Rahasia yang Tidak Pernah Dibicarakan tentang Gaji Guru Honorer

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Setiap kali muncul berita tentang guru honorer yang menerima gaji Rp300 ribu, Rp500 ribu, atau angka-angka lain yang membuat publik mengelus dada, reaksi yang muncul hampir selalu sama. Orang marah, merasa iba, lalu mencari pihak yang harus disalahkan. Ada yang menyalahkan pemerintah, ada yang menyalahkan sekolah, dan ada pula yang menyalahkan yayasan.

Namun setelah bertahun-tahun berada di dunia pendidikan, mulai dari guru honorer hingga kepala sekolah, saya sampai pada sebuah kesimpulan yang mungkin tidak populer.

Saya tidak sedang berbicara berdasarkan teori. Saya berbicara berdasarkan pengalaman.

Ketika Saya Pertama Kali Menjadi Guru Honorer

Tahun 2011, saya masih berstatus mahasiswa dan masih satu tahun lagi menyelesaikan kuliah. Pada tahun itulah saya pertama kali mengajar di sebuah SMP swasta di Jakarta Utara.

Beban mengajar saya cukup besar, yakni 36 jam pelajaran per minggu, enam hari kerja, atau rata-rata enam jam pelajaran per hari. Pihak sekolah menjelaskan bahwa saya akan menerima honor berdasarkan jumlah jam pelajaran yang saya ajarkan. Tarif yang disebutkan kepada saya adalah Rp30.000 per jam pelajaran.

Sebagai orang yang terbiasa berpikir logis dan kritis, saya tentu menghitungnya sendiri. Jika saya mengajar 36 jam pelajaran per minggu dan setiap jam dihargai Rp30.000, maka dalam satu minggu saya memperoleh Rp1.080.000. Dalam satu bulan, angka itu seharusnya menjadi sekitar Rp4.320.000. Setidaknya itulah logika yang saya pahami.

Namun ketika gaji pertama saya diterima, saya terkejut. Yang saya terima hanya sekitar Rp1.080.000 ditambah sedikit biaya transportasi.

Saya memilih diam terlebih dahulu. Bukan karena setuju, melainkan karena ingin memastikan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Ketika Saya Mulai Bertanya

Bulan berikutnya saya mulai bertanya kepada guru-guru lain. Jawaban yang saya terima beragam. Sebagian menjawab singkat, "Memang segitu gajinya." Sebagian lagi mulai berpikir ulang setelah diajak menghitung.

Saya kemudian menemui kepala sekolah. Saya tidak datang untuk meminta kenaikan gaji. Saya datang untuk meminta penjelasan.

Saya mengatakan kepada beliau, "Kalau dari awal saya diberi tahu bahwa honor saya hanya seribu rupiah per jam dan saya menyetujuinya, itu tidak masalah. Tetapi saya mengajar empat minggu dalam satu bulan, bukan satu minggu."

Bagi saya, persoalannya bukan besar atau kecilnya tarif. Persoalannya adalah logika perhitungan. Jika honor dihitung berdasarkan jam mengajar, maka seluruh jam mengajar selama satu bulan seharusnya ikut dihitung, bukan hanya jam mengajar dalam satu minggu.

Kepala sekolah tampak tidak nyaman. Bahkan beliau meminta saya agar tidak membicarakan hal ini kepada guru-guru lain. Tidak lama kemudian persoalan tersebut dibahas dengan bendahara yayasan. Hasilnya cukup mengejutkan. Gaji saya diperbaiki dan akhirnya dikalikan empat.

Ketika Guru-Guru Lain Memilih Diam

Setelah itu saya tidak menyimpan informasi tersebut untuk diri sendiri. Saya menceritakannya kepada guru-guru lain dan mengajak mereka mempertanyakan hal yang sama.

Namun hampir tidak ada yang berani. Padahal sebagian besar dari mereka sudah mengajar jauh lebih lama daripada saya. Ada yang sudah lima tahun, bahkan lebih. Sementara saya baru satu bulan.

Saat itulah saya belajar satu hal penting: orang yang paling lama berada dalam sebuah sistem belum tentu menjadi orang yang paling berani mempertanyakannya. Ketidakadilan sering bertahan bukan karena dianggap benar, melainkan karena sudah dianggap biasa.

Ketika Saya Ditawari Menjadi Pegawai Tetap

Setelah persoalan itu selesai, saya mendapat kejutan lain. Kepala sekolah dan yayasan menawarkan agar saya menjadi pegawai tetap lebih cepat. Padahal pada saat itu status pegawai tetap merupakan sesuatu yang sangat diidam-idamkan oleh banyak guru honorer. Biasanya seseorang harus menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkannya.

Saya menolak.

Kemudian mereka menawarkan negosiasi gaji. Saya menolak lagi.

Saya mengatakan bahwa saya tetap akan mengundurkan diri pada akhir semester.

Mengapa? Karena bagi saya, persoalannya bukan tentang saya. Persoalannya adalah sistem. Jika hanya saya yang diperbaiki sementara yang lain tetap mengalami hal yang sama, maka masalah yang sebenarnya belum selesai.

Sekolah Kedua dan Temuan yang Sama

Pada tahun 2012, saya ditawari mengajar di sebuah sekolah lain di Jakarta Pusat. Saya tidak melamar. Saya diminta datang langsung oleh salah seorang pengurus yayasan.

Ketika membahas soal gaji, saya mendapatkan informasi yang menarik. Untuk saya, mereka tidak menggunakan skema honor per jam pelajaran. Saya diberi paket gaji bulanan.

Saat itu saya sudah memahami apa arti keputusan tersebut. Mereka tahu saya akan mempertanyakan logika perhitungan honor.

Namun selama satu tahun mengajar di sana, saya juga mengetahui hal lain. Guru-guru lain tetap menerima pola yang sama seperti yang pernah saya temui di Jakarta Utara.

Di titik itulah keyakinan saya semakin kuat bahwa praktik tersebut bukan kasus tunggal.

Ketika Saya Menjadi Kepala Sekolah

Setelah satu tahun mengajar, saya diangkat menjadi kepala sekolah. Namun perlu saya tegaskan, saya tidak mengetahui sistem itu karena menjadi kepala sekolah. Sebaliknya, saya menjadi kepala sekolah setelah lebih dulu mengetahui sistem itu.

Ketika tawaran tersebut datang, saya mengajukan syarat yang sederhana. Saya meminta yayasan menerapkan perhitungan yang benar terhadap seluruh guru atau memberikan pilihan lain yang lebih transparan.

Yayasan menyetujui syarat tersebut. Karena itulah saya menerima jabatan kepala sekolah.

Mengubah Sistem

Awalnya saya menerapkan perhitungan yang menurut saya benar, tetapi hanya selama satu semester. Setelah itu saya menawarkan sistem baru yang saya sebut sebagai sistem paket.

Semua guru, baik honorer maupun pegawai tetap, diberi pilihan Paket 1, Paket 2, dan Paket 3. Masing-masing paket memiliki nominal gaji, tanggung jawab, target, dan konsekuensi yang jelas.

Guru bebas memilih paket yang diinginkan. Semakin besar paket yang dipilih, semakin besar pula gaji yang diterima. Namun semakin besar pula tanggung jawab dan pengawasan terhadap kinerjanya.

Akibatnya muncul sesuatu yang dianggap aneh oleh banyak orang. Ada guru honorer yang bergaji lebih besar daripada guru tetap.

Saya tidak melihat masalah di situ. Karena yang dibayar bukan status. Yang dibayar adalah tanggung jawab dan kinerja.

Ketika Guru Mengeluh

Kadang ada guru yang bertanya, "Mengapa gaji dia lebih besar daripada saya?"

Jawaban saya sederhana:

Namun pilihan itu tidak otomatis. Saya tetap melakukan evaluasi.

Pada bulan ketiga saya melakukan penilaian. Jika seseorang tidak mampu memenuhi tanggung jawab sesuai paket yang dipilih, saya menurunkannya ke paket yang lebih rendah. Jika pada akhir semester tetap tidak mampu memenuhi standar yang ditetapkan, saya mengakhiri kerja sama.

Ya, termasuk terhadap pegawai tetap.

Tentang Status Tetap

Saya memiliki pandangan yang mungkin tidak disukai sebagian orang.

Saya tidak pernah percaya bahwa status tetap adalah hak istimewa.

Saya pernah mengatakan kepada para guru:

Bagi saya, status tetap tidak boleh menjadi tempat berlindung dari evaluasi. Dalam banyak kasus, istilah "tetap" sering berubah makna menjadi tetap nyaman, tetap malas, tetap pasrah, atau tetap tidak berkembang.

Padahal sekolah bukan tempat untuk memelihara kemalasan. Sekolah adalah tempat membangun masa depan anak-anak. Dan masa depan anak-anak terlalu penting untuk diserahkan kepada orang yang berhenti bertumbuh.

Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Selama ini publik sering berdebat tentang kecilnya honor per jam guru honorer. Menurut saya, itu memang masalah. Namun ada persoalan lain yang jauh lebih jarang dibicarakan, yaitu bagaimana honor itu dihitung.

Pengalaman saya menunjukkan bahwa dalam sejumlah sekolah yang saya ketahui, akar persoalannya bukan hanya tarif per jam yang rendah. Akar persoalannya adalah cara perhitungan yang membuat beban kerja satu bulan tidak selalu tercermin secara utuh dalam penghasilan yang diterima.

Karena itu, setiap kali saya melihat berita tentang guru honorer yang bergaji sangat kecil, saya selalu bertanya:

Pertanyaan itulah yang menurut saya perlu dijawab secara jujur.

Penutup

Saya pernah menjadi guru honorer. Saya pernah memprotes sistem. Saya pernah ditawari perlakuan khusus. Saya pernah menolaknya. Saya pernah menjadi kepala sekolah. Saya juga pernah mengubah sistem yang saya anggap tidak masuk akal.

Dari semua pengalaman itu, saya belajar satu hal:

Dan kadang-kadang perubahan tidak dimulai dari teriakan yang paling keras. Perubahan dimulai dari seseorang yang berani bertanya:

Catatan Penting: Merajut Martabat Guru melalui Meritokrasi yang Terukur

Setelah bertahun-tahun menapaki perjalanan dari guru honorer yang mempertanyakan sistem hingga menjadi kepala sekolah yang mencoba mengubahnya, saya sampai pada beberapa pelajaran yang menurut saya jarang dibicarakan secara terbuka.

Persoalan gaji guru honorer bukan semata-mata tentang berapa rupiah yang diterima setiap bulan. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana keadilan diterapkan dalam sebuah institusi pendidikan. Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya kesejahteraan guru, tetapi juga kualitas pendidikan yang diterima oleh siswa.

Bagi siapa pun yang mengelola sekolah atau sedang memperjuangkan perbaikan nasib guru, berikut beberapa prinsip yang saya pegang.

1. Mengubah Paradigma: Dari Objek Belas Kasihan Menjadi Mitra Profesional

Selama ini guru honorer sering dipandang sebagai kelompok yang harus dikasihani. Saya tidak sepenuhnya setuju dengan cara pandang tersebut.

Guru adalah tenaga profesional. Karena itu, mereka harus diperlakukan sebagai mitra profesional yang memiliki pilihan, tanggung jawab, dan ruang untuk berkembang.

Sistem paket yang saya terapkan lahir dari keyakinan tersebut. Dalam sistem ini, guru tidak diposisikan sebagai pihak yang menunggu belas kasihan sekolah, melainkan sebagai individu yang dapat menentukan tingkat tanggung jawab dan tingkat kompensasi yang ingin mereka ambil.

Dengan kata lain, sekolah bukan tempat untuk mencari tenaga kerja murah, melainkan tempat di mana setiap guru memiliki kesempatan untuk meningkatkan nilai dirinya.

2. Transparansi adalah Fondasi Integritas

Banyak konflik di lingkungan kerja muncul bukan karena orang tidak mau bekerja, tetapi karena standar penilaiannya tidak jelas.

Ketika ukuran keberhasilan kabur, ruang bagi subjektivitas menjadi sangat besar. Kedekatan personal, politik kantor, dan praktik mencari muka sering kali muncul dari situasi semacam ini.

Karena itu, saya berusaha membuat standar penilaian yang jelas, terukur, dan diketahui semua pihak sejak awal.

Ketika target, indikator, dan mekanisme evaluasi terbuka, guru tidak perlu membangun kedekatan dengan atasan untuk memperoleh penghargaan. Mereka cukup menunjukkan kinerja yang sesuai dengan ukuran yang telah disepakati bersama.

3. Kesepakatan Kinerja Harus Dibangun Secara Sadar

Salah satu bagian terpenting dalam sistem yang saya terapkan adalah adanya kesepakatan yang ditandatangani oleh setiap guru.

Baik honorer maupun pegawai tetap, semua memilih paket yang mereka inginkan secara sadar dan memahami konsekuensinya.

Dengan cara itu, setiap orang mengetahui apa yang menjadi tanggung jawabnya, berapa kompensasi yang akan diterima, serta apa yang akan terjadi jika target yang disepakati tidak tercapai.

Kesepakatan semacam ini bukan sekadar dokumen administratif. Ia merupakan bentuk komitmen bersama yang memperjelas hak dan kewajiban kedua belah pihak.

4. Status Tetap Tidak Boleh Menjadi Alasan untuk Berhenti Bertumbuh

Saya tidak pernah memandang status tetap sebagai hak istimewa yang membuat seseorang kebal terhadap evaluasi.

Dalam dunia pendidikan, berhenti berkembang adalah masalah serius. Sekolah membutuhkan guru yang terus belajar, beradaptasi, dan memperbaiki diri.

Karena itu, saya selalu berpegang pada prinsip sederhana:

Prinsip ini berlaku bagi siapa pun, tanpa memandang status kepegawaiannya.

Bagi saya, tanggung jawab terbesar seorang kepala sekolah bukan kepada guru, melainkan kepada siswa yang mempercayakan masa depannya kepada lembaga pendidikan tersebut.

5. Keadilan Tidak Selalu Berarti Kesamaan

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa keadilan berarti semua orang harus memperoleh hasil yang sama.

Saya memandangnya berbeda.

Keadilan bukan berarti semua menerima jumlah yang sama, melainkan semua memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, mengambil tanggung jawab, dan memperoleh penghargaan atas kontribusinya.

Karena itu, saya tidak pernah mempermasalahkan jika seorang guru honorer memperoleh penghasilan lebih besar daripada guru tetap. Selama perbedaan tersebut lahir dari tanggung jawab dan kinerja yang berbeda, saya melihatnya sebagai sesuatu yang wajar.

Pada titik itulah meritokrasi bekerja.

Menutup Celah Ketidakadilan

Perubahan tidak selalu harus menunggu regulasi baru dari pemerintah atau kebijakan besar dari atas. Terkadang perubahan dapat dimulai dari keputusan-keputusan sederhana di tingkat sekolah.

Keberanian untuk meninjau ulang cara menghitung gaji, menyusun sistem evaluasi yang lebih adil, dan membangun budaya kerja yang transparan sering kali jauh lebih berdampak daripada yang kita bayangkan.

Sebagai penutup, saya selalu mengatakan kepada para guru:

Di sekolah yang saya pimpin, tidak ada seorang pun yang dipaksa untuk bertahan. Setiap orang bebas memilih jalan yang ingin ditempuh: terus berkembang, mempertahankan kinerja, atau mencari tempat lain yang lebih sesuai dengan pilihannya.

Karena pada akhirnya, martabat seorang guru tidak dibangun oleh rasa iba orang lain terhadap nasibnya.

Martabat seorang guru dibangun oleh kompetensi, integritas, dan kontribusinya dalam membentuk masa depan anak-anak yang dipercayakan kepadanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Intip Jejak Karier Fuji, dari Dunia Konten hingga Merambah Berbagai Bisnis
• 19 jam laluviva.co.id
thumb
Kopi Hambalang, Nasi Bakar, hingga Falsafah Jawa di Meja Makan Prabowo...
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Baru Beli Motor Bekas? Pahami ⁠Syarat dan Cara Balik Namanya
• 1 jam lalumedcom.id
thumb
Target 50 Besar Kota Global, Jakarta Perkuat Transportasi dan Layanan Publik
• 6 jam laludisway.id
thumb
Rincian Perjanjian AS-Iran Belum Diungkap, Netanyahu Tegaskan Pertempuran Belum Berakhir
• 4 jam laluerabaru.net
Berhasil disimpan.