi Ketajaman Berpikir dan Mental

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Menjadi orang lanjut usia tidak secara otomatis berarti kehilangan ketajaman mental. Sebaliknya, kesehatan otak dan kemampuan kognitif dapat terus meningkat sepanjang hidup dalam mendukung kemandirian orang lanjut usia.

Anggapan umum untuk menerima saja kaitan penuaan dengan penurunan fungsi kognisi mendapat perhatian ilmuwan. Nyatanya, kesehatan otak dapat dipupuk secara proaktif di usia berapa pun untuk membuat orang lanjut usia tetap mampu memiliki kemampuan berpikir yang baik.

Studi terbaru guna memahami bagaimana orang dapat memperkuat dan mengoptimalkan kesehatan otak sepanjang hidup mereka dilakukan selama tiga tahun dari para peneliti di Center for Brain Health (CBH) di Universitas Texas di Dallas, Amerika Serikat.

Dari publikasi di jurnal Scientific Reports pada Mei 2026, hasilnya menunjukkan kesehatan otak bukan hanya  harus diupayakan untuk dipertahankan. Kesehatan otak secara aktif dapat dibentuk dari waktu ke waktu.

“Penelitian seperti yang kami lakukan, yang memberikan ukuran obyektif kesehatan otak yang dapat dilacak orang dari waktu ke waktu, dapat meningkatkan kesadaran publik,” kata Lori G Cook, Direktur Penelitian Klinis CBH di Universitas Texas dan penulis utama studi.

Baca JugaLansia dalam Bayang-bayang Depopulasi

Studi kesehatan otak tersebut meneliti hasil selama tiga tahun dari 3.966 orang dewasa (19–94 tahun) atau seperlima dari seluruh peserta dalam Proyek Kesehatan Otak. Proyek ini merupakan inisiatif daring yang mengintegrasikan Indeks Kesehatan Otak (Brain Health Indeks/BHI) dengan pelatihan kognitif, modul gaya hidup, dan pembinaan.

Indeks kesehatan otak atau BHI dinilai setiap dua tahun sekali. Indeks ini memberikan ukuran multidimensional di berbagai faktor, mencakup kejelasan (fungsi kognitif), keterhubungan (keterlibatan sosial dan berorientasi tujuan), serta keseimbangan emosional (kesejahteraan mental. Adapun BHI dirancang untuk mendeteksi peningkatan dan penurunan kesehatan otak.  

Selama tiga tahun, peserta menyelesaikan kegiatan pelatihan singkat yang hanya membutuhkan waktu 5 - 15 menit per hari. Pelatihan  ini untuk melihat perkembangan BHI yang mengukur tiga area utama yakni kejernihan pikiran, keseimbangan emosional, serta keterhubungan dengan orang lain dan tujuan hidup.

Cook mengatakan, hasil menunjukkan peningkatan berkelanjutan dalam BHI keseluruhan dan faktor komponennya, terlepas dari skor awal. “Keterlibatan lebih tinggi dengan alat pelatihan, seperti pembelajaran berbasis strategi, pembinaan, dan kebiasaan yang menyehatkan otak, dikaitkan dengan peningkatan terbesar. Hal ini digarisbawahi sebagai peran kemandirian dalam optimalisasi kesehatan otak,” katanya.

Lebih lanjut, Cook menjelaskan indeks kesehatan otak menggabungkan sekitar 20 metrik, termasuk ukuran standar emas yang telah divalidasi seperti Indeks Kualitas Tidur Pittsburgh dan Kuesioner Kebahagiaan Oxford, serta tugas-tugas yang dirancang di Pusat Kesehatan Otak untuk berfokus pada keterampilan berpikir yang lebih kompleks.

“ Serangkaian penilaian ini menghasilkan wawasan tentang kesehatan otak individu dan perubahannya dari waktu ke waktu. Kemajuan diukur dengan membandingkan hasil dengan skor peserta sebelumnya," jelas Cook menegaskan.

Dapat dilatih

Cook menegaskan temuan dalam penelitian tersebut menantang asumsi umum tentang penuaan dan kognisi. "Setiap otak itu unik seperti sidik jari dan memiliki potensi untuk berkembang,” ujarnya.

” Studi ini menantang narasi yang berlaku tentang penurunan kognitif yang tak terhindarkan. Hasilnya menunjukkan kesehatan otak dapat dipupuk secara proaktif di usia berapa pun,” kata Cook yang  juga adjunct assistant professor di Sekolah Ilmu Perilaku dan Otak, Universtas Texas.

Menurut para peneliti, perubahan positif diamati bahkan di antara peserta yang berusia 80-an. Hal ini menunjukkan upaya untuk meningkatkan kesehatan otak dapat bermanfaat jauh sebelum gejala atau penyakit muncul dan  dapat tetap efektif di kemudian hari.

"Selama ini kita terlalu lama beroperasi di bawah anggapan usang bahwa kita perlu menunggu sampai sesuatu yang buruk terjadi pada otak kita sebelum kita melakukan sesuatu untuknya," kata Sandra Bond, Direktur utama CBH yang juga terlibat dalam penelitian.

Studi ini menantang narasi yang berlaku tentang penurunan kognitif yang tak terhindarkan. Hasilnya menunjukkan kesehatan otak dapat dipupuk secara proaktif di usia berapa pun.

Menurut Bond, hasil studi tim ini mengingatkan kesehatan otak tidak ditentukan oleh usia. “Melainkan ditentukan oleh kemungkinan," ujarnya.

Baca JugaSiapkan Lansia Mandiri dan Bermartabat

Salah satu temuan paling penting dari penelitian ini, lanjut Bond, melibatkan peserta yang memulai dengan skor indeks kesehatan otak terendah. Kelompok tersebut mengalami peningkatan terbesar dari waktu ke waktu.

Peserta yang memulai dari level terendah tampaknya memiliki peluang terbesar untuk berkembang dan mungkin datang dengan lebih banyak kekhawatiran yang sudah ada sebelumnya.

Bisa jadi hal ini membuat peserta dengan level indek kesehatan otak terendah lebih termotivasi untuk menginvestasikan waktu yang dibutuhkan untuk melihat potensi pertumbuhan yang lebih besar. “Perlu dicatat, kami melihat pertumbuhan terukur, bahkan pada mereka yang masuk sebagai karyawan berkinerja tinggi," ungkapnya.

Para peneliti menemukan, keterlibatan merupakan prediktor terkuat terhadap peningkatan. Faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan tidak menentukan apakah peserta mengalami perubahan positif.

Melawan demensia

Sementara penelitian dari ilmuwan di Johns Hopkins Medicine menunjukkan cara untuk melatih otak yang efektif mengatasi demensia yakni dengan pelatihan kecepatan pemrosesan. Pelatihan ini mengajarkan orang agar dengan cepat mengenali detail visual di layar komputer dan mengelola tugas-tugas yang kian kompleks dalam waktu lebih singkat.

Marilyn Albert,Direktur Pusat Penelitian Penyakit Alzheimer di Johns Hopkins Medicine, mengatakan pelatihan kognitif meningkatkan kemampuan berpikir sehari-hari hingga lima tahun. Dalam pelatihan kognitif perlu ditambahkan dengan latihan kecepatan sesuai kondisi individu.

Baca JugaDemensia, Ingatan Berlalu dengan Cepat

Bagi individu yang berkinerja baik maju ke tugas yang lebih menantang. Adapun mereka yang membutuhkan lebih banyak waktu bekerja dengan kecepatan yang lebih lambat.

Penelitian dari Universitas California (UC) Davis, Amerika Serikat, mendorong agar orang lanjut usia sekalipun tetap punya tujuan hidup. Hal ini didapat dari riset tentang Zona Biru, wilayah di dunia di mana orang cenderung hidup lebih lama. Salah satu kuncinya, memiliki tujuan hidup.

Hasil studi peneliti UC Davis yang diterbitkan di jurnal The American Journal of Geriatric Psychiatry menunjukkan, memiliki tujuan hidup mungkin memiliki manfaat lain seiring bertambahnya usia yakni mengurangi risiko demensia. Efek perlindungan dari memiliki tujuan hidup terlihat di berbagai kelompok ras dan etnis.

“Temuan kami menunjukkan bahwa punya tujuan hidup membantu otak tetap tangguh seiring bertambahnya usia. Bahkan bagi orang-orang dengan risiko genetik penyakit Alzheimer, tujuan hidup dikaitkan dengan timbulnya penyakit lebih lambat dan kemungkinan lebih rendah mengalami demensia," kata Aliza Wingo, penulis senior dan profesor di Departemen Psikiatri dan Ilmu Perilaku UC Davis.

Ada berbagai macam aktivitas yang memberi orang dewasa yang lebih tua tetap merasa punya tujuan hidup. Filosopi Jepang mengenal nilai ikigai yang berarti "alasan untuk hidup" atau "nilai kehidupan."

Aktivitas-aktivitas untuk membantu orang dewasa lanjut usia memiliki tujuan hidup bermakna, antara lain relasi. Contohnya, merawat keluarga, menemani cucu, atau mendukung pasangan atau teman, terlibat dalam kegiatan sukarela, dan melanjutkan pekerjaan profesional, jadi mentor, atau berkontribusi pada kegiatan kemasyarakatan.

Baca JugaLansia-lansia Wisuda, Mereka Menolak untuk Kesepian dan Tidak Berdaya

Ada juga tujuan spiritualitas atau keyakinan dengan menjalankan kepercayaan agama, praktik spiritual, atau keterlibatan dalam komunitas berbasis agama. Bisa juga tujuan pribadi seperti  mengejar hobi, mempelajari keterampilan baru, atau menetapkan dan mencapai tonggak pribadi. Bahkan, membantu orang lain dengan bertindak kebaikan, filantropi, perawatan, atau pekerjaan advokasi.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemenkum dan LAN Luncurkan Forum Komunikasi Kebijakan untuk Sinkronkan Program Prioritas Nasional
• 1 jam lalupantau.com
thumb
Sony Sonjaya Bakal Diperiksa Kejagung, Gali 26 Nama Kasus Korupsi MBG?
• 13 jam lalurctiplus.com
thumb
DPR Setujui Pagu Anggaran Kementerian ESDM Rp27,33 Triliun di 2027, Ini Rincian Alokasinya
• 22 jam laluidxchannel.com
thumb
Eksplorasi Seismik Rugikan Pengelola Ex-Ornament di Wajo, Begini Respons Dinas Perikanan
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Piala Dunia 2026: Prancis Tekuk Senegal, Didier Deschamps Lega Menang di Laga Perdana
• 10 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.