HARIAN.FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Di usia yang tak lagi muda untuk ukuran seorang pesepak bola profesional, Lionel Messi kembali melakukan sesuatu yang membuat dunia berhenti sejenak dan menyaksikannya dengan takjub.
Saat banyak pihak mulai meragukan apakah magis sang megabintang masih tersisa di panggung tertinggi sepak bola dunia, Messi justru memberikan jawaban yang paling sempurna. Bukan melalui pernyataan, bukan pula lewat unggahan media sosial, melainkan lewat tiga gol yang lahir dari kakinya sendiri.
Dalam laga fase grup Piala Dunia 2026 menghadapi Aljazair, kapten Argentina itu tampil luar biasa. Tiga gol yang ia cetak memastikan kemenangan meyakinkan Albiceleste dengan skor 3-0 sekaligus kembali menegaskan bahwa namanya masih menjadi salah satu tokoh utama dalam cerita besar sepak bola dunia.
Penampilan tersebut tidak hanya membuat para pendukung Argentina bersorak. Banyak mantan pemain dan legenda sepak bola ikut memberikan penghormatan kepada sosok yang selama hampir dua dekade terus menulis sejarah.
Salah satunya adalah Luciano Leandro.
Legenda yang pernah memperkuat PSM Makassar dan Persija Jakarta itu mengaku tak lagi memiliki kata-kata yang cukup untuk menggambarkan kehebatan Messi.
Bagi Luciano, apa yang dilakukan pemain berjuluk La Pulga itu sudah melampaui batas kemampuan manusia biasa.
“Dia bermain luar biasa. Dia manusia dari planet lain,” ujar Luciano.
Pernyataan tersebut mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang. Namun bagi mereka yang menyaksikan langsung bagaimana Messi terus mempertahankan level permainannya selama bertahun-tahun, kalimat itu terasa cukup mewakili kenyataan.
Sebab, ketika banyak pemain mulai mengalami penurunan performa di usia senja karier, Messi justru masih mampu menjadi pembeda dalam pertandingan sebesar Piala Dunia.
Hattrick ke gawang Aljazair menjadi bukti terbaru.
Tiga gol itu bukan hanya membantu Argentina meraih kemenangan penting, tetapi juga mengantar Messi ke dalam jajaran elite pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.
Dengan tambahan tiga gol tersebut, Messi kini mengoleksi 16 gol di turnamen paling bergengsi dunia itu. Sebuah catatan yang membuatnya sejajar dengan legenda Jerman, Miroslav Klose, sebagai salah satu pencetak gol terbanyak dalam sejarah Piala Dunia.
Namun menariknya, pencapaian bersejarah itu bukanlah hal yang paling banyak dibicarakan setelah pertandingan usai.
Sorotan justru tertuju pada momen emosional yang terjadi sesaat setelah Messi mencetak gol pertamanya.
Kamera televisi menangkap ekspresi berbeda dari sang kapten Argentina. Wajah yang biasanya tenang itu terlihat dipenuhi emosi. Air mata tampak mengalir dari matanya ketika rekan-rekan setim menghampiri untuk merayakan gol.
Momen tersebut segera menjadi perbincangan di seluruh dunia.
Banyak yang menduga tangisan itu berkaitan dengan rekor yang baru saja diukirnya. Sebagian lainnya menganggap itu adalah luapan emosi karena berhasil membawa Argentina meraih kemenangan penting.
Namun Messi kemudian memberikan penjelasan yang justru membuat publik semakin penasaran.
Menurutnya, tangisan tersebut sama sekali tidak berhubungan dengan sepak bola.
“Ya, saya menangis setelah gol pertama saya. Itu karena sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan sepak bola,” kata Messi usai pertandingan.
Pernyataan itu langsung memunculkan berbagai spekulasi. Namun Messi memilih untuk tidak menjelaskan secara rinci apa yang sedang terjadi dalam kehidupannya.
Ia hanya mengakui bahwa beberapa hari terakhir bukanlah periode yang mudah baginya.
Di balik sorotan jutaan pasang mata dan status sebagai salah satu pesepak bola terbesar sepanjang masa, Messi ternyata tetaplah manusia yang memiliki pergulatan pribadi.
Ia mengungkapkan bahwa dukungan dari rekan-rekan setim dan seluruh delegasi Argentina menjadi faktor penting yang membantunya melewati masa sulit tersebut.
“Saya sempat melalui beberapa hari yang sulit, tetapi saya berterima kasih kepada seluruh delegasi tim dan rekan-rekan setim saya karena mereka selalu berada di sisi saya, memberikan banyak dukungan dan kekuatan untuk membantu saya melewati masa-masa tersebut,” ujar Messi.
Pengakuan itu memperlihatkan sisi lain dari seorang legenda. Sosok yang selama ini dikenal karena ketenangannya ternyata juga membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat saat menghadapi persoalan di luar lapangan.
Tak hanya kepada timnya, Messi juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para suporter Argentina yang kembali memenuhi stadion.
Di setiap pertandingan Albiceleste selama turnamen berlangsung, lautan biru-putih selalu menjadi pemandangan yang mencolok. Dukungan tanpa henti dari para pendukung menjadi energi tambahan bagi skuad asuhan Lionel Scaloni.
“Saya juga berterima kasih kepada para suporter karena mereka sekali lagi membuktikan bahwa Argentina adalah sesuatu yang luar biasa. Mereka kembali memenuhi stadion. Saya tidak tahu apakah ada 80.000 penonton atau bahkan lebih,” tambah Messi.
Kini, Argentina semakin kokoh sebagai salah satu kandidat kuat juara Piala Dunia 2026. Sementara bagi Messi, pertandingan melawan Aljazair mungkin akan dikenang sebagai salah satu malam paling emosional dalam perjalanan kariernya.
Malam ketika ia mencetak hattrick, menyamai rekor gol legendaris, sekaligus memperlihatkan sisi manusiawi yang jarang terlihat di balik statusnya sebagai ikon sepak bola dunia.
Dan bagi Luciano Leandro, semua itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa dunia mungkin tidak akan lagi melihat pemain seperti Lionel Messi dalam waktu yang sangat lama.
Karena bagi legenda PSM Makassar dan Persija Jakarta itu, Messi bukan sekadar pesepak bola hebat.
Ia adalah fenomena yang datang sekali dalam satu generasi.
Atau seperti yang dikatakannya dengan sederhana namun penuh makna:
“Dia manusia dari planet lain.”





