Presiden Rusia Vladimir Putin menjadi tuan rumah pertemuan dengan para pemimpin negara ASEAN mulai Rabu (17/6). KTT Rusia-ASEAN di Kazan digelar saat negara-negara Barat lewat G7 menekan Rusia untuk mengakhiri perang di Ukraina.
KTT tersebut akan dimanfaatkan Putin untuk memperkuat hubungan ekonomi dan politik dengan negara-negara Asia Tenggara.
Pertemuan Rusia-ASEAN digelar di Kazan, ibu kota Republik Tatarstan, yang berjarak sekitar 700 kilometer dari Moskow. Pada saat yang sama, para pemimpin negara-negara dengan perekonomian terbesar yang tergabung dalam G7 menggelar KTT di Prancis.
Salah satu fokus utama pertemuan G7 adalah mencari jalan untuk mengakhiri perang di Ukraina yang pecah setelah Rusia melancarkan serangan ke negara itu empat tahun lalu. Kemudian para pemimpin G7 sepakat memperkuat tekanan agar Rusia mengakhiri serangan ke Ukraina.
Sementara itu, Rusia menyatakan bahwa pertemuan dengan para pemimpin Asia Tenggara di Kazan ditujukan untuk memperingati 35 tahun hubungan ASEAN-Rusia.
Kremlin melaporkan Thailand, Vietnam, Kamboja, Laos, Malaysia, dan Singapura mengirimkan perdana menteri mereka ke Kazan. Sementara Filipina akan diwakili langsung oleh Presiden Ferdinand Marcos Jr.
Salah satu peserta yang menarik perhatian adalah Myanmar. Negara yang memiliki hubungan dekat dengan Rusia dan juga menghadapi isolasi dari Barat akibat kudeta militer itu dipastikan mengirimkan delegasi ke Kazan.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono telah tiba di Kazan sejak Selasa (16/6) waktu setempat.
Menurut pernyataan resmi Pemerintah Rusia, para pemimpin akan bertukar pandangan mengenai berbagai isu global dan regional selama KTT berlangsung.
"Ini untuk menetapkan tujuan baru dalam hubungan Rusia-ASEAN di bidang keamanan, perdagangan, investasi, dan kerja sama kemanusiaan," ujar Pemerintah Rusia seperti dikutip Reuters.
Sementara itu, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan pertemuannya di Rusia juga akan dimanfaatkan untuk membahas pasokan energi. Sejumlah negara Asia menghadapi tekanan energi akibat gejolak di Timur Tengah.
Di saat yang sama, Rusia yang merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia menjadikan Asia sebagai pasar utama ekspor minyaknya di tengah sanksi Barat.
"Kami ingin memastikan pasokan minyak dapat terus disalurkan ke Malaysia," ujar Anwar Ibrahim.





