MEDAN, KOMPAS – Indonesia akan menjadi salah satu negara yang dikunjungi oleh Angkatan Laut Amerika Serikat dalam misi Pacific Partnership 2026. Bersama TNI Angkatan Laut, misi itu akan singgah di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, 21-31 Juli 2026. Tim akan melaksanakan sejumlah program penanganan pascabencana.
“Kami melaksanakan misi yang disebut Pacific Partnership 2026 untuk membangun dan memelihara hubungan dan kerja sama regional dengan tujuan meningkatkan kesiapsiagaan dan ketahanan bencana di kawasan,” kata Komandan Misi Pacific Partnership 2026 Captain Robert Reyes, dalam konferensi pers melalui sambungan video, Rabu (17/6/2026).
Robert mengatakan, mereka akan mengunjungi lebih dari 10 negara dalam misi Pacific Partnership 2026. Selain Indonesia, beberapa negara yang akan dikunjungi adalah Vietnam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Fiji, dan Palau.
Di Indonesia, tim Angkatan Laut Amerika Serikat yang terdiri dari sekitar 300 personel akan singgah di Kota Sibolga pada 21-31 Juli 2026. Kegiatan yang akan dilaksanakan adalah latihan bersama TNI AL untuk melaksanakan tindakan tanggap darurat menghadapi bencana.
Tim juga akan melaksanakan layanan medis kepada masyarakat Sibolga dan Tapanuli Tengah, termasuk penyembuhan trauma pasca bencana.
“Kami bekerja sama dengan organisasi lokal dan regional untuk membantu menyediakan dukungan untuk layanan kesehatan mental. Kerja sama dengan organisasi lokal kami lakukan agar layanan ini berkelanjutan dan bisa dilaksanakan dalam jangka panjang,” kata Robert.
Selain itu, misi ini akan melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana antara lain pembangunan sekolah. Tim pendahulu telah mulai membangun ruang kelas di Sekolah Dasar Negeri 158309 Pandan 3, Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah.
Pembangunan sekolah itu dilakukan melalui program Engineering Civic Action Program (ENCAP) yang berfokus pada pembangunan serta perbaikan infrastruktur masyarakat. Pembangunan ruang kelas ini sudah mulai dikerjakan dan ditargetkan rampung pada 24 Juli 2026.
Robert mengatakan, bencana alam berdampak pada semua orang serta tidak memandang ras, agama, gender, atau kelas ekonomi. Karena itu, di masa tenang, kesiapsiagaan menghadapi bencana harus ditingkatkan. “Saat bencana datang, kita harus siap meresponsnya dengan cepat dan tepat,” kata Robert.
Deputi Komandan Misi untuk Pacific Partnership 2026 Kolonel Alain Lafreniere mengatakan, Pacific Partnership dilakukan sejak 2006 sebagai respons terhadap bencana tsunami 2004.
“Pacific Partnership kini telah berusia 20 tahun dan tetap setia pada ide intinya yaitu bantuan kemanusiaan, kesiapsiagaan bencana, dan penguatan kemitraan di seluruh kawasan Indo-Pasifik. Dalam beberapa bulan ke depan, kami akan bekerja sama dengan beberapa negara untuk memastikan bahwa kita semua berada dalam posisi yang jauh lebih baik untuk merespons bencana alam,” kata Alain.
Secara terpisah, Sekretaris Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Binsar TH Sitanggang mengatakan, bantuan dari Pacific Partnership 2026 sangat penting untuk mendukung program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Tapanuli Tengah menjadi salah satu daerah yang terdampak cukup parah akibat bencana Sumatera yang melanda Sumut, Aceh, dan Sumatera Barat.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan kepedulian Angkatan Laut Amerika Serikat yang bekerja sama dengan Pangkalan TNI AL Sibolga dalam membantu pembangunan fasilitas pendidikan di Tapanuli Tengah,” kata Binsar.





