jpnn.com, JAKARTA - Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) menyatakan penurunan tajam harga minyak dunia hingga di bawah 80 dolar AS per barel berpotensi besar memperkuat dan melonggarkan ruang fiskal Indonesia tahun ini.
"Kami melihat bahwa ruang fiskal Indonesia akan lebih ringan terutama dengan penurunan harga minyak dunia," ujar Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) Muhammad Qodari di Jakarta, Rabu.
BACA JUGA: Prabowo Amankan Pasokan Minyak Rusia, Pimpinan MPR: Suplai Energi Masuk Zona Aman
Ia mengatakan perkembangan terbaru terkait meredanya konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel membuka harapan baru bagi stabilitas ekonomi global, meskipun situasinya masih perlu disikapi dengan kehati-hatian karena bersifat dinamis.
Menurut dia, penurunan harga minyak dunia menjadi salah satu kabar baik bagi Indonesia. Harga minyak yang sebelumnya berada di kisaran 93 dolar AS per barel kini telah turun hingga berada di bawah 80 dolar AS per barel.
BACA JUGA: Putin Kembali Mengancam: Berani Batasi Harga Minyak Rusia, Siap-Siap Terima Akibatnya
Dengan kebutuhan impor minyak Indonesia yang cukup besar, penurunan harga tersebut dapat mengurangi beban pengeluaran pemerintah sehingga memperbaiki ruang fiskal nasional.
"Jadi dengan kebutuhan impor Indonesia yang sekitar 1,6 juta barel per hari, maka kemudian tentunya bisa dikalikan untuk penghematan yang bisa dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Jadi ini kabar baik yang kita sambut dengan penuh harapan dan akan memberikan ruang fiskal yang juga lebih bagus," ujar Qodari.
BACA JUGA: Depot Minyak Rusia Ludes Terbakar, Ulah Ukraina?
Selain itu, ia mengatakan dalam beberapa hari terakhir sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perbaikan.
Indeks saham tercatat kembali berada di atas level 6.000, sementara nilai tukar rupiah berada di bawah Rp18.000 per dolar AS.
Ia juga menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap berada dalam kondisi baik.
"Kalau yang fundamental kan memang dari sebelum ini pun juga sudah bagus. Kita punya cadangan devisa yang masih di atas lima bulan. Kemudian juga inflasi kita yang masih terjaga, kemudian juga utang luar negeri kita yang di bawah rata-rata negara lain," kata Qodari.
Menurut dia, kondisi fundamental ekonomi yang baik tersebut berpotensi menjadi semakin kuat apabila perdamaian di Timur Tengah dapat tercapai.
"Jadi fundamental ekonomi Indonesia sangat baik dan tentu yang baik ini akan menjadi lebih baik lagi dengan perdamaian yang bisa dicapai di Timur Tengah," katanya.(antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean




