Jakarta (ANTARA) - Bagi pencinta film laga, "The Furious" bisa dibilang menjadi salah satu tontonan yang wajib masuk daftar tahun ini.
Film Hong Kong garapan sutradara laga kenamaan Kenji Tanigaki yang mendapat rating nyaris 100 persen di Rotten Tomatoes ini berhasil menghadirkan paket hiburan lengkap: aksi yang intens, koreografi pertarungan yang memukau, cerita yang menegangkan, hingga selipan humor yang membuat suasana tidak terasa terlalu gelap.
Sejak menit-menit awal, film yang mulai tayang di bioskop pada 17 Juni 2026 ini langsung mengait perhatian penonton. Kisahnya berpusat pada upaya membongkar sindikat perdagangan manusia yang beroperasi secara brutal dan terorganisir.
Baca juga: Film Hong Kong “The Furious" rilis trailer perdana
Baca juga: Yayan Ruhian: Tahu diri lebih penting ketimbang bela diri (Bagian 1)
Dalam perjuangan tersebut, penonton diajak mengikuti perjalanan Wang Wei (Xie Miao), seorang ayah tuna wicara yang mencari putrinya yang diculik, dan Navin (Joe Taslim), seorang jurnalis investigasi yang kehilangan istrinya, yang juga seorang jurnalis, secara misterius saat menangani kasus perdagangan manusia oleh sindikat yang sama.
Keduanya kemudian bekerja sama untuk mengungkap jaringan kriminal yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Wang Wei (Xie Miao) dan Navin (Joe Taslim) dalam film "The Furious" (Dok. Lionsgate Films)
Salah satu kekuatan terbesar "The Furious" tentu saja terletak pada adegan aksinya. Koreografi pertarungan disusun dengan sangat detail, intens, dan penuh kreativitas.
Banyak adegan laga ditampilkan dalam pengambilan gambar panjang sehingga penonton dapat menikmati setiap gerakan tanpa terlalu banyak potongan kamera. Hasilnya, setiap pukulan, tendangan, dan bantingan terasa lebih nyata dan menegangkan.
Aktor laga Indonesia, Joe Taslim, yang juga sebagai salah satu pemeran kunci dalam film tersebut mengatakan pada konferensi pers di Jakarta, Jumat (5/6), bahwa "The Furious" memiliki koreografi pertarungan yang paling kompleks dan rumit yang pernah ia jalani.
"Yang membedakan film ini dari film laga lainnya adalah koreografinya yang sangat brilian dan baru buat saya," kata dia.
Tak hanya koreografinya yang "baru", film ini semakin menarik berkat keberhasilan sutradara mengumpulkan para aktor dengan latar belakang seni bela diri yang berbeda-beda.
Joe Taslim misalnya, dikenal memiliki dasar judo dan telah lama menunjukkan kemampuannya dalam berbagai film aksi internasional. Ada pula Yayan Ruhian yang identik dengan pencak silat Indonesia, dan tampil lebih agresif dengan banyak menggunakan panah.
Selain itu, JeeJa Yanin yang terkenal dengan kemampuan Muay Thai dari Thailand, Brian Le dengan aliran Extreme Martial Arts (XMA), serta Joey Iwanaga yang membawa gaya bertarung khasnya yang indah, yakni bela diri yang mengandalkan teknik tendangan akrobatik dan kecepatan (kicking machine).
Perpaduan berbagai disiplin bela diri dari para aktor dan aktris lintas Asia ini menciptakan pertarungan yang terasa segar dan tidak monoton. Setiap karakter memiliki ciri khas gerakan yang berbeda, sehingga setiap duel menghadirkan pengalaman tersendiri bagi penonton.
Baca juga: Yayan Ruhian: Kerja sama dengan sineas di luar negeri, kenapa tidak?
Cuplikan trailer film "The Furious" (Dok. Lionsgate Films)
Menariknya, meski dipenuhi adegan pertarungan brutal, film ini tidak melulu serius. Beberapa momen ringan dan lucu disisipkan secara pas sehingga mampu mencairkan tensi ketegangan.
Humor tersebut hadir secara natural tanpa mengurangi intensitas cerita maupun ancaman yang dihadapi para tokohnya. Justru keseimbangan inilah yang membuat "The Furious" terasa sangat menghibur dari awal hingga akhir.
Dari sisi alur cerita, film ini juga berhasil menjaga ritme dengan baik. Setiap kali penonton merasa letih dengan adegan pertarungan, selalu ada perkembangan baru yang membuat rasa penasaran kembali muncul.
Unsur investigasi seorang jurnalis yang menyamar dan berhadapan langsung dengan "mafia" sindikat perdagangan manusia menjadi fondasi yang kuat untuk menjaga ketegangan dan rasa penasaran. Hook demi hook terus bermunculan hingga klimaks, membuat film tidak membosankan.
Pada akhirnya, "The Furious" adalah contoh bagaimana film aksi tidak hanya mengandalkan ledakan dan perkelahian, tetapi juga mampu menghadirkan cerita yang menarik serta karakter yang membuat penonton peduli.
Dengan jajaran bintang bela diri Asia yang impresif, koreografi laga kelas atas, dan kisah investigasi kriminal yang seru, film ini menjadi tontonan yang sangat memuaskan bagi penggemar genre aksi, terutama bagi pencinta film-film seperti "The Raid" atau "John Wick", maka "The Furious" adalah pengalaman yang sayang untuk dilewatkan.
Reuni panas Joe Taslim dan Yayan Ruhian setelah "The Raid"
Cuplikan adegan Joe Taslim dan Yayan Ruhian bertarung dalam trailer film "The Furious" (Dok. Lionsgate Films)
Salah satu daya tarik terbesar "The Furious" bagi penonton Indonesia adalah hadirnya kembali Joe Taslim dan Yayan Ruhian dalam satu layar.
Bagi penggemar film laga, pertemuan ini tentu menghadirkan nostalgia tersendiri. Keduanya pernah sama-sama mencuri perhatian dan mendapat apresiasi dunia melalui film "The Raid" pada 2011 silam yang menjadi tonggak penting kebangkitan film aksi Indonesia di kancah internasional.
Meski dalam "The Furious" mereka hadir dengan karakter dan latar cerita yang berbeda, kehadiran Joe dan Yayan tetap menjadi magnet utama.
Baca juga: Joe Taslim harap sineas lokal konsisten produksi film berkualitas
Joe Taslim tampil sebagai Navin, seorang jurnalis investigasi yang berusaha mengungkap sindikat perdagangan manusia, sementara Yayan Ruhian memerankan sosok yang memiliki peran penting dalam pusaran konflik yang dihadapi para tokoh utama.
Pertemuan dua aktor laga Indonesia ini menghadirkan dinamika yang menarik sekaligus menjadi salah satu momen yang paling dinantikan penonton. Kali ini mereka berduel beradu aksi dalam kubu yang berseberangan, menambah keseruan menonton utamanya pada akhir-akhir cerita.
Pendekatan berbeda dari karakter Navin
Cuplikan karakter Navin (Joe Taslim) dalam trailer film "The Furious" (Dok. Lionsgate Films)
Salah satu hal yang membuat Joe Taslim tertarik bergabung dalam "The Furious" adalah pendekatan berbeda yang ditawarkan oleh karakter Navin dibandingkan peran-peran aksinya sebelumnya.
Jika selama ini Joe sering memerankan tokoh yang digambarkan sangat dominan dalam pertarungan, bahkan cenderung “tak tersentuh” seperti dalam "The Night Comes for Us" atau "Mortal Kombat", maka Navin justru hadir sebagai sosok yang lebih realistis dan manusiawi.
Joe mengatakan, Navin digambarkan bukan sebagai petarung super bak "dewa", melainkan seorang jurnalis investigasi dengan latar belakang bela diri judo yang ia pelajari di masa muda.
"Selama ini aku main film karakternya cukup over the top ya, di film 'The Night Comes for Us' aku jago banget mau 100 orang pun dibantai sama dia, Ninjutsu di 'Mortal Kombat' pun dia sangat, sangat jago. Jadi karakter yang over the top yang cukup bisa diprediksi dia bisa menang," kata Joe.
Cuplikan anak-anak yang diculik sindikat perdagangan manusia dalam trailer film "The Furious" (Dok. Lionsgate Films)
Cuplikan seorang anak yang diculik sindikat perdagangan manusia, berusaha melarikan diri, dalam trailer film "The Furious" (Dok. Lionsgate Films)
Kemampuan itu tidak membuatnya menjadi sosok yang tak terkalahkan, tetapi lebih sebagai alat bertahan hidup dalam situasi berbahaya. Dalam setiap konflik, ia harus berjuang, terluka, jatuh bangun, dan terus bertahan hingga akhir.
Joe Taslim menekankan bahwa justru di situlah daya tarik karakter ini. Navin juga memiliki sisi rapuh secara emosional.
Menariknya lagi, Navin juga ditulis sebagai karakter yang memiliki sisi kemanusiaan yang kuat. Ia tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga memiliki tujuan yang lebih besar, yaitu menyelamatkan anak-anak yang menjadi korban.
Hal ini membuat setiap aksinya terasa lebih bermakna, bukan sekadar rangkaian adegan laga, tetapi juga perjalanan emosional seorang manusia yang berusaha bertahan di tengah situasi ekstrem.
“Aku merasa ini sesuatu yang baru saat memerankan karakter dia, seorang suami mencari istrinya yang hilang, dia bisa membela diri, tapi kita lihat dalam pertempuran dia adalah 'survivor', dan itu mengapa aku jatuh cinta sama karakter ini,” ujar Joe.
Baca juga: Ketangguhan Yayan Ruhian diakui global, Kenji Tanigaki ikut takjub
Baca juga: Joe Taslim ungkap alasan jatuh cinta dengan peran di "The Furious"
Baca juga: Joe Taslim dalami peran jurnalis di "The Furious" lewat dokumenter
Film Hong Kong garapan sutradara laga kenamaan Kenji Tanigaki yang mendapat rating nyaris 100 persen di Rotten Tomatoes ini berhasil menghadirkan paket hiburan lengkap: aksi yang intens, koreografi pertarungan yang memukau, cerita yang menegangkan, hingga selipan humor yang membuat suasana tidak terasa terlalu gelap.
Sejak menit-menit awal, film yang mulai tayang di bioskop pada 17 Juni 2026 ini langsung mengait perhatian penonton. Kisahnya berpusat pada upaya membongkar sindikat perdagangan manusia yang beroperasi secara brutal dan terorganisir.
Baca juga: Film Hong Kong “The Furious" rilis trailer perdana
Baca juga: Yayan Ruhian: Tahu diri lebih penting ketimbang bela diri (Bagian 1)
Dalam perjuangan tersebut, penonton diajak mengikuti perjalanan Wang Wei (Xie Miao), seorang ayah tuna wicara yang mencari putrinya yang diculik, dan Navin (Joe Taslim), seorang jurnalis investigasi yang kehilangan istrinya, yang juga seorang jurnalis, secara misterius saat menangani kasus perdagangan manusia oleh sindikat yang sama.
Keduanya kemudian bekerja sama untuk mengungkap jaringan kriminal yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Wang Wei (Xie Miao) dan Navin (Joe Taslim) dalam film "The Furious" (Dok. Lionsgate Films)
Salah satu kekuatan terbesar "The Furious" tentu saja terletak pada adegan aksinya. Koreografi pertarungan disusun dengan sangat detail, intens, dan penuh kreativitas.
Banyak adegan laga ditampilkan dalam pengambilan gambar panjang sehingga penonton dapat menikmati setiap gerakan tanpa terlalu banyak potongan kamera. Hasilnya, setiap pukulan, tendangan, dan bantingan terasa lebih nyata dan menegangkan.
Aktor laga Indonesia, Joe Taslim, yang juga sebagai salah satu pemeran kunci dalam film tersebut mengatakan pada konferensi pers di Jakarta, Jumat (5/6), bahwa "The Furious" memiliki koreografi pertarungan yang paling kompleks dan rumit yang pernah ia jalani.
"Yang membedakan film ini dari film laga lainnya adalah koreografinya yang sangat brilian dan baru buat saya," kata dia.
Tak hanya koreografinya yang "baru", film ini semakin menarik berkat keberhasilan sutradara mengumpulkan para aktor dengan latar belakang seni bela diri yang berbeda-beda.
Joe Taslim misalnya, dikenal memiliki dasar judo dan telah lama menunjukkan kemampuannya dalam berbagai film aksi internasional. Ada pula Yayan Ruhian yang identik dengan pencak silat Indonesia, dan tampil lebih agresif dengan banyak menggunakan panah.
Selain itu, JeeJa Yanin yang terkenal dengan kemampuan Muay Thai dari Thailand, Brian Le dengan aliran Extreme Martial Arts (XMA), serta Joey Iwanaga yang membawa gaya bertarung khasnya yang indah, yakni bela diri yang mengandalkan teknik tendangan akrobatik dan kecepatan (kicking machine).
Perpaduan berbagai disiplin bela diri dari para aktor dan aktris lintas Asia ini menciptakan pertarungan yang terasa segar dan tidak monoton. Setiap karakter memiliki ciri khas gerakan yang berbeda, sehingga setiap duel menghadirkan pengalaman tersendiri bagi penonton.
Baca juga: Yayan Ruhian: Kerja sama dengan sineas di luar negeri, kenapa tidak?
Cuplikan trailer film "The Furious" (Dok. Lionsgate Films)
Menariknya, meski dipenuhi adegan pertarungan brutal, film ini tidak melulu serius. Beberapa momen ringan dan lucu disisipkan secara pas sehingga mampu mencairkan tensi ketegangan.
Humor tersebut hadir secara natural tanpa mengurangi intensitas cerita maupun ancaman yang dihadapi para tokohnya. Justru keseimbangan inilah yang membuat "The Furious" terasa sangat menghibur dari awal hingga akhir.
Dari sisi alur cerita, film ini juga berhasil menjaga ritme dengan baik. Setiap kali penonton merasa letih dengan adegan pertarungan, selalu ada perkembangan baru yang membuat rasa penasaran kembali muncul.
Unsur investigasi seorang jurnalis yang menyamar dan berhadapan langsung dengan "mafia" sindikat perdagangan manusia menjadi fondasi yang kuat untuk menjaga ketegangan dan rasa penasaran. Hook demi hook terus bermunculan hingga klimaks, membuat film tidak membosankan.
Pada akhirnya, "The Furious" adalah contoh bagaimana film aksi tidak hanya mengandalkan ledakan dan perkelahian, tetapi juga mampu menghadirkan cerita yang menarik serta karakter yang membuat penonton peduli.
Dengan jajaran bintang bela diri Asia yang impresif, koreografi laga kelas atas, dan kisah investigasi kriminal yang seru, film ini menjadi tontonan yang sangat memuaskan bagi penggemar genre aksi, terutama bagi pencinta film-film seperti "The Raid" atau "John Wick", maka "The Furious" adalah pengalaman yang sayang untuk dilewatkan.
Reuni panas Joe Taslim dan Yayan Ruhian setelah "The Raid"
Cuplikan adegan Joe Taslim dan Yayan Ruhian bertarung dalam trailer film "The Furious" (Dok. Lionsgate Films)
Salah satu daya tarik terbesar "The Furious" bagi penonton Indonesia adalah hadirnya kembali Joe Taslim dan Yayan Ruhian dalam satu layar.
Bagi penggemar film laga, pertemuan ini tentu menghadirkan nostalgia tersendiri. Keduanya pernah sama-sama mencuri perhatian dan mendapat apresiasi dunia melalui film "The Raid" pada 2011 silam yang menjadi tonggak penting kebangkitan film aksi Indonesia di kancah internasional.
Meski dalam "The Furious" mereka hadir dengan karakter dan latar cerita yang berbeda, kehadiran Joe dan Yayan tetap menjadi magnet utama.
Baca juga: Joe Taslim harap sineas lokal konsisten produksi film berkualitas
Joe Taslim tampil sebagai Navin, seorang jurnalis investigasi yang berusaha mengungkap sindikat perdagangan manusia, sementara Yayan Ruhian memerankan sosok yang memiliki peran penting dalam pusaran konflik yang dihadapi para tokoh utama.
Pertemuan dua aktor laga Indonesia ini menghadirkan dinamika yang menarik sekaligus menjadi salah satu momen yang paling dinantikan penonton. Kali ini mereka berduel beradu aksi dalam kubu yang berseberangan, menambah keseruan menonton utamanya pada akhir-akhir cerita.
Pendekatan berbeda dari karakter Navin
Cuplikan karakter Navin (Joe Taslim) dalam trailer film "The Furious" (Dok. Lionsgate Films)
Salah satu hal yang membuat Joe Taslim tertarik bergabung dalam "The Furious" adalah pendekatan berbeda yang ditawarkan oleh karakter Navin dibandingkan peran-peran aksinya sebelumnya.
Jika selama ini Joe sering memerankan tokoh yang digambarkan sangat dominan dalam pertarungan, bahkan cenderung “tak tersentuh” seperti dalam "The Night Comes for Us" atau "Mortal Kombat", maka Navin justru hadir sebagai sosok yang lebih realistis dan manusiawi.
Joe mengatakan, Navin digambarkan bukan sebagai petarung super bak "dewa", melainkan seorang jurnalis investigasi dengan latar belakang bela diri judo yang ia pelajari di masa muda.
"Selama ini aku main film karakternya cukup over the top ya, di film 'The Night Comes for Us' aku jago banget mau 100 orang pun dibantai sama dia, Ninjutsu di 'Mortal Kombat' pun dia sangat, sangat jago. Jadi karakter yang over the top yang cukup bisa diprediksi dia bisa menang," kata Joe.
Cuplikan anak-anak yang diculik sindikat perdagangan manusia dalam trailer film "The Furious" (Dok. Lionsgate Films)
Cuplikan seorang anak yang diculik sindikat perdagangan manusia, berusaha melarikan diri, dalam trailer film "The Furious" (Dok. Lionsgate Films)
Kemampuan itu tidak membuatnya menjadi sosok yang tak terkalahkan, tetapi lebih sebagai alat bertahan hidup dalam situasi berbahaya. Dalam setiap konflik, ia harus berjuang, terluka, jatuh bangun, dan terus bertahan hingga akhir.
Joe Taslim menekankan bahwa justru di situlah daya tarik karakter ini. Navin juga memiliki sisi rapuh secara emosional.
Menariknya lagi, Navin juga ditulis sebagai karakter yang memiliki sisi kemanusiaan yang kuat. Ia tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga memiliki tujuan yang lebih besar, yaitu menyelamatkan anak-anak yang menjadi korban.
Hal ini membuat setiap aksinya terasa lebih bermakna, bukan sekadar rangkaian adegan laga, tetapi juga perjalanan emosional seorang manusia yang berusaha bertahan di tengah situasi ekstrem.
“Aku merasa ini sesuatu yang baru saat memerankan karakter dia, seorang suami mencari istrinya yang hilang, dia bisa membela diri, tapi kita lihat dalam pertempuran dia adalah 'survivor', dan itu mengapa aku jatuh cinta sama karakter ini,” ujar Joe.
Baca juga: Ketangguhan Yayan Ruhian diakui global, Kenji Tanigaki ikut takjub
Baca juga: Joe Taslim ungkap alasan jatuh cinta dengan peran di "The Furious"
Baca juga: Joe Taslim dalami peran jurnalis di "The Furious" lewat dokumenter





