Di era ketika lebih dari setengah lajang berusia di bawah 30 tahun menggunakan aplikasi kencan, berbagai bukti menunjukkan bahwa pendekatan digital terhadap percintaan mungkin memiliki kelemahan mendasar
Amy Denney
Sarah Borsheim semakin merasa frustrasi dengan kencan online ketika seorang kenalan lama semasa SMA, Guillermo Bunze—yang sedang mencari gereja baru—menghubunginya melalui media sosial.
Dalam hitungan hari, Bunze bergabung dengannya beribadah di gereja. Setelah itu, mereka menghabiskan waktu bersama sepanjang hari dan menemukan begitu banyak kesamaan di antara mereka. Beberapa minggu kemudian, Borsheim menyadari bahwa Bunze telah menjadi orang yang paling sering ia andalkan. Lalu, dalam sebuah makan malam bersama, benih-benih cinta mulai tumbuh.
“Tiba-tiba kami bisa melihat satu sama lain dari sudut pandang yang berbeda,” kata Borsheim kepada The Epoch Times. “Kami berdua sama-sama gugup karena khawatir yang satu masih menganggap yang lain hanya sebagai teman.”
Pengalaman pasangan ini menunjukkan sebuah kebenaran tentang dunia kencan modern yang hingga kini belum mampu dipecahkan oleh algoritma: kecocokan emosional membutuhkan kedekatan fisik.
Daripada buru-buru membuat profil kencan menjelang Hari Valentine, bukti menunjukkan bahwa keberhasilan dan kepuasan yang lebih besar justru datang dari pendekatan yang telah teruji waktu: berkencan secara langsung.
Di era ketika lebih dari setengah kaum lajang berusia di bawah 30 tahun menggunakan aplikasi kencan, bukti menunjukkan bahwa pendekatan digital terhadap percintaan mungkin memiliki kelemahan mendasar karena tidak mampu memprediksi apa yang akan terjadi ketika dua orang akhirnya bertemu secara langsung.
Ketertarikan Awal Menyalakan KecocokanMenurut Joan Nwosu, pelatih kehidupan sekaligus penulis yang mengkhususkan diri dalam bidang hubungan dan kencan, percikan ketertarikan awal merupakan sinyal minat yang menjadi titik awal setiap hubungan.
“Itu adalah tingkat ketertarikan paling dasar,” katanya kepada The Epoch Times. “Itulah yang membuat orang mulai tertarik.”
Percikan ketertarikan dapat muncul baik saat bertemu secara online maupun langsung. Menurut sebuah artikel penelitian yang diterbitkan dalam Perspectives on Psychological Science, bentuk ketertarikan tersebut dapat berupa ketertarikan seksual, romantis, budaya, intelektual, maupun rasa empati.
Namun, Nwosu mencatat bahwa ketertarikan yang muncul secara online sering kali datang terlalu dini.
Bahkan orang yang berniat baik cenderung secara tidak sadar mempercantik profil mereka agar mencerminkan versi terbaik dan paling ideal dari diri mereka, dengan harapan dapat menarik pasangan yang mereka inginkan.
Sebaliknya, ketertarikan yang muncul saat bertemu langsung memberikan informasi yang jauh lebih lengkap. Menurut Nwosu, seseorang dapat merasakan energi, rasa percaya diri, selera humor, hingga tingkat kenyamanan dan rasa aman yang diberikan oleh orang lain.
Namun, yang sebenarnya dicari banyak orang bukan sekadar ketertarikan awal. Mereka mencari chemistry atau kecocokan yang lebih mendalam.
Menurut para penulis artikel tersebut, chemistry memerlukan interaksi antara dua orang atau lebih untuk menghasilkan sesuatu yang tidak bisa diciptakan sendiri oleh masing-masing individu. Hal ini mengisyaratkan bahwa chemistry pada dasarnya membutuhkan pengalaman tatap muka.
“Inilah salah satu alasan mengapa pengguna aplikasi kencan kesulitan memprediksi hanya dari membaca profil online apakah chemistry akan berkembang atau tidak,” tulis para peneliti.
“Munculnya chemistry yang bersifat spontan juga membantu menjelaskan mengapa hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang dapat diterima secara luas mengenai efektivitas algoritma pencocokan yang dipromosikan oleh sejumlah layanan kencan online.”
Para peneliti menggambarkan sifat chemistry yang spontan seperti lemparan seorang quarterback dalam sepak bola Amerika yang diarahkan tepat ke titik tempat penerima bola akan tiba pada saat yang sama dengan datangnya bola.
Selain muncul secara spontan, chemistry juga memiliki tiga karakteristik lain:
- Bersifat unik untuk satu pasangan tertentu dan tidak dapat direplikasi dengan orang lain.
- Melibatkan unsur nonverbal seperti bahasa tubuh, kontak mata, dan gerakan yang selaras.
- Berbeda dari hubungan berkualitas tinggi lainnya, termasuk ketertarikan fisik yang kuat atau ikatan dengan keluarga dan teman.
Chemistry menciptakan hubungan yang sering digambarkan sebagai “magnetis”—sesuatu yang dapat terlihat melalui karisma, keaslian diri, dan kelancaran percakapan.
Menghindari “Titik Balik” yang BerbahayaPara pengguna aplikasi kencan yang umumnya melaporkan tingkat kepuasan hubungan dan rasa cinta yang lebih rendah dapat meningkatkan peluang mereka dengan segera menjadwalkan pertemuan langsung.
Sebuah penelitian dalam Journal of Computer-Mediated Communication menyebut adanya fenomena yang disebut “tipping point” atau titik balik.
Ketika seseorang terlalu lama menjalin komunikasi online tanpa bertemu, ia akan membangun gambaran ideal tentang pasangannya. Akibatnya, saat akhirnya bertemu langsung, ia kesulitan menerima perbedaan antara orang nyata dan sosok yang selama ini ia bayangkan.
“Titik balik ini kemungkinan mencerminkan terbentuknya kesan yang terlalu ideal sehingga pengguna aplikasi kencan lebih rentan mengalami kekecewaan dan ketidakpastian saat pertemuan pertama,” tulis para peneliti.
Dengan kata lain, semakin lama seseorang hidup dalam bayangan ideal tentang calon pasangan, semakin besar kemungkinan pertemuan langsung terasa mengecewakan.
Borsheim mengalami hal itu secara langsung.
Saat menggunakan aplikasi kencan, ia biasanya membiarkan pria yang menentukan kapan mereka akan bertemu. Dalam salah satu hubungan, mereka bertukar pesan selama sebulan sebelum bertemu, dan ternyata itu terlalu lama. Hubungan tersebut pun berakhir pada bulan ketiga.
“Kami sangat nyambung secara online, sering mengobrol lewat pesan,” katanya.
“Namun saat bertemu langsung, semuanya membutuhkan waktu lebih lama, dan kami tidak benar-benar bisa berinteraksi dengan baik.”
Acara yang Dikurasi: Alternatif yang Lebih BaikSebagian kaum lajang kini mulai meninggalkan aplikasi kencan dan beralih ke acara tatap muka yang dirancang secara khusus.
Kristy Sims, yang terinspirasi oleh pengalaman buruknya sendiri dalam dunia kencan dan merasa terpanggil untuk membantu para lajang, mendirikan The Table Collective. Organisasi ini mengadakan jamuan makan malam bergaya klasik lengkap dengan musik live di sebuah rumah bersejarah untuk para lajang Kristen di komunitasnya.
“Saya ingin menciptakan sesuatu yang membawa kita kembali ke masa lalu, ketika cara berkencan berbeda, ketika pria benar-benar mendekati wanita dan berusaha memenangkan hatinya,” kata Sims kepada The Epoch Times.
Acara tersebut mencakup sesi berbaur sambil menikmati makanan ringan, makan malam bersama, serta pertanyaan pemancing percakapan di setiap meja.
Peserta sering mengatakan kepada Sims bahwa mereka tidak ingin acara itu berakhir.
Sebelum pulang, setiap peserta mengisi selembar formulir dan menandai foto peserta lawan jenis yang membuat mereka merasakan ketertarikan.
Metodenya mirip surat “Maukah kamu berkencan denganku?” yang dulu sering beredar di sekolah. Bedanya, hanya Sims yang melihat hasilnya, dan hanya pasangan yang sama-sama memilih satu sama lain yang akan diberi tahu.
Sejauh ini, metode tersebut terbukti berhasil.
Acara pertama menghasilkan tingkat kecocokan timbal balik sebesar 93 persen. Pada acara-acara berikutnya, tingkat kecocokan berkisar sekitar 70 persen.
“Dalam lima menit saja, rumah itu sudah dipenuhi tawa dan kegembiraan,” kata Sims.
“Melihatnya secara langsung sungguh luar biasa, dan sebagian besar terjadi secara alami.”
Nwosu juga lebih mendukung model acara yang dikurasi dibandingkan aplikasi kencan maupun speed dating, yang menurutnya sering menciptakan suasana putus asa untuk mendapatkan perhatian.
Kegiatan yang berpusat pada minat bersama seperti mendaki gunung atau klub buku memungkinkan orang tampil lebih alami dan santai, sehingga lebih mudah mengenal orang lain dan mengajukan pertanyaan yang bermakna.
Pertemuan Langsung Meningkatkan Kepercayaan DiriMenurut Sims, salah satu dampak menarik dari penyelenggaraan acara untuk para lajang adalah melihat perubahan sosial pada peserta yang sudah bertahun-tahun tidak berkencan—bahkan ada yang tidak berkencan selama 30 tahun.
Ia mendengar banyak peserta mulai mengalami interaksi yang lebih alami dalam kehidupan sehari-hari mereka.
“Mereka tampil berbeda di tengah masyarakat,” katanya.
“Mereka menjadi lebih terbuka dan berkata, ‘Saya bisa melakukannya. Saya berharga. Saya merasa percaya diri.’”
Sebagian besar pekerjaan Nwosu adalah membantu orang mempersiapkan diri untuk berkencan.
Ia melihat banyak orang meniru perilaku orang lain dengan harapan strategi tersebut akan berhasil bagi mereka.
Sebaliknya, ia membantu klien memahami jati diri mereka yang sebenarnya agar dapat menarik tipe pasangan yang benar-benar mereka inginkan.
Nwosu juga sering membantu menghapus pola pikir sosial yang mengajarkan, misalnya, bahwa pria hanya menginginkan wanita yang pendiam, lembut, selalu bahagia, dan feminin.
“Lalu tiga bulan kemudian, Anda tidak bisa terus diam, dan pria itu bertanya-tanya, ‘Siapa sebenarnya wanita ini?’” katanya.
Meskipun rasa percaya diri dan keaslian diri dapat meningkatkan pengalaman berkencan online, Nwosu tetap memperingatkan sebagian besar orang agar tidak terlalu bergantung pada platform tersebut.
Menurutnya, terutama bagi perempuan, ada kecenderungan untuk memaksakan gambaran ideal tentang pasangan agar menjadi kenyataan. Namun hasilnya sering kali sama mustahilnya seperti saudara tiri Cinderella yang berusaha memaksakan kaki mereka masuk ke sepatu kaca milik Cinderella.
Menjaga Chemistry Tetap HidupKencan tatap muka tidak hanya membantu munculnya chemistry, tetapi juga memungkinkan percakapan yang panjang dan autentik yang diperlukan untuk menilai kecocokan jangka panjang.
Membahas tujuan hidup dan impian masa depan merupakan bagian penting dari proses berkenalan.
Menurut Nwosu, terlalu banyak orang berfokus pada chemistry dan kecocokan, tetapi melupakan apa yang ia sebut sebagai keselarasan sadar (conscious alignment)—yaitu dua orang yang ingin tumbuh dan berkembang ke arah yang sama.
“Semakin banyak hubungan yang berakhir karena orang baru tersadar setelah 20 tahun bahwa hubungan itu tidak berjalan baik,” katanya.
“Ketika Anda bertanya mengapa, jawabannya selalu sama: hidup kami berjalan ke arah yang berbeda. Saya benar-benar ingin membantu menyelesaikan masalah ini bagi generasi berikutnya.”





