Hamparan sawah di Desa Medalkrisna, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, terlihat mengering, Rabu (17/6/2026). Proyek Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Selatan Paket II B ruas Sukaragam-Bojongmangu tampak membelah hamparan sawah tersebut.
Memasuki kemarau, tidak banyak yang bisa dilakukan pemilik lahan terhadap sawah tadah hujan miliknya itu. Sudah sekitar dua bulan terakhir tidak ada hujan yang cukup untuk membasahi sawah tersebut.
Tanah retak akibat kemarau. (Kompas/Agus Susanto)
Areal sawah yang mengering. (Kompas/Heru Sri Kumoro)
Sawah yang kering dan pompa yang hilang. (Kompas/Agus Susanto)
Selain sawah yang tidak bisa ditanami, kemarau juga membuat warga di daerah ini kesulitan air. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti untuk mandi dan mencuci, warga harus berusaha lebih keras. Apalagi pompa sumur manual yang ada di sekitar areal persawahan yang selama ini menjadi andalan warga untuk mendapatkan air bersih hilang.
Siang itu, salah seorang warga, Emid, mengendarai sepeda motornya melewati Jalan Bedeng yang berada di tengah sawah yang mengering menuju penggilingan padi yang sekaligus menjadi gudang gabah. Ia mampir sebentar mengamati pompa sumur manual yang sudah berusia lebih dari 20 tahun.
”Sudah lebih dari tujuh kali pompa manual di sumur ini hilang. Padahal, ini andalan warga karena airnya tidak asin (payau). Kalau air di kampung, meski sudah dibor 60 meter, tetap rasanya asin. Kekeringan melanda desa ini dalam dua bulan terakhir. Warga harus beli air Rp 60.000 yang isinya 1.000 liter. Bisa dipakai satu minggu untuk satu keluarga. Air dipakai untuk mandi dan mencuci,” kata Emid.
Ada dua pompa sumur di desa tersebut. Dua-duanya hilang. Selain di Jalan Bedeng, satu lagi di Jalan Lurah Parman. Dua-duanya terletak di pinggir jalan di areal persawahan yang jalannya hanya muat satu kendaraan roda empat.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga terpaksa menyedot air dari Situ Bedeng Medalkrisna yang berjarak sekitar 2 kilometer dari tempat tinggal mereka. Mereka menggunakan mesin penyedot air untuk mengalirkan air dari situ ke bak air di atas mobil.
Omid dan Ujang adalah warga yang siang itu sedang menyedot air. Mereka bergantian menyedot air di Situ Bedeng Medalkrisna. Setelah menurunkan mesin diesel penyedot air, selang disambung sehingga sampai menuju tangki kotak berwarna putih.
Pompa penyedot air. (Kompas/Agus Susanto)
Menghidupkan pompa. (Kompas/Agus Susanto)
Pompa dan bak penampungan. (Kompas/Agus Susanto)
Menutup bak air yang sudah penuh. (Kompas/Agus Susanto)
Antre menyedot air. (Kompas/Agus Susanto)
Tak sampai 15 menit, air sudah penuh 1.000 liter. Setelah penuh, mereka membawa air tersebut ke area permukiman warga di Kampung Kaum.
”Air yang ditampung dalam tangki kapasitas 1.000 liter ini dijual Rp 50.000 hingga Rp 60.000 (tergantung jarak). Warga menggunakan air ini untuk mandi dan cuci pakaian. Sehari saya bisa mengangkut lima rit. Kalau puncaknya musim kemarau, akan lebih banyak lagi mobil bak terbuka yang mengangkut air. Situ Bedeng Medalkrisna adalah situ tadah hujan. Repot juga kalau habis. Terpaksa mengambil air ke Sungai Cipamingkis yang akses jalannya tidak bagus,” tutur Ujang.
”Musim kemarau tahun 2019 dan 2023, air di Situ Bedeng Medalkrisna kering hingga dasar situnya terlihat. Warga hanya berharap ada hujan. Situ ini banyak digunakan warga untuk mencari ikan, irigasi pertanian, hingga mencuci dan mandi,” kata Andi, pemilik warung di depan Situ Bedeng Medalkrisna.





