Cirebon (ANTARA) - Anggota DPRD Jawa Barat Daddy Rohanady menyebut Kota Cirebon, Jabar, memiliki modal kuat untuk menjadi salah satu penopang utama pengembangan kawasan Rebana, karena didukung fasilitas penunjang yang relatif lebih lengkap dibandingkan sejumlah daerah lain.
Menurut dia, posisi Cirebon dalam kawasan Rebana tidak dapat dipandang terpisah mengingat daerah itu memiliki kesiapan infrastruktur pendukung, terutama sektor perhotelan dan layanan yang dibutuhkan untuk menunjang aktivitas ekonomi.
"Kalau dilihat, kota atau kabupaten yang lengkap dari segi hotel salah satunya Cirebon," katanya saat dikonfirmasi di Cirebon, Rabu.
Ia mengatakan ketersediaan fasilitas tersebut menjadi keunggulan yang dapat dimanfaatkan Cirebon untuk mendukung pertumbuhan investasi, bisnis, dan mobilitas masyarakat di kawasan Rebana.
Daddy menilai pengembangan kawasan Rebana pun harus ditopang oleh optimalisasi dua infrastruktur strategis, yakni Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka dan Pelabuhan Patimban di Subang.
“Keberhasilan pengembangan kedua fasilitas tersebut akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Jabar, termasuk daerah-daerah yang berada di kawasan Rebana,” katanya.
Ia berharap Bandara Kertajati dan Pelabuhan Patimban dapat berkembang sesuai perencanaan, sehingga mampu menjadi penggerak aktivitas ekonomi baru di wilayah utara dan timur Jabar.
"Saya berharap betul dua ini menjadi roda pengungkit perekonomian Jabar. Jika ini besar, saya yakin Jabar juga pasti besar," ujarnya.
Daddy mengatakan dua fasilitas tersebut memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang yang dapat memperkuat konektivitas serta mendukung arus barang, jasa, dan investasi.
Oleh karena itu, ia optimis pemerintah pusat memiliki arah pengembangan yang jelas, utamanya terhadap Bandara Kertajati agar manfaat ekonominya semakin dirasakan oleh masyarakat dan pelaku usaha.
“Kepastian fungsi dan peta jalan pengembangan Bandara Kertajati akan membantu mendorong tumbuhnya berbagai sektor ekonomi yang terhubung dengan kawasan Rebana,” tuturnya.
Selain memiliki potensi ekonomi, Daddy menilai Cirebon juga mempunyai kekuatan sejarah dan budaya yang dapat menjadi nilai tambah dalam mendukung pembangunan kawasan tersebut.
“Keberadaan Keraton Kasepuhan, Kanoman, Keprabonan, dan Kacirebonan menjadi bukti sejarah yang masih terjaga hingga kini, sekaligus memperkuat posisi Cirebon sebagai daerah yang memiliki peran penting dalam perkembangan Jabar dan Indonesia,” ucap dia.
Sementara itu, berdasarkan data publikasi Badan Pengelola Kawasan Rebana tercatat total investasi yang masuk ke wilayah tersebut mencapai Rp6,49 triliun pada triwulan pertama tahun 2026. Adapun untuk Kota Cirebon, realisasi investasi selama periode tersebut mencapai Rp262 miliar.
Menurut dia, posisi Cirebon dalam kawasan Rebana tidak dapat dipandang terpisah mengingat daerah itu memiliki kesiapan infrastruktur pendukung, terutama sektor perhotelan dan layanan yang dibutuhkan untuk menunjang aktivitas ekonomi.
"Kalau dilihat, kota atau kabupaten yang lengkap dari segi hotel salah satunya Cirebon," katanya saat dikonfirmasi di Cirebon, Rabu.
Ia mengatakan ketersediaan fasilitas tersebut menjadi keunggulan yang dapat dimanfaatkan Cirebon untuk mendukung pertumbuhan investasi, bisnis, dan mobilitas masyarakat di kawasan Rebana.
Daddy menilai pengembangan kawasan Rebana pun harus ditopang oleh optimalisasi dua infrastruktur strategis, yakni Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka dan Pelabuhan Patimban di Subang.
“Keberhasilan pengembangan kedua fasilitas tersebut akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Jabar, termasuk daerah-daerah yang berada di kawasan Rebana,” katanya.
Ia berharap Bandara Kertajati dan Pelabuhan Patimban dapat berkembang sesuai perencanaan, sehingga mampu menjadi penggerak aktivitas ekonomi baru di wilayah utara dan timur Jabar.
"Saya berharap betul dua ini menjadi roda pengungkit perekonomian Jabar. Jika ini besar, saya yakin Jabar juga pasti besar," ujarnya.
Daddy mengatakan dua fasilitas tersebut memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang yang dapat memperkuat konektivitas serta mendukung arus barang, jasa, dan investasi.
Oleh karena itu, ia optimis pemerintah pusat memiliki arah pengembangan yang jelas, utamanya terhadap Bandara Kertajati agar manfaat ekonominya semakin dirasakan oleh masyarakat dan pelaku usaha.
“Kepastian fungsi dan peta jalan pengembangan Bandara Kertajati akan membantu mendorong tumbuhnya berbagai sektor ekonomi yang terhubung dengan kawasan Rebana,” tuturnya.
Selain memiliki potensi ekonomi, Daddy menilai Cirebon juga mempunyai kekuatan sejarah dan budaya yang dapat menjadi nilai tambah dalam mendukung pembangunan kawasan tersebut.
“Keberadaan Keraton Kasepuhan, Kanoman, Keprabonan, dan Kacirebonan menjadi bukti sejarah yang masih terjaga hingga kini, sekaligus memperkuat posisi Cirebon sebagai daerah yang memiliki peran penting dalam perkembangan Jabar dan Indonesia,” ucap dia.
Sementara itu, berdasarkan data publikasi Badan Pengelola Kawasan Rebana tercatat total investasi yang masuk ke wilayah tersebut mencapai Rp6,49 triliun pada triwulan pertama tahun 2026. Adapun untuk Kota Cirebon, realisasi investasi selama periode tersebut mencapai Rp262 miliar.





