RI Masuk Era Bensin Bioetanol di Tengah Tren Global yang Menguat

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Mulai 1 Juli 2026, pemerintah berencana mewajibkan SPBU di beberapa wilayah untuk memasarkan bensin dengan campuran bioetanol lima persen (E5). Kebijakan ini menjadi babak baru pengembangan bahan bakar nabati di Indonesia setelah program biodiesel berbasis sawit terus diperluas.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi di Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan mandatori E5 akan diberlakukan secara terbatas di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Lampung.

“Pada Juli, kami akan mewajibkan lima persen bioetanol (E5), tetapi hanya di beberapa lokasi saja,” ujarnya, akhir Mei lalu. Penerapannya masih terbatas karena menyesuaikan dengan produksi etanol dalam negeri. 

Pemerintah menggadang-gadang program ini sebagai strategi untuk menguatkan ketahanan dan kemandirian energi nasional karena etanol akan diproduksi dari bahan baku yang berasal dari perkebunan dalam negeri. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meminta seluruh etanol yang digunakan berasal dari produksi domestik, bukan impor. 

Di balik tujuan kemandirian energi, program bioetanol membawa ambisi lain pemerintah: pengembangan tanaman pangan dan energi dengan target menjadi eksportir untuk komoditas ini maupun turunannya.

Ambisi ini berulang kali disampaikan pemerintah era Presiden Joko Widodo saat penetapan dan pembukaan lahan untuk food estate di berbagai wilayah -- ambisi yang dilanjutkan di era Presiden Prabowo Subianto. 

Sementara ini, pemerintah dilaporkan telah mengidentifikasi tiga produsen yang mampu memasok sekitar 26 ribu kiloliter etanol fuel grade untuk tahap awal implementasi E5. Targetnya, mandatori E5 terbatas ini akan berlaku bersamaan dengan mandatori biodiesel B50 mulai 1 Juli.

Bioetanol Naik Daun Sebagai Opsi Ketahanan Energi

Setidaknya dalam dua dekade terakhir, semakin banyak negara mencampurkan etanol ke dalam bensin sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada minyak bumi, meningkatkan ketahanan energi, dan mengurangi emisi.

Bioetanol masuk dalam energi terbarukan karena berasal dari tanaman yang bisa ditanam kembali, meskipun emisinya tergantung rantai produksinya.  

Brasil menjadi salah satu negara yang telah lama mengadopsi kebijakan bioetanol. Negara itu telah mengembangkan industri bioetanol berbasis tebu sejak krisis minyak pada 1970-an.

Saat ini, bensin di Brasil mengandung campuran etanol 30 persen (E30). Kebijakan tersebut didukung oleh dominasi kendaraan flex-fuel di negara itu. Mobil jenis ini mampu beroperasi menggunakan bensin maupun etanol dengan kadar tinggi.

Amerika Serikat juga menjadi produsen sekaligus konsumen bioetanol terbesar di dunia. Mayoritas bensin yang dijual di negara tersebut mengandung etanol hingga 10 persen (E10). 

Sejak 2011, Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) mengizinkan penggunaan E15 untuk kendaraan bensin produksi tahun 2001 atau lebih baru. Namun, pompa pengisian E15 wajib diberi label khusus dan konsumen disarankan mengikuti rekomendasi kadar etanol maksimum yang tercantum dalam buku manual kendaraan.

Negara-negara Asia seperti India dan Thailand secara bertahap meningkatkan kadar campuran etanol dalam bensin. Sedangkan Jepang tengah mempersiapkan implementasinya mulai 2030.


Peta Kebijakan Bioetanol Dunia (US Grains and Bioproducts Council)
Kontroversi dan Perkembangan Bahan Baku Bioetanol

Etanol memiliki kandungan energi sekitar sepertiga lebih rendah dibandingkan bensin murni, menurut Departemen Energi AS. Akibatnya, konsumsi bahan bakar kendaraan cenderung sedikit lebih boros.

Kendaraan yang menggunakan E10 umumnya menempuh jarak sekitar 3-4 persen lebih pendek dibandingkan bensin murni, sedangkan E15 sekitar 4-5 persen lebih pendek.

Selain itu, tidak semua kendaraan kompatibel dengan kadar etanol yang lebih tinggi. Di Amerika Serikat, penggunaan E15 hanya direkomendasikan untuk kendaraan model 2001 ke atas serta kendaraan flex-fuel.

Penggunaan pada kendaraan yang tidak memenuhi spesifikasi tersebut dapat menyebabkan kerusakan mesin dan bahkan dilarang oleh regulasi federal.

Di sisi lain, pengembangan bioetanol menuai perdebatan panjang. Jika produksi dilakukan melalui ekspansi perkebunan secara besar-besaran, bioetanol berpotensi memicu konversi lahan, persaingan dengan produksi pangan, hingga hilangnya tutupan hutan. 

Karena itu, banyak negara mulai mengembangkan bioetanol generasi kedua yang memanfaatkan limbah pertanian seperti jerami, ampas tebu, atau residu biomassa sebagai bahan baku.

Bagi Indonesia, tantangannya sama: memastikan produksi bioetanol tidak mengorbankan ketahanan pangan maupun kelestarian lingkungan. Sederet lembaga think tank ekonomi dan transportasi, serta pegiat lingkungan mendorong pengembangan kendaraan umum serta elektrifikasi kendaraan sebagai solusi ketahanan dan kemandirian energi. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran vs AS Damai, Berapa Rudal dan Amunisi yang Sudah "Dibakar" Amerika?
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Drama MBG Memanas, Tiyo Ardianto dan Budiman Sudjatmiko Diminta Adu Argumen Live
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
IHSG Berpeluang Uji 6.577, Pasar Nantikan Hasil Rapat The Fed dan BI
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Secercah Harapan Pedagang Pasar Jatinegara Jelang Tahun Ajaran Baru...
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Wabah Baru Mengganas di AS, Infeksi Parasit Naik Tajam
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.