Tahun Baru Islam: Momentum Hijrah, Berani Memulai yang Baik

metrotvnews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Hijriah. Momentum ini menjadi waktu yang tepat bagi umat Islam untuk merenungkan makna waktu, perjalanan hidup, serta keberanian untuk berhijrah menuju pribadi yang lebih baik.

Dalam program spesial Tahun Baru Islam bertajuk 'Hijrah: Berani Memulai yang Baik' di Metro TV, Selasa, 16 Juni 2026, Habib Husein Ja'far Al Hadar atau Habib Ja'far mengajak masyarakat memahami makna hijrah yang menjadi fondasi kalender Islam.

Menurut Habib Ja'far, waktu memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Hal itu terlihat dari banyaknya ayat Al-Qur'an yang menunjukkan Allah bersumpah atas nama waktu, mulai dari waktu dhuha, fajar, subuh hingga waktu secara umum dalam Surah Al-Ashr.

"Ketika Allah bersumpah atas nama waktu, pastilah waktu itu sesuatu yang penting karena menjadi sumpah bagi Zat Yang Maha Agung," ujar Habib Ja'far dalam program Tahun Baru Islam Bersama Habib Ja'far di Metro TV, Selasa, 16 Juni 2026.

Ia menegaskan, perayaan Tahun Baru Islam merupakan sesuatu yang layak dipelihara dan ditradisikan. Selain sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat waktu yang diberikan Allah, Tahun Baru Hijriah juga menjadi identitas umat Islam yang perlu dihargai.

"Boleh kita merayakan Tahun Baru Masehi dengan hal-hal yang positif, tetapi jangan sampai kita tidak merayakan Tahun Baru Islam yang menjadi identitas utama kita," katanya.
  Hijrah sebagai tonggak peradaban Habib Ja'far menjelaskan bahwa penetapan kalender Hijriah bermula pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Saat itu, kebutuhan akan sistem penanggalan yang jelas mendorong para sahabat berdiskusi menentukan peristiwa yang paling layak dijadikan titik awal kalender Islam.

Berbagai usulan muncul, termasuk menjadikan kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai penanda awal. Namun, usulan Sayyidina Ali bin Abi Thalib untuk menjadikan peristiwa hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah sebagai tonggak kalender akhirnya diterima.

Menurut Habib Ja'far, keputusan tersebut didasarkan pada pertimbangan teologis, historis, dan ideologis. Hijrah Nabi dinilai sebagai peristiwa besar yang menandai lahirnya masyarakat Islam yang lebih terbuka dan memberikan kebebasan bagi setiap orang untuk menentukan pilihannya.

"Hijrah Nabi Muhammad menjadi penanda penting tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Karena itu hijrah menjadi momentum penting bagi umat Islam," ujarnya.
  Makna hijrah dalam kehidupan Habib Ja'far menuturkan, secara bahasa hijrah berarti berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Namun secara makna, hijrah adalah perpindahan dari masa lalu menuju masa depan yang lebih baik.

Ia mengutip pesan Nabi Muhammad SAW bahwa orang yang beruntung adalah mereka yang hari ini lebih baik daripada kemarin, sedangkan orang yang merugi adalah mereka yang tidak mengalami perubahan.

Menurutnya, hijrah memiliki banyak bentuk. Hijrah bisa terjadi dalam aspek ekonomi, ketika seseorang berpindah tempat untuk mencari kehidupan yang lebih layak. Hijrah juga dapat terjadi karena keluarga, keamanan, maupun alasan-alasan lain yang diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Selain itu, hijrah juga dapat berbentuk perubahan dalam ibadah, seperti mulai menjaga salat, berzakat, dan berpuasa. Ada pula hijrah intelektual melalui kesungguhan menuntut ilmu, serta hijrah sosial yang menjadikan ibadah berdampak pada perilaku sehari-hari.

"Bukan hanya saleh secara personal, tetapi juga saleh secara sosial. Salat yang diterima seharusnya membuat seseorang tidak mudah menghakimi orang lain, tidak menyebarkan kebencian, dan tidak melakukan ghibah," kata Habib Ja'far.

Puncak dari hijrah, lanjutnya, adalah hijrah spiritual, yakni upaya terus-menerus mendekatkan hati kepada Allah dan memperkuat prasangka baik kepada-Nya.
  Perjalanan hijrah Mega Salsabillah
Komika Mega Salsabillah membagikan pengalaman hijrahnya yang berawal dari keinginan menutupi tato hingga menjadi perjalanan spiritual yang mendalam. (Foto: Dok. Metro TV)

Dalam kesempatan tersebut, Habib Ja'far juga berbincang dengan salah satu komika di Tanah Air, Mega Salsabillah yang membagikan pengalaman hijrahnya.

Mega mengaku awal mula dirinya mengenakan jilbab berangkat dari keinginan menutupi tato yang memenuhi tubuhnya. Namun, seiring waktu, proses tersebut berkembang menjadi perjalanan spiritual yang lebih mendalam.

Salah satu momen yang mengubah hidupnya adalah ketika anaknya merasa malu karena tato yang terlihat saat diantar ke sekolah.

"Anak saya pernah bilang tidak mau diantar karena teman-temannya mengejek. Dari situ saya mulai menutupi tato dan memakai jilbab," ujar Mega.

Selain anak, Mega juga menyebut doa sang ibu sebagai faktor besar yang mendorong perubahan dirinya. Ia mengaku pernah menjalani masa-masa yang sangat jauh dari nilai-nilai agama.

Menurut Mega, ibunya yang merupakan seorang mualaf selalu mendoakannya setiap malam agar mendapatkan hidayah. Ia baru menyadari arti doa tersebut setelah mengalami kecelakaan motor yang hampir merenggut nyawanya.

"Saya merasa itu jawaban dari doa ibu. Dari situ saya mulai berpikir dan berubah," katanya.
  Menjaga istikamah Bagi Mega, hijrah bukanlah bagian yang paling sulit. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga istikamah atau konsistensi.

Ia mengaku selalu berusaha mempertahankan salat sebagai fondasi utama agar tidak kembali kepada kebiasaan lama.

"Iman itu naik turun. Karena itu saya berusaha setidaknya jangan meninggalkan salat. Kalau sekali ditinggalkan, biasanya akan mudah meninggalkan yang berikutnya," ujarnya.

Mega juga mengaku pernah menghadapi cibiran dari lingkungan sekitar yang menilai perubahan dirinya sebagai sikap sok alim. Namun ia memilih menjadikan komentar tersebut sebagai pengingat agar tidak merasa lebih baik daripada orang lain.

"Setiap orang baik pasti punya masa lalu, dan setiap orang yang belum baik punya masa depan. Jadi saya anggap itu sebagai pengingat untuk terus berproses," katanya.

Habib Ja'far menilai sikap tersebut penting agar seseorang yang berhijrah tidak terjebak dalam kesombongan.

"Setiap orang yang baik pasti punya masa lalu sehingga jangan sombong dengan kebaikannya. Dan setiap orang yang belum baik punya masa depan sehingga jangan pernah putus asa," ujarnya.
  Hijrah adalah proses bertumbuh
Habib Ja'far dan Mega Salsabillah berbincang mengenai makna hijrah, istikamah, dan proses bertumbuh dalam momentum Tahun Baru Islam. (Foto: Dok. Metro TV)

Ketika ditanya mengenai makna hijrah, Mega menegaskan bahwa hijrah baginya adalah proses bertumbuh dan belajar tanpa henti.

Menurutnya, perubahan tidak hanya terjadi dalam aspek agama, tetapi juga dalam cara berpikir, kesehatan mental, hubungan sosial, hingga kehidupan ekonomi.

"Hijrah itu berkembang, bertumbuh, dan berproses. Semakin kita belajar, semakin kita memahami bahwa banyak hal yang dulu dianggap biasa ternyata tidak baik," ujarnya.

Habib Ja'far sepakat bahwa hijrah bukan terutama soal hasil, melainkan soal proses. Allah, menurutnya, menilai kesungguhan seseorang dalam memperbaiki diri, bukan semata-mata pencapaian akhirnya.

"Yang penting adalah terus berproses dengan tekad yang kuat untuk menjadi pribadi yang lebih baik," katanya.
  Tetap setia di jalan kebaikan
Diskusi Tahun Baru Islam bersama Habib Ja'far menyoroti pentingnya konsistensi dalam menjaga kebaikan dan memperbaiki diri. (Foto: Dok. Metro TV)

Menutup perbincangan, Habib Ja'far menegaskan bahwa inti hijrah adalah istikamah. Seseorang yang telah memulai perubahan harus tetap setia di jalan kebaikan meski menghadapi berbagai ujian.

Menurutnya, tidak sedikit orang yang berhenti berhijrah ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan. Padahal, justru konsistensi dalam menghadapi ujian itulah yang menjadi ukuran keberhasilan hijrah.

"Istikamah dalam kebaikan lebih baik daripada ribuan karamah. Hijrah bukan hanya tentang berpindah dari kegelapan menuju cahaya, tetapi tentang tetap setia berada di jalan kebaikan," ujar Habib Ja'far.

Ia berharap Tahun Baru Islam menjadi momentum bagi setiap orang untuk terus bertumbuh, memperbaiki diri, dan menjadikan setiap tahun sebagai langkah menuju kehidupan yang lebih baik.


                                                        


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mengenal Masjid Al Ibrahimi Hebron yang Dicaplok Israel
• 3 jam lalurepublika.co.id
thumb
Pemkab Lombok Timur Terus Tagih Piutang Pajak
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Persebaya Umumkan Lima Rekrutan Lokal Baru untuk Musim Depan
• 18 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Tanpa Awak dan Penumpang, Kapal Yacht Terdampar Misterius di Pesisir Rote Ndao
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Jerman dan Indonesia Perkuat Kemitraan Perdagangan serta Transisi Energi Lewat Sejumlah Kesepakatan Strategis
• 16 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.