Pertalite Langka, Angkutan Perdesaan di NTT Berhenti Beroperasi

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

KUPANG, KOMPAS — Kelangkaan bahan bakar minyak bersubsidi jenis Pertalite menyebabkan mobilitas barang dan penumpang dari berbagai wilayah perdesaan menuju Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, terganggu. Akibatnya, roda perekonomian masyarakat ikut terdampak. Pertamina pun diminta menjelaskan kondisi yang sebenarnya terjadi.

”SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum) yang kami datangi di mana-mana tidak menjual Pertalite dengan alasan stok habis. Kami tidak tahu harus mencari ke mana lagi,” kata Maxi (40), sopir angkutan rute Amarasi (Kabupaten Kupang)-Kota Kupang, Rabu (17/6/2026).

Setiap hari, Maxi mengangkut warga yang membawa hasil kebun dari kampung ke Kota Kupang. Kebutuhan bahan bakarnya sedikitnya 10 liter per hari. Dengan harga Pertalite Rp 10.000 per liter, biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 100.000. Ia menggunakan mobil bak terbuka yang dipasangi tenda untuk mengangkut penumpang dan barang.

Namun, kini, setibanya di SPBU, para pengendara diarahkan untuk membeli BBM nonsubsidi, yakni jenis Pertamax. Padahal, beberapa hari lalu harga Pertamax dinaikkan pemerintah dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Dengan uang Rp 100.000, Maxi kini hanya bisa memperoleh sekitar 6 liter Pertamax.

Ada opsi untuk menaikkan tarif angkutan yang saat ini sebesar Rp 25.000 per penumpang. Namun, Maxi tidak ingin mengambil pilihan tersebut. ”Masyarakat sudah susah. Kalau sampai tarif naik lagi, hidup mereka akan semakin berat,” katanya.

Tokoh masyarakat Kabupaten Kupang, Vinsen Bureni, menyayangkan ketiadaan Pertalite di daerah itu. Ia menilai, berkurangnya pasokan Pertalite merupakan strategi pemerintah untuk memaksa masyarakat membeli BBM nonsubsidi jenis Pertamax. Kondisi ini, menurut dia, semakin menggerus kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Serial Artikel

Di Kupang, Warga Berebut Minyak Tanah

Harga minyak tanah di level pengecer mencapai Rp 10.000 per liter. Di sisi lain, harga tukar gas kemasan 12 kg mencapai Rp 455.000 per tabung.

Baca Artikel

Pemerintah, lanjutnya, secara terbuka menyatakan harga Pertalite tidak naik demi melindungi kelompok masyarakat menengah ke bawah. Namun, di sisi lain, kuota Pertalite justru berkurang sehingga masyarakat terpaksa membeli Pertamax dengan harga yang jauh lebih mahal.

Vinsen mendorong Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi NTT segera memanggil Pertamina untuk meminta penjelasan. ”Jangan biarkan kondisi ini berlarut-larut karena kehidupan masyarakat semakin susah dari hari ke hari,” katanya.

Sementara itu, Area Manager Communication, Relations, and CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) Ahad Rahedi dalam keterangan tertulis, Senin (15/6/2026), menyatakan stok Pertalite di Kupang aman dan mencukupi. Terkait sejumlah SPBU yang kehabisan stok, terminal BBM disebut telah mendistribusikan pasokan ke seluruh SPBU di Kota Kupang.

Ia menjamin pasokan Pertalite tetap tersedia. Masyarakat diimbau membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan panic buying. Adapun rata-rata konsumsi Pertalite di NTT saat ini mencapai 892.000 liter per hari.

”Ketahanan stok Pertalite per hari ini mencapai 10 hari ke depan. Namun, stok bersifat dinamis karena secara berkala ada suplai dari kapal, kilang, dan distribusi melalui terminal BBM yang beroperasi setiap hari,” ujar Ahad.

Seperti diberitakan sebelumnya, stok Pertalite di sejumlah SPBU di Kupang habis. ”Pertalite habis. Kalau mau, isi Pertamax saja,” kata petugas di sejumlah SPBU yang didatangi Kompas.

Pertalite merupakan BBM bersubsidi dengan harga Rp 10.000 per liter. Adapun Pertamax merupakan BBM nonsubsidi. Pekan lalu, pemerintah menaikkan harga Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter.

Karena harga Pertamax jauh lebih mahal, banyak pengendara memilih meninggalkan SPBU tanpa mengisi bahan bakar. Mereka mengaku tidak sanggup membeli Pertamax. Kekecewaan pun muncul karena mereka menilai pemerintah sengaja mengurangi kuota Pertalite sehingga pengguna Pertalite dipaksa beralih ke Pertamax.

Mereka kemudian mencari Pertalite eceran yang dijual di pinggir jalan. Saat ini, 1 liter Pertalite dijual sekitar Rp 12.000. Harga tersebut juga berpotensi naik seiring berkurangnya pasokan. Para pengecer umumnya memperoleh stok dari SPBU.

Serial Artikel

Stok Pertalite di Kupang Sering Habis, Pertamina Jamin Pasokan

SPBU di Kupang kerap kehabisan Pertalite. Sejumlah pengendara kecewa dan tak sanggup kalau harus beralih ke Pertamax karena harganya mahal.

Baca Artikel

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rute Alternatif Jakarta Pusat saat Demo Hari Ini, Hindari Kawasan Thamrin hingga Bundaran HI
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
PPATK Minta Tambahan Anggaran Rp 516 Miliar untuk 2027 Buat Berantas TPPU
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Vdieo: Emas Perhiasan Vs Logam Mulia,Mana Yang Paling Dicari Warga RI?
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Singgung Ronaldo dan Mbappe, Ini Respons Lionel Messi Usai Samai Rekor Topskorer Piala Dunia
• 58 menit lalutvonenews.com
thumb
Kyiv Diguyur Rudal Rusia, 11 Tewas dan Biara Terbakar
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.