Mahalnya Biaya Pendidikan Perguruan Tinggi di Tengah Ekonomi Indonesia yang Lesu

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Biaya pendidikan perguruan tinggi menjadi salah satu persoalan yang semakin membebani masyarakat Indonesia. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan anak hingga jenjang perguruan tinggi.

Tidak sedikit siswa yang telah bekerja keras dan berprestasi demi meraih kampus impian mereka, namun pada akhirnya harus menghadapi kenyataan akan tingginya biaya pendidikan yang menjadi penghalang untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi dan mengubur mimpinya.

Keluhan akan mahalnya biaya kuliah ini bukanlah hal baru. Namun, yang membuat situasi ini terasa lebih berat dari sebelumnya adalah perekonomian Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja.

Melemahnya daya beli masyarakat, harga kebutuhan pokok terus-menerus mengalami kenaikan, serta minimnya lapangan pekerjaan membuat kondisi keuangan keluarga semakin tertekan.

Mengapa Biaya Pendidikan Perguruan Tinggi Semakin Mahal?

Ketika tagihan Uang Kuliah Tunggal (UKT) harus dibayarkan, tidak sedikit keluarga yang terpaksa mengatur ulang pengeluaran, mencari pinjaman, atau bahkan mengorbankan kebutuhan lain demi memastikan anak mereka tetap dapat melanjutkan pendidikan.

Kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang terjadi di berbagai perguruan tinggi negeri dalam beberapa tahun terakhir memang memicu gelombang protes dari mahasiswa dan masyarakat. Namun, biaya pendidikan sebenarnya tidak hanya tentang UKT. Mahasiswa juga harus menghadapi berbagai pengeluaran lain, ada biaya kos, transportasi, buku, kuota internet, hingga berbagai pengeluaran tak terduga dan kebutuhan penunjang perkuliahan lainnya.

Bagi keluarga berpenghasilan menengah ke bawah, biaya tersebut sering kali menjadi dilema yang memaksa keluarga menentukan prioritas antara membiayai pendidikan anak atau memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam kondisi ini, banyak mahasiswa yang harus bekerja paruh waktu sebagai penjaga toko, kurir, pelayan, atau pekerjaan sampingan lainnya untuk membantu menutupi biaya kuliah dan kebutuhan hidup.

Kuliah sambil bekerja bukan lagi sekadar sarana menambah pengalaman, melainkan menjadi sebuah tuntutan keadaan. Ada pula yang memilih menunda kuliah, berharap situasi ekonomi keluarga akan membaik di masa mendatang. Sayangnya, tidak semua dari mereka memiliki kesempatan untuk kembali melanjutkan studi yang sempat tertunda.

Dampak Mahalnya Biaya Kuliah terhadap Akses Pendidikan

Yang lebih mengkhawatirkan ialah dampak yang ditimbulkan. Semakin rendah kondisi ekonomi keluarga, semakin sulit pula akses mereka terhadap pendidikan tinggi. Akibatnya, kesempatan untuk kuliah kini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan atau prestasi, tetapi juga semakin dipengaruhi oleh kondisi ekonomi keluarga.

Pendidikan tinggi selama ini dianggap sebagai tangga mobilitas sosial yang memungkinkan seseorang memperbaiki kehidupannya. Namun, ketika biaya kuliah terus meningkat sementara kondisi ekonomi masyarakat kian memburuk, membuat akses terhadap pendidikan tinggi menjadi tidak merata. Mahasiswa dari keluarga mampu tetap memiliki peluang besar untuk masuk ke perguruan tinggi impian mereka, sedangkan mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu sering kali terhambat bahkan sejak tahap pendaftaran.

Program Bantuan Pendidikan Belum Sepenuhnya Tepat Sasaran

Pemerintah telah menghadirkan berbagai program bantuan, seperti KIP-K dan KJMU, sebagai bentuk tanggung jawab negara untuk menjaga akses pendidikan bagi mahasiswa dari keluarga yang kurang mampu. Namun, dalam praktiknya masih banyak terdapat berbagai persoalan.

Tidak jarang bantuan tersebut justru diterima oleh mereka yang relatif mampu, sementara, mahasiswa yang benar-benar mengalami kesulitan ekonomi tidak terdata sebagai penerima. Akibatnya, bantuan yang seharusnya menjadi solusi belum selalu menjangkau mereka yang paling membutuhkan.

Di berbagai kampus, masih ada mahasiswa yang harus berhemat secara ekstrem, bekerja sambil kuliah, bahkan mempertimbangkan berhenti kuliah karena keterbatasan biaya. Karena itu, yang dibutuhkan bukanlah penghapusan program bantuan, melainkan perbaikan mekanisme seleksi dan pengawasan. Data penerima perlu diperbarui secara berkala, proses verifikasi harus lebih akurat agar bantuan benar-benar sampai kepada mahasiswa yang berhak menerimanya.

Menjaga Pendidikan Tinggi Tetap Terjangkau bagi Semua

Pendidikan seharusnya menjadi jalan bagi seseorang untuk memperbaiki masa depan mereka. Namun, jika biaya kuliah semakin sulit dijangkau, kesempatan tersebut hanya akan dinikmati oleh mereka yang memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik. Akibatnya, banyak anak muda yang memiliki kemampuan dan semangat belajar terpaksa mengubur impiannya karena keterbatasan biaya.

Di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit, menjaga agar pendidikan tinggi tetap dapat diakses oleh semua kalangan bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah kewajiban. Sebab, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa mahal biaya kuliah tetapi oleh seberapa luas kesempatan untuk mengaksesnya.

Di tengah ekonomi yang lesu, menjaga pintu pendidikan tetap terbuka lebar itu adalah kewajiban.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Trevoh Chalobah dipanggil Inggris gantikan Tino Livramento yang cedera
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Kronologi Kematian Satu Keluarga di Temanggung Akhirnya Terkuak: Bukan Keracunan Makanan atau Gas Portabel
• 23 jam lalugrid.id
thumb
Gaji dan TPP ke-13 ASN Pemprov Jatim Cair Secara Bertahap
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Sebut Program MBG Ada Indikasi Pelanggaran HAM, Komnas HAM Disemprot Pigai
• 49 menit lalurepublika.co.id
thumb
Wali Kota Makassar Ajak Warga Tinggalkan Perbedaan dan Perkuat Persatuan Sambut Tahun Baru Islam
• 21 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.