REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tahun baru Hijriyah, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Fahrur Rozi mengajak umat Islam menjadikan momentum ini sebagai sarana muhasabah dan memperbaiki diri. Menurut Gus Fahrur, hijrah yang paling dibutuhkan saat ini adalah perubahan sikap menuju persatuan, kepedulian sosial, dan semangat membangun kehidupan yang lebih baik.
Gus Fahrur mengatakan umat Islam perlu menjadikan momentum ini sebagai sarana muhasabah dan memperbaiki diri. Hijrah yang paling dibutuhkan hari ini bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perpindahan sikap dari saling menyalahkan menuju saling menguatkan, dari menyebarkan kebencian menuju menebarkan kebaikan, dan dari sikap konsumtif menuju kerja keras serta kemandirian.
Baca Juga
Mengenal Masjid Al Ibrahimi Hebron yang Dicaplok Israel
Israel Caplok Masjid Ibrahimi di Hebron
Kisah Hijrah Pertama, Raja Nasrani Menyambut Hangat Para Sahabat Nabi
"Di tengah tantangan ekonomi, derasnya arus media sosial, dan berbagai perubahan sosial, umat Islam perlu memperkuat iman, akhlak, persaudaraan, dan kepedulian kepada sesama, terutama kepada kaum lemah dan mereka yang sedang mengalami kesulitan," kata Gus Fahrur kepada Republika, Senin (15/6/2026).
Gus Fahrur menegaskan, persatuan bangsa harus terus dijaga dengan semangat keadilan, musyawarah, dan saling menghormati. Perbedaan jangan menjadi alasan perpecahan, tetapi menjadi kekuatan untuk bersama-sama membangun Indonesia yang lebih baik.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Sebelumnya, Menteri Agama (Menag) KH Nasaruddin Umar mengajak umat Islam menjadikan Tahun Baru Hijriyah 1448 H sebagai momentum memperkuat persaudaraan, menebarkan cinta kasih, dan menghadirkan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Menag saat menghadiri kegiatan Menyambut Tahun Baru Hijriyah 1448 H bertema "Menguatkan Cinta Islam dan Islam Cinta" di Masjid Al Jabbar, Kota Bandung, Selasa (9/6/2026). Kegiatan tersebut dihadiri ribuan jamaah dari berbagai daerah di Jawa Barat.