Tim Dosen Unimen Sulap Limbah Bonggol Jagung Jadi Pupuk Organik, Buka Peluang Ekonomi bagi Perempuan Tani Enrekang

harianfajar
4 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, ENREKANG – Limbah bonggol jagung yang selama ini hanya menjadi tumpukan sampah atau dibakar di lahan pertanian kini berubah menjadi sumber nilai ekonomi baru.

Melalui program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), tim dosen Universitas Muhammadiyah Enrekang (Unimen) mengembangkan pupuk organik berbahan dasar bonggol jagung bernama Jagofert bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Papaling di Desa Bamba Puang, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang.

Program yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026 ini tidak hanya berfokus pada pengelolaan limbah pertanian, tetapi juga mendorong peningkatan literasi ekonomi dan kemandirian usaha perempuan tani.

Ketua tim pelaksana, Andi Ahmad Chabir Galib, menjelaskan bahwa selama ini bonggol jagung belum dimanfaatkan secara optimal meskipun tersedia dalam jumlah melimpah setiap musim panen.

“Bonggol jagung selama ini hanya dianggap sampah, padahal dengan pengetahuan dan keterampilan yang tepat, limbah ini dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Kami ingin masyarakat mampu melihat potensi yang ada di sekitar mereka sebagai peluang usaha yang berkelanjutan,” ujarnya.

Tim PKM terdiri atas tiga dosen dan dua mahasiswa. Selain Andi Ahmad Chabir Galib dari Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Unimen, kegiatan ini juga melibatkan Ismaya dari Unimen, serta Nurhapisah dari Universitas Muhammadiyah Palopo yang memiliki keahlian di bidang agroteknologi dan konservasi sumber daya alam.

Kolaborasi lintas disiplin tersebut menjadi kekuatan utama program. Pendekatan literasi ekonomi dipadukan dengan teknologi pengolahan hasil pertanian sehingga solusi yang ditawarkan tidak hanya menyentuh aspek produksi, tetapi juga pengelolaan usaha hingga pemasaran produk.

KWT Papaling yang beranggotakan 16 perempuan tani menjadi mitra utama dalam program ini. Selama ini mereka menghadapi sejumlah kendala, mulai dari rendahnya pemahaman mengenai nilai tambah limbah pertanian, keterbatasan keterampilan teknis pengolahan, minimnya akses teknologi produksi, hingga kurangnya pengetahuan pemasaran.

Menjawab tantangan tersebut, tim dosen memperkenalkan Jagofert, pupuk organik yang diproduksi melalui proses pencacahan, penghalusan, fermentasi menggunakan mikroorganisme lokal (MOL), pengeringan, hingga pengemasan siap jual.

Pelaksanaan program dilakukan melalui pelatihan praktik langsung pembuatan pupuk organik, workshop literasi ekonomi dan manajemen usaha, serta pelatihan pemasaran digital menggunakan media sosial berbasis smartphone.

Berbagai peralatan tepat guna turut diberikan untuk mendukung produksi, seperti alat pencacah bonggol jagung, mesin penepung, drum fermentasi, mesin pengaduk, ayakan kompos, timbangan digital, dan alat pengemas.

Ketua KWT Papaling, Hapisa, mengaku program tersebut membuka wawasan baru bagi para anggota kelompok.

“Selama ini bonggol jagung hanya kami buang atau dibakar setelah panen. Sekarang kami mengetahui bahwa limbah itu bisa diolah menjadi pupuk yang bernilai jual. Kami optimistis usaha ini dapat berkembang dan membantu meningkatkan pendapatan keluarga,” katanya.

Selain memberikan manfaat ekonomi, program ini juga membawa dampak lingkungan yang positif. Pengolahan limbah bonggol jagung menjadi pupuk organik dinilai mampu mengurangi praktik pembakaran limbah pertanian yang selama ini menjadi salah satu sumber pencemaran udara di pedesaan.

Kepala Desa Bambapuang, Abdul Muis, menyambut baik kehadiran program tersebut. Menurutnya, kegiatan yang dilakukan tim dosen Unimen sejalan dengan upaya pemerintah desa dalam memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.

“Program seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat. Selain mengurangi limbah, juga membuka peluang usaha baru bagi warga. Kami berharap pendampingan semacam ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak kelompok tani,” ujarnya.

Melalui inovasi Jagofert, Unimen menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga sebagai mitra strategis masyarakat dalam menciptakan solusi nyata bagi persoalan ekonomi dan lingkungan di tingkat desa.

Program ini sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pengentasan kemiskinan, penciptaan pekerjaan layak, pertumbuhan ekonomi, serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. (ams)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IKA BEM Nusantara Sowan Jokowi di Solo, Ini Agendanya
• 13 jam lalujpnn.com
thumb
Yacht Berbendera Australia Terdampar Tanpa Awak di Pantai NTT, Polisi Selidiki
• 39 menit laludetik.com
thumb
Waspada, Pinjol Ilegal Makin Merajalela! Kenali Bahaya, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya Sebelum Jadi Korban
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Sinopsis Drama Korea SKY Castle, Ambisi Tak Berbatas Para Orang Tua Elite Demi Masa Depan Anak
• 7 jam lalugrid.id
thumb
Cek 6 Saham Rekomendasi Buat Cuan Hari Ini
• 12 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.