BEKASI, KOMPAS.com – Setahun setelah menyandang gelar sarjana, Muhammad Firgiawan (25) belum juga memperoleh pekerjaan tetap.
Lulusan Program Studi Sejarah dari salah satu universitas negeri di Semarang, Jawa Tengah pada 2025 itu kini memutuskan kembali ke kampung halamannya di Makassar, Sulawesi Selatan.
Pria yang akrab disapa Awan itu mengaku sejak awal bercita-cita bekerja di museum milik pemerintah.
Ketertarikan tersebut muncul sejak memutuskan mengambil jurusan Sejarah saat kuliah.
"Awalnya saya berpikir kalau masuk jurusan Sejarah akan banyak jalan-jalan, mengunjungi museum dan tempat-tempat bersejarah," ujar Awan saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, Rabu (17/6/2026).
Baca juga: Ketika Jurusan Tak Lagi Menentukan Karier: Kisah Sarjana Berbelok Arah di Dunia Kerja
Sejak saat itu, ia membayangkan kariernya akan berkaitan dengan dunia sejarah, seperti menjadi kurator museum, dosen, pegawai negeri sipil (PNS), atau bekerja di instansi pemerintah, termasuk Kementerian Kebudayaan.
Awan mulai aktif mengirim lamaran pekerjaan sebelum diwisuda pada April 2025.
Saat itu, ia memanfaatkan waktu menjelang kelulusan untuk mulai mencari pekerjaan.
"Waktu itu saya berpikir tinggal menunggu wisuda sehingga sekalian mulai mencari pekerjaan. Kalau nantinya diminta ijazah, tinggal saya lengkapi setelah wisuda," katanya.
Sejumlah institusi telah menjadi tujuan lamarannya, mulai dari Lokananta, Museum MACAN, Galeri Nasional, Museum PENA, hingga berbagai museum lainnya.
Meski telah mengirim lamaran ke ratusan lowongan pekerjaan, hingga kini ia belum pernah menerima panggilan wawancara maupun dinyatakan lolos seleksi administrasi.
"Sampai sekarang saya masih terus melamar, tetapi belum pernah mendapat panggilan ataupun informasi lolos administrasi," ungkapnya.
Tak hanya museum, Awan juga sempat melamar ke Ereveld, kompleks makam Belanda di Benteng Pendem Semarang dan Surabaya.
Menurutnya, pekerjaan tersebut sangat sesuai dengan latar belakang akademiknya karena penelitian skripsinya membahas Hindia Belanda.
Baca juga: 1 Juta Sarjana Menganggur, Apa Saja yang Perlu Dibenahi?
Ia juga memiliki kemampuan dasar berbahasa Belanda.
"Saya berharap sekali bisa bekerja di sana. Sayangnya sampai sekarang belum ada panggilan," tuturnya.
Sambil terus mencari pekerjaan tetap, Awan memilih menjalani pekerjaan lepas (freelance) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun, proses mencari pekerjaan formal tak jarang membuatnya putus asa.
"Saya pernah putus asa, bahkan sering. Kadang dalam satu bulan sudah melamar ke banyak perusahaan tetapi tidak ada satu pun yang menerima," ujarnya.
Awan mengaku sempat merasa kemampuannya kalah dibandingkan pelamar lain.
Meski begitu, ia tidak bisa berhenti mencari pekerjaan karena kebutuhan hidup terus berjalan.
Ia mengatakan, kenaikan harga kebutuhan pokok semakin terasa karena hingga kini penghasilannya hanya berasal dari proyek-proyek freelance yang jumlahnya tidak menentu.
"Di sisi lain ada kebutuhan yang harus dibayar dan kebutuhan makan sehari-hari. Jadi saya tidak bisa menyerah begitu saja," katanya.
Di tengah kondisi tersebut, dukungan keluarga menjadi penyemangat terbesar baginya.
"Mereka sering mengirimkan informasi lowongan pekerjaan dan menyarankan saya mencoba melamar ke berbagai tempat." ungkapnya
Awan bersyukur kedua orangtuanya tidak pernah memberikan tekanan mengenai pekerjaannya.
"Yang saya syukuri, mereka tidak pernah menekan saya dengan pertanyaan seperti 'Kapan kerja?'. Mereka tahu saya tetap berusaha karena saya masih mengerjakan proyek-proyek freelance," ujarnya.
Baca juga: Satu Juta Sarjana Menganggur dan Skills Mismatch di Kampus Kita
Awan mengatakan, keputusannya menekuni pekerjaan freelance didasari keinginan untuk terus mengembangkan kemampuan sambil menunggu kesempatan memperoleh pekerjaan tetap.
Saat ini ia mengerjakan berbagai proyek, mulai dari copywriting, pengolahan data, data entry, hingga desain grafis.
"Dari situ saya belajar banyak hal baru, mulai dari penggunaan Word, Excel, Photoshop, hingga berbagai aplikasi lain yang sebelumnya belum saya kuasai," katanya.
Menurut Awan, pengalaman tersebut akan menjadi nilai tambah ketika kembali melamar pekerjaan.
"Harapannya, ketika nanti melamar ke perusahaan besar, saya sudah memiliki daya tawar berupa pengalaman dan keterampilan yang diperoleh selama menjadi freelancer." ucapnya.
Saat ini, ia banyak mengerjakan proyek copywriting berupa pembuatan caption dan konten media sosial untuk perusahaan.





