Persaingan Shopee-TikTok Shop Makin Ketat, idEA: Bukan Lagi Soal Promo dan Harga

bisnis.com
9 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) menilai persaingan industri e-commerce di Indonesia masih berlangsung sangat dinamis meski sebagian mayoritas pangsa pasar didominasi oleh segelintir platform besar.

Sekretaris Jenderal idEA Budi Primawan mengatakan kompetisi antar-marketplace saat ini lebih banyak ditentukan oleh kemampuan masing-masing platform melalui investasi dalam teknologi, layanan, logistik, pembayaran, hingga pengalaman pengguna.

Menurut Budi, strategi marketplace untuk mempertahankan maupun meningkatkan jumlah pengguna juga mengalami perubahan. Dia menilai persaingan tidak lagi hanya mengandalkan diskon atau harga murah, melainkan melalui inovasi fitur dan layanan yang makin beragam.

“Untuk mempertahankan atau meningkatkan pengguna, saat ini persaingan tidak lagi hanya soal promo atau harga. Marketplace juga berlomba menghadirkan pengalaman belanja yang lebih baik melalui fitur seperti live commerce, video commerce, program afiliasi, personalisasi berbasis AI, pengiriman yang lebih cepat, hingga integrasi dengan berbagai layanan digital lainnya,” kata Budi kepada Bisnis, Rabu (17/6/2026).

Dia menambahkan bahwa konsumen kini juga makin mengutamakan kemudahan, kenyamanan, dan kepercayaan saat berbelanja secara daring.

Di sisi lain, industri e-commerce juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kenaikan biaya logistik, biaya operasional, hingga kondisi ekonomi secara umum. Meski demikian, menurut idEA, marketplace tetap menjadi salah satu kanal belanja utama masyarakat Indonesia.

Baca Juga

  • Kementerian UMKM Minta Pedagang Shopee-TikTok Shop Cs Segera Urus NIB
  • Mendag Wajibkan Shopee-TikTok Shop Cs Tolak Seller Tanpa NIB
  • Persaingan E-Commerce Makin Sengit, Segelintir Pemain Kuasai Pasar

“Sejauh ini marketplace masih menjadi salah satu kanal belanja yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia karena menawarkan pilihan produk yang luas, kemudahan akses, transparansi harga, dan jangkauan hingga ke berbagai daerah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Budi menyoroti perubahan perilaku konsumen dan pelaku usaha yang makin mengadopsi strategi omnichannel. Banyak penjual kini tidak hanya mengandalkan marketplace, tetapi juga memanfaatkan media sosial, chat commerce, situs web sendiri, hingga toko fisik.

Menurutnya, perubahan pangsa pasar antarpelaku merupakan hal yang wajar dalam industri digital yang berkembang cepat. Dinamika tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari inovasi fitur, efektivitas pemasaran, kekuatan ekosistem pembayaran dan logistik, hingga perubahan preferensi konsumen.

Dia menambahkan bahwa live commerce, video commerce, dan program afiliasi menjadi beberapa faktor yang dalam beberapa tahun terakhir cukup berpengaruh terhadap cara konsumen menemukan dan membeli produk secara online.

Budi menegaskan fokus utama industri seharusnya tidak hanya pada siapa pemain terbesar, melainkan bagaimana seluruh pelaku dapat terus berinovasi dan memperkuat ekosistem ekonomi digital.

"Pada akhirnya, yang lebih penting bukan hanya siapa yang terbesar hari ini, tetapi bagaimana seluruh pelaku industri dapat terus berinovasi, menjaga kepercayaan konsumen, mendukung pertumbuhan UMKM, dan memperluas manfaat ekonomi digital bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menteri P2MI Dampingi Presiden Prabowo Sepakati Kerja Sama Perawat dengan Jerman
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Genjot Bisnis Pembiayaan Berbasis Chanelling, OK Bank (DNAR) Gandeng SPayLater
• 11 jam laluidxchannel.com
thumb
Kemensos Siapkan 2 Jalur Masa Depan Lulusan Perdana Sekolah Rakyat
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.738 per Dolar AS, Pasar Tunggu Keputusan Suku Bunga The Fed
• 14 jam lalupantau.com
thumb
Piala Dunia 2026: Kylian Mbappe Cetak Dua Gol, Prancis Tundukkan Senegal 3-1
• 22 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.