Bisnis.com, JAKARTA — Pasar keuangan global menanti arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) di bawah kepemimpinan baru Kevin Warsh. Meski suku bunga acuan hampir pasti ditahan pada kisaran 3,50%-3,75%, pernyataan perdana Warsh sebagai Ketua The Fed menjadi fokus utama.
Komite Pasar Terbuka Federal atau Federal Open Market Committee (FOMC) dijadwalkan mengumumkan hasil rapat kebijakan moneternya hari ini. Keputusan tersebut akan dilanjutkan dengan konferensi pers pertama Warsh sejak resmi menggantikan Jerome Powell sebagai pimpinan bank sentral AS.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan kali ini mencapai 99%. Karena itu, fokus pelaku pasar bergeser dari keputusan suku bunga menuju sinyal kebijakan yang akan disampaikan Warsh.
Ekspektasi investor terhadap arah kebijakan moneter ke depan masih terpecah. Peluang kenaikan suku bunga dalam pertemuan kali ini sangat kecil. Namun, survei terbaru Bank of America menunjukkan 40% manajer investasi memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga dalam 12 bulan mendatang. Angka itu melonjak dari 16% pada Mei.
Pejabat The Fed secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50%-3,75%. Pasar juga belum memperkirakan adanya perubahan besar terkait strategi komunikasi maupun kebijakan neraca bank sentral.
Meski demikian, konferensi pers Warsh setelah pengumuman suku bunga diperkirakan menjadi perhatian utama investor. Forum tersebut menjadi kesempatan pertama Warsh menjelaskan pandangannya mengenai inflasi, kondisi ekonomi, dan arah kebijakan The Fed.
Baca Juga
- Bisikan Harga Emas Terbaru dari Wall Street Jelang FOMC The Fed
- Inflasi AS 4,2% Picu Potensi The Fed Naikkan Suku Bunga, Gimana Nasib Indonesia?
- Wall Street Berguguran, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga The Fed
"Kami memperkirakan Ketua Warsh akan berupaya meminimalkan kejutan dan gangguan pasar saat membangun kredibilitasnya sebagai ketua baru FOMC," tulis Kepala Ekonom AS Barclays Marc Giannoni seperti dikutip Investopedia, Rabu (17/6/2026).
Menurut Giannoni, ketidakpastian tetap tinggi mengingat Warsh masih menyempurnakan strategi komunikasinya sebagai pimpinan baru bank sentral.
Wakil Kepala Ekonom BMO Michael Gregory menilai Warsh menghadapi tantangan besar dalam konferensi pers perdananya. Di satu sisi, dia dituntut menjelaskan visinya terhadap The Fed. Di sisi lain, dia harus mewakili pandangan yang belum tentu sepenuhnya sejalan dengan anggota FOMC lainnya.
"Pertemuan Juni akan menjadi awal dari upaya Warsh untuk mendorong perubahan di The Fed. Namun proses tersebut akan lebih bersifat evolusioner daripada revolusioner," tulis Gregory.
Selain arah kebijakan, pasar juga menyoroti apakah Warsh akan mempertahankan tradisi konferensi pers setelah setiap rapat FOMC. Dalam sidang konfirmasi Senat, Warsh tidak memberikan komitmen mengenai keberlanjutan praktik tersebut.
Sebelumnya, Powell menggelar konferensi pers setelah setiap pertemuan FOMC. Warsh justru pernah menyatakan konferensi pers hanya diperlukan ketika terdapat pesan penting yang harus disampaikan kepada publik.
Meski demikian, Kepala Ekonom AS BNP Paribas James Egelhof memperkirakan Warsh tetap mempertahankan konferensi pers reguler. Menurutnya, status Warsh sebagai figur pilihan Presiden Donald Trump membuat ekspektasi publik terhadap penampilannya di hadapan media menjadi lebih tinggi.
"Konsekuensi logis dari dipilih sebagai sosok utama adalah adanya ekspektasi untuk tampil dalam pertunjukan tersebut," tulis Egelhof.
Pasar juga mencermati proyeksi suku bunga atau dot plot yang dirilis bersamaan dengan hasil rapat. Sejumlah pejabat diperkirakan merevisi proyeksi suku bunga 2026 ke level yang lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Pertanyaan lain yang muncul adalah apakah Warsh akan tetap mendukung publikasi dot plot. Selama ini dia dikenal sebagai salah satu pengkritik instrumen tersebut karena dinilai kerap menimbulkan salah tafsir di pasar.
Meski demikian, kecil kemungkinan Warsh langsung menghapus dot plot pada rapat perdananya. Langkah tersebut dinilai berisiko memicu resistensi dari mayoritas anggota FOMC.
Menurut Ekonom Senior Bank of America Aditya Bhave, Warsh berpeluang mengambil jalan tengah dengan tidak menyampaikan proyeksi pribadinya, sembari tetap mempertahankan publikasi Summary of Economic Projections atau SEP.
"Ini bisa menjadi situasi yang menguntungkan bagi Warsh. Ia dapat melemahkan peran SEP tanpa harus membuat anggota komite lainnya kecewa dengan menghapusnya secara langsung," tulis Bhave.





