JAKARTA, KOMPAS — Setelah melonjak signifikan sebesar 4,21 persen pada Senin lalu, bursa saham paruh pertama perdagangan Rabu (17/6/2026), belum menunjukkan kelanjutan reli atau kenaikan.
Hal ini ditengarai akibat sikap wait and see para pelaku pasar yang mengantisipasi arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), serta sejumlah sentimen fiskal dari dalam negeri.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 52 poin atau minus 0,84 persen ke level 6.202, pada perdagangan sesi I. Berdasarkan sektor usaha, hanya saham dari sektor primer yang tumbuh positif. Sektor primer ini antara lain memuat saham minyak sawit dan barang konsumsi cepat habis lainnya, Pelemahan terjadi kendati investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebanyak Rp 2,59 triliun.
Berdasarkan data riset Pilarmas Sekuritas Investindo dan Kiwoom Sekuritas Indonesia, investor saat ini menaruh perhatian penuh pada rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang dimulai Rabu (17/6).
Rapat tersebut menjadi sangat penting karena akan mengambil keputusan perdana Bank Sentral AS, The Fed, di bawah kepemimpinan Gubernur baru, Kevin Warsh.
Para pejabat The Fed, menurut catatan mereka, diperkirakan bakal mempertahankan suku bunga tidak berubah, antara 3,5 persen hingga 3,75 persen. Namun, sebanyak 55 persen pengelola dana (fund manager) global dalam survei Bank of America memperkirakan Kevin Warsh akan tetap mempertahankan nada kebijakan yang ketat (hawkish) demi mengawal prospek inflasi.
Hasil rapat The Fed akan diumumkan pada Kamis (18/6), bersamaan dengan pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI).
"Fokus investor kini tertuju pada keputusan FOMC dan proyeksi ekonomi terbaru dari Federal Reserve. Arah pasar akan lebih ditentukan oleh komentar Kevin Warsh mengenai inflasi dan prospek kebijakan moneter ke depan," tulis analis Citigroup dalam riset Kiwoom Sekuritas, Rabu (17/6/2026).
Pilarmas Sekuritas juga menilai, beberapa prospek perbaikan fiskal belum mampu menahan aksi ambil untung dan sikap berhati-hati pelaku pasar di lantai bursa.
Menurut mereka, pelaku pasar selayaknya memberi respons positif terhadap langkah strategis pemerintah untuk mengkaji dan memangkas anggaran serta jumlah penerima program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah rasionalisasi yang dilakukan pemerintah RI ini memang positif karena berpotensi mengurangi beban APBN secara signifikan, memperluas ruang fiskal, dan memastikan defisit anggaran tetap terjaga dengan aman di bawah batas 3 persen PDB.
Tekanan eksternal sebenarnya juga mereda seiring merosotnya harga minyak mentah dunia di bawah 80 dolar AS per barel. Penurunan ini dipicu oleh rencana penandatanganan kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran di Swiss pada hari Jumat mendatang. Kesepakatan ini mencakup pemberian insentif ekonomi serta pemulihan segera ekspor minyak Teheran melalui Selat Hormuz.
Minyak mentah jenis Brent jatuh 4,1 persen ke level 79,79 dolar AS per barel, yang secara tidak langsung ikut memberikan ruang penguatan bagi mata uang rupiah ke posisi Rp 17.704 per dolar AS.
"Pasar sedang menilai ketahanan perjanjian tersebut dan jangka waktu normalisasi pengiriman melalui Selat, meredanya ketegangan di Timur Tengah, dan menurunnya tekanan harga minyak. Ini membantu meredakan kekhawatiran atas pertumbuhan ekonomi global," kata Tim Analis Pilarmas Sekuritas.
Faktor lain yang diperkirakan menahan laju IHSG di zona merah adalah kehati-hatian pasar mengantisipasi agenda rebalancing indeks FTSE Russell serta keputusan evaluasi dari MSCI (Morgan Stanley Capital International).
Investment Analyst Lead Stockbit Group, Edi Chandren, dalam ulasannya hari ini, menjelaskan, keputusan review MSCI pada 18 dan 23 Juni 2026 waktu Eropa (atau dini hari 19 dan 24 Juni WIB) akan menjadi penentu krusial arah pemulihan IHSG.
Pasar cemas menanti apakah status Indonesia akan dipertahankan dalam kategori emerging market atau justru diturunkan statusnya ke frontier market.
Pasar menanti dua isu utama, yakni kemungkinan pencabutan pembekuan (freeze) penambahan konstituen ke dalam indeks serta status klasifikasi pasar saham Indonesia.
"Pasar cemas menanti apakah status Indonesia akan dipertahankan dalam kategori emerging market atau justru diturunkan ke status pasar perbatasan (frontier market). Pengumuman Global Market Accessibility Review dan Annual Market Classification Review ini akan sangat menentukan arah jangka panjang," ujar Edi.
Stockbit menilai, terdapat beberapa skenario yang diantisipasi pasar. Skenario positif akan terjadi jika pembekuan dicabut dan status emerging market dipertahankan, yang akan direspons pasar dengan penguatan masif.
Namun, jika status pembekuan dipertahankan tanpa adanya kepastian keterbukaan data emiten tambahan, kondisi status quo ini diprediksi hanya akan memberikan dampak netral hingga sedikit negatif bagi indeks.
Melihat situasi pasar yang kembali fluktuatif, Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengingatkan, penguatan tajam yang terjadi sebelumnya hanyalah momentum pemulihan sentimen sesaat. Pemerintah dan otoritas moneter harus mampu mengubah sentimen jangka pendek ini menjadi basis kepercayaan yang permanen melalui transparansi fiskal dan komunikasi kebijakan yang jelas.
"Pemerintah perlu terus menunjukkan kredibilitas anggaran, terutama dalam menjelaskan sumber pembiayaan program-program besar dan pengelolaan risiko subsidi energi. Kepastian aturan main dan peta jalan (roadmap) ekonomi yang konsisten sangat dibutuhkan agar investor global tidak menjatuhkan penalti berupa keluarnya modal asing," tegas Josua kepada Kompas.
Otoritas pasar juga diharapkan mempercepat reformasi pasar modal secara struktural, mulai dari meningkatkan perlindungan investor, memperbaiki tata kelola emiten, hingga memperdalam basis investor domestik agar IHSG tidak terlalu rapuh saat terjadi guncangan sentimen global.
Untuk memitigasi risiko di tengah volatilitas ini, Kiwoom Research merekomendasikan pelaku pasar untuk tetap konservatif dan tidak terburu-buru melakukan akumulasi agresif (average up) sebelum IHSG berhasil menembus secara kokoh level psikologis penting di 6.300.
Jika seluruh rentetan sentimen dari keputusan suku bunga, rebalancing FTSE, hingga evaluasi MSCI dapat dilalui dengan hasil positif, target IHSG untuk kembali menuju rentang 6.700–6.800 pada triwulan III-2026 masih cukup realistis.





