Perburuan Sekolah dan Komodifikasi Pendidikan

katadata.co.id
12 jam lalu
Cover Berita

Sekolah mana yang tepat untuk anak-anak kita? Pertanyaan itu tampaknya lebih banyak dipertanyakan oleh orang tua kini, terutama di momen seleksi penerimaan murid baru. Jika merefleksikan dengan pengalaman saya bersekolah (sekolah dasar hingga perguruan tinggi) di rentang tahun 1990an hingga 2009, pemilihan sekolah untuk anak-anak kini terasa begitu berbeda. 

Dahulu sekolah-sekolah swasta belum variatif seperti saat ini. Sehingga orang tua cenderung memilih sekolah negeri bagi pendidikan anak-anak mereka. Alasannya sederhana yaitu biaya yang murah dan kualitas sekolah negeri yang terjangkau. Di samping itu pemilihan sekolah juga berdasar jarak tempuh. 

Jika mengobrol dengan rekan-rekan yang “satu angkatan”, yaitu mereka yang lahir di periode tahun 1980an akhir, alasan pemilihan sekolah tampak mirip. Pilihan jatuh pada sekolah negeri favorit di tingkat kecamatan atau kabupaten/kota. 

Pada zaman itu, sekolah swasta menjadi pelarian terakhir bagi anak-anak yang nilainya tidak memadai untuk masuk ke sekolah negeri. Adapun sekolah-sekolah swasta yang berbiaya mahal tidak bisa dijangkau oleh banyak orang tua. Hanya keluarga dengan kapital ekonomi yang memadai dapat mengakses sekolah-sekolah swasta tersebut. 

Variasi Pendidikan untuk Anak

Saat ini sekolah-sekolah swasta semakin variatif dengan ragam atributnya. Ada sekolah internasional, sekolah berbasis agama, sekolah alam, sekolah berbasis asrama, dan campuran dari kategori-kategori tersebut. Di luar itu, kita kenal sekolah rakyat dan sekolah garuda, label baru yang diciptakan negara. 

Sekolah-sekolah swasta menawarkan profil anak-anak yang juga diimajinasikan oleh orang tua. Legitimasi keberhasilan mendidik di tiap sekolah ditampilkan dengan ciamik di website atau media sosial masing-masing sekolah melalui prestasi akademik dan non-akademik, profil karakter, jumlah penerimaan di perguruan tinggi negeri dan swasta, atau yang terbaru: capaian nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA). 

Sekolah-sekolah swasta pun aktif menampilkan ragam fasilitas yang dimiliki oleh sekolah. Fasilitas sekolah yang lengkap adalah front stage (panggung depan) terbaik, meminjam istilah Erving Goffman, yang bisa ditampilkan untuk promosi. 

Pada bulan-bulan tertentu sekolah melakukan open house atau pameran dan unjuk bakat murid di pusat perbelanjaan. Tujuannya memperkenalkan sekolah ke masyarakat. 

Untuk menarik minat orang tua, potongan harga menggiurkan ditawarkan bagi mereka yang mendaftar lebih awal. Banyak sekolah swasta yang momen open house-nya sudah ditunggu, hingga kuotanya pun harus diperebutkan. Ada juga sekolah swasta yang daftar tunggunya hingga beberapa tahun ke depan. 

Naluri “sapiens” dalam perburuan pun nampak terejawantahkan dalam perburuan sekolah. Dalam perburuan ini dibutuhkan akurasi yang kokoh seperti informasi yang kuat mengenai sekolah, pemilihan bimbingan belajar yang tepat bagi anak agar mereka dapat memenuhi nilai minimal yang dibutuhkan, dan hingga waktu yang tepat untuk memulai perburuan. Semua itu adalah pengetahuan penting agar “buruan” sekolah yang dituju dapat diraih. 

Lalu, apakah sekolah-sekolah negeri menempati posisi terakhir sebagai pilihan orang tua? Dalam diskusi dengan beberapa orang tua, sekolah-sekolah negeri tetap menjadi tujuan orang tua dan anak-anak. Terutama sekolah-sekolah negeri dengan rekam jejak panjang, yang dianggap sebagai sekolah favorit atau sekolah unggulan. 

Persaingan untuk masuk ke sekolah-sekolah negeri pun sangat kompetitif. Berita-berita persaingan PPDB maupun SPMB di setiap tahun menunjukkan betapa untuk masuk ke sekolah-sekolah negeri menjadi persaingan sengit.

Ada juga fenomena menarik di kawasan urban, yaitu ketika sebagian orang tua berupaya mendidik anak-anak melalui homeschooling. Pada awalnya kehadiran homeschooling merupakan bagian dari deschooling, meminjam Ivan Illich, akibat ketidakpercayaan orang tua terhadap pendidikan formal. 

Ada orang tua yang resah dengan tumbuh kembang anak, kekerasan di sekolah, atau hal-hal lainnya yang membuat pilihan dijatuhkan pada homeschooling. Intinya sekolah formal dianggap tak mampu mengakomodasi pendidikan yang menjadi imaji orang tua. 

Idealisasi homeschooling tersebut kemudian “direbut” oleh ragam institusi pendidikan, sebagai respon terhadap permintaan pasar. Sinyal pasar tersebut ditangkap sebab tak semua orang tua yang berminat pada homeschooling tak sanggup mendidik dan mengajar anak secara langsung. 

Akhirnya, mereka pun “menitipkan” anak-anak mereka ke institusi pendidikan yang menyatakan diri sebagai penyelenggara homeschooling. Akar homeschooling, yang awalnya ada pada dialog orang tua dan anak dalam memilih pola pendidikan yang lebih bebas atau mandiri, akhirnya harus diserahkan pada pihak atau lembaga lain, sama seperti sekolah formal. 

Titik pembedanya adalah proses pembelajarannya menjadi lebih fleksibel, tidak seketat dan seintens sekolah formal. Biayanya pun sangat bervariasi seperti halnya sekolah formal, dari rentang ekonomis hingga yang elitis. 

Gelisah Orang Tua

Keresahan memilih sekolah dapat terjadi karena beberapa faktor. Keresahan yang lebih besar ada pada keluarga menengah. Mengapa? Pertama, pengalaman panjang mendapat pendidikan tinggi membuat pijakan aspirasi untuk memberikan pendidikan berkualitas bagi anak-anaknya semakin tinggi. 

Keluarga ini menyadari bahwa proses pendidikan yang baik, ditandai dengan pemilihan sekolah yang tepat, akan berefek pada peningkatan taraf hidup anak-anak mereka di masa depan. Dengan memilih sekolah yang berkualitas, maka anak-anak akan mendapat asupan pengetahuan dan jaringan pertemanan yang memadai. 

Hal tersebut menjadi bagian penting untuk menunjang peningkatan kapabilitas dan sosialisasi anak-anak. Tak ada yang bisa diwarisi kecuali pendidikan yang baik, demikian celoteh seorang teman yang memilih sekolah swasta untuk pendidikan anaknya. 

Kedua, para orang tua dari keluarga menengah atas memiliki kapital ekonomi yang memungkinkan mereka dapat memilih sekolah yang dianggap cocok dengan kebutuhan anak-anak mereka. Namun, dilema yang lebih tinggi hadir di kalangan keluarga menengah. 

Imajinasi mereka tinggi soal pendidikan anak juga termasuk dalam pembiayaan kursus, les, dan peningkatan kapabilitas terkait minat dan bakat; tetapi kondisi ekonomi keluarga tidak sepenuhnya mendukung. Jika pun bisa masuk, mereka akan tergopoh-gopoh membiayai pendidikan anak-anak. 

Untuk memasukan anak-anak di sekolah swasta yang lebih presisi memperhatikan tumbuh kembang anak-anak mereka terkadang penghasilan dua orang (ayah ibu yang bekerja) masih belum cukup. Akhirnya mereka memiliki keterbatasan-keterbatasan untuk memberikan fasilitas terbaik bagi anak-anak mereka. 

Sebab, ketika masuk ke sekolah-sekolah swasta maka bukan hanya biaya pendidikan yang tinggi, tetapi biaya sosial atau pergaulan anak-anak pun meningkat. Juga ditambah biaya untuk kursus dan lainnya. Untuk menjaga nafas membiayai pendidikan anak hingga perguruan tinggi pun semakin sulit. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang tak stabil.

Untuk keluarga dari kelas atas, pemilihan sekolah ada dalam kerumitan yang berbeda seperti apakah mau sekolah swasta nasional, internasional, atau mau ke luar negeri saja? Toh, untuk keluarga ini variabel biaya tak menjadi soal besar. 

Keluarga menengah yang ada pada posisi terjepit, sebab imajinasi elite ada di kepala orang tua, tapi kapasitas fiskal keluarga masih sulit untuk menjangkau sekolah yang diinginkan. Meski “kaki di kepala, kepala di kaki” untuk bekerja keras, meminjam lagu Peterpan, biaya sekolah-sekolah swasta tersebut tetap tidak terjangkau.  

Pemilihan sekolah untuk keluarga menengah bawah tidak terlalu rumit. Sebab mereka cenderung “pasrah” menerima sekolah-sekolah negeri yang ada di sekitar lingkungan rumah atau sekolah-sekolah swasta yang lebih terjangkau. 

Dengan ragam keterbatasan mereka berusaha agar anak-anak ini mendapatkan kualitas pendidikan yang baik, yang dalam taraf tertentu jauh sekali dengan kualitas pendidikan di sekolah negeri favorit atau sekolah swasta elit. 

Timpang? Ya, kita harus jujur pendidikan di Indonesia memang penuh ketimpangan. Jangankan ketimpangan antarpulau di Indonesia yang data-datanya sudah tersedia. Mari secara jujur bicara ketimpangan antarsekolah di satu kecamatan. 

Di satu kecamatan saja, kualitas sekolah bisa sangat berbeda. Di mana sekolah-sekolah swasta elite berada? Kita bisa dengan mudah mendapatkan sekolah-sekolah ini dibangun di lokasi perumahan-perumahan elite juga. 

Perburuan sekolah berdasar kapital ekonomi menunjukkan segregasi memang sengaja diciptakan, komodifikasi pendidikan nampak dibiarkan. Pagar-pagar imajinari dan non-imajinari dibuat atas nama pendidikan. 

Situasi yang tampak semakin jelas ketika anak-anak dari perumahan-perumahan elite bergabung dengan sesamanya di sekolah-sekolah yang memiliki fasilitas dahsyat. Kondisi yang membuat perjumpaan antarkelas sosial ekonomi semakin minim terjadi dan hal ini tentu rentan untuk Indonesia yang bhineka. 

Pada titik ini, sudah pasti negara harus mengatur dengan tertib. Keadilan sosial artinya setiap warga negara berhak mendapat pendidikan berkualitas, bukan karena basis kapital ekonomi tiap keluarga. 

Investasi pendidikan harus ada di kendali negara, bukan pada biaya besar yang harus dikeluarkan oleh tiap-tiap keluarga. Sebab jika demikian, sudah jelas siapa yang akan menikmati pendidikan berkualitas dan menuainya di masa depan. Bukankah setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan berkualitas?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prakiraan Cuaca Hari Ini di Jakarta: Cerah Berawan hingga Malam
• 11 jam laluliputan6.com
thumb
Usai Eksekusi, Pengelolaan Hotel Sultan Diserahkan ke Setneg dan PPKGBK 
• 4 jam laluidxchannel.com
thumb
Sinopsis Drama China Never Ending Summer yang Tayang 16 Juni 2026, Cinta Lama Bersemi Kembali di Tengah Konflik
• 8 jam lalugrid.id
thumb
Ketahanan Ekonomi Nasional Jadi Kunci Hadapi Gejolak Global
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
Italia Buka Lagi Kedutaan di Teheran Lusa Usai Iran-AS Damai
• 19 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.