PT PAL Indonesia dikabarkan mendapatkan kontrak dari Kementerian Pertahanan untuk pengadaan sejumlah kapal selam otonom atau KSOT. Namun, jumlahnya masih belum diungkap hingga kini.
Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod mengungkapkan kabar kontrak tersebut dalam sebuah wawancara dengan Janes, penerbit independen yang mengumpulkan, memvalidasi, dan menganalisis data militer dari seluruh dunia, di Surabaya, Jawa Timur. Ia menyebut bahwa KSOT telah melewati fase prototipe dan demonstrasi menuju pengadaan.
Proses pengembangan KSOT oleh PT PAL Indonesia dimulai pada November 2022. Saat itu, dalam ajang pameran Indo Defence 2022, Kaharuddin Djenod menandatangani nota kesepahaman dengan Alois Gnadl, Director of Sales untuk South East Asia Diehl Defense, sebuah perusahaan pertahanan yang berbasis di Jerman.
Dikutip dari keterangan tertulis PT PAL Indonesia beberapa waktu lalu, proyek kapal selam otonom tersebut merupakan mandat dari Kementerian Pertahanan kepada PT PAL. ”Sudah beberapa waktu lalu kita diharapkan bisa menghasilkan suatu produk kapal selam yang memiliki efek gempur yang tinggi sekaligus dikendalikan tanpa awak,” tuturnya.
PT PAL Indonesia kemudian bekerja sama dengan Diehl Defense untuk mengembangkan kapal selam otonom tanpa awak. Untuk pengembangan desain dan pembangunannya dilakukan di PT PAL Indonesia.
Dalam parade perayaan Hari Ulang Tahun Ke-80 Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 5 Oktober 2025, KSOT diperkenalkan dengan nomor lambung KSOT-008. Kapal selam buatan PT PAL Indonesia itu disebut akan memperkuat jajaran alutsista TNI.
PT PAL Indonesia menyatakan, KSOT yang ditampilkan di parade HUT TNI tersebut merupakan karya anak bangsa. Kapal selam otonom tersebut merupakan inovasi PT PAL Indonesia yang menjadi bukti kepercayaan TNI terhadap produk alutsista dalam negeri.
KSOT-008 disebut mampu menjelajah di bawah permukaan air dalam waktu 72 jam, memiliki kecepatan jelajah maksimal 20 knot, serta memiliki jangkauan maksimum 200 nautical mile. Sebagai kapal selam untuk tujuan militer, persenjataan yang dibawa juga tidak main-main. KSOT-008 disebut dapat dibekali dengan 6 torpedo Black Shark, rudal Exocet, serta dilengkapi alat navigasi yang canggih.
Meski tidak dirinci, Djenod sebagaimana dikutip dari Janes, mengatakan bahwa varian yang dikontrak akan lebih besar daripada prototipe yang didemonstrasikan pada Oktober 2025. Selain itu, KSOT akan membawa delapan torpedo ringan. Detail tambahan tentang kontrak dan kapal selam tersebut akan diungkapkan pada Oktober 2026 mendatang atau bertepatan dengan acara peringatan 81 tahun TNI.
Dalam uji coba penembakan torpedo perdana dari KSOT buatan PT PAL Indonesia pada Oktober 2025, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyimpulkan adanya kebutuhan mendesak untuk alutsista kapal selam tanpa awak. Ia pun menargetkan 30 kapal selam tersebut sudah direalisasikan pada 2026. Kehadiran kapal-kapal itu menjaga seluruh choke point nasional akan memberikan efisiensi personel, material, dan waktu.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait ketika dikonfirmasi pada Rabu (17/6/2026), mengatakan, pihaknya mendukung pengembangan teknologi dan industri pertahanan nasional, termasuk berbagai inovasi yang dikembangkan oleh PT PAL Indonesia.
Pengembangan KSOT oleh PT PAL Indonesia merupakan salah satu bentuk kemajuan teknologi yang berpotensi mendukung kebutuhan pertahanan ataupun kepentingan nasional lainnya di masa depan.
”Terkait informasi yang beredar, kami memahami bahwa yang disampaikan merupakan bagian dari pengembangan dan penjajakan kemampuan teknologi industri pertahanan dalam negeri,” ucap Rico.
Menurut Rico, setiap program pengadaan di lingkungan Kemenhan akan dilaksanakan sesuai kebutuhan operasional, prioritas pembangunan kekuatan pertahanan, serta mekanisme perencanaan yang berlaku.
Secara terpisah, peneliti Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia, Beni Sukadis, berpandangan, pengembangan KSOT oleh PT PAL memang dapat dipandang sebagai upaya mendorong kemandirian industri pertahanan nasional. Namun, langkah ini juga layak dikritisi secara serius karena berpotensi menjadi lompatan teknologi yang terlalu jauh dibanding kemampuan yang saat ini telah dikuasai Indonesia.
Pengalaman industri nasional selama ini lebih banyak berada pada pembangunan kapal permukaan dan produksi bersama kapal selam konvensional dengan mitra asing. Sementara teknologi wahana bawah laut tanpa awak (UUV) yang menjadi fondasi utama KSOT masih merupakan bidang yang sangat kompleks dan belum banyak dikuasai negara berkembang.
Pertanyaan mendasarnya adalah apakah Indonesia telah memiliki penguasaan teknologi sensor bawah laut, kecerdasan buatan, navigasi otonom, komunikasi bawah air, serta integrasi sistem tempur yang memadai sebelum melangkah ke proyek KSOT.
Tanpa penguasaan teknologi inti tersebut, proyek itu berisiko lebih menjadi demonstrasi ambisi daripada kemampuan nyata. Selain itu, publik berhak mempertanyakan prioritas anggaran dan kebutuhan operasionalnya.
Oleh karena itu, tengah masih terbatasnya jumlah kapal selam konvensional dan tantangan pemeliharaan alutsista yang ada, pengembangan KSOT harus dibuktikan memiliki manfaat strategis yang jelas. ”Bukan sekadar mengejar prestise teknologi atau tren modernisasi pertahanan global,” ujarnya.
Di tengah tingginya ekspektasi terhadap teknologi pertahanan modern, proyek KSOT masih harus menjawab sejumlah pertanyaan mendasar terkait kesiapan teknologi, kebutuhan operasional, dan efektivitas penggunaan anggaran. Keberhasilan proyek ini pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan industri nasional menguasai teknologi inti, bukan hanya menghadirkan produk yang menarik perhatian publik.





