Harga Minyak Menguat Usai Trump Resmi Teken Kesepakatan Damai dengan Iran

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak dunia naik hampir 1 persen pada Rabu (17/6) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandatangani kesepakatan damai dengan Iran. Namun, ada kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan minyak pada tahun depan yang dapat membatasi penguatan harga.

Dikutip dari Reuters, Kamis (18/6), kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup naik 59 sen atau 0,75 persen menjadi USD 79,55 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 74 sen atau 0,97 persen menjadi USD 76,79 per barel.

Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah resmi menandatangani kesepakatan damai untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. AFP dalam laporannya mengungkap bahwa seorang pejabat AS mengatakan Trump menandatangani nota kesepahaman itu saat makan malam dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Versailles setelah KTT G7.

"Baru saja saya tanda tangani," kata Trump kepada wartawan saat keluar dari istana.

“Masih ada sedikit ketidakpastian terkait situasi AS, karena itu masuk akal jika harga minyak kembali menguat dari level saat ini setelah mengalami penurunan yang cukup tajam dalam beberapa hari terakhir,” kata analis pasar City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada.

Sementara itu, Israel kembali meluncurkan serangan udara dan tembakan artileri di sejumlah kota di Lebanon selatan pada Rabu (17/6). Sumber keamanan Lebanon menyebut kelompok Hezbollah juga melancarkan dua serangan drone terhadap pasukan Israel di wilayah selatan.

Nota kesepahaman ini menyerukan penghentian permusuhan antara Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran di Lebanon.

Dari sisi pasokan, persediaan minyak mentah Amerika Serikat turun untuk pekan ke-10 berturut-turut pada pekan lalu seiring lonjakan permintaan. Menurut data Administrasi Informasi Energi AS (EIA) yang dirilis pada Rabu (17/6), kondisi ini mendorong total stok minyak ke level terendah sejak 1985, di tengah berlanjutnya perang Iran yang mengganggu pasar energi global.

“Amerika Serikat dan negara-negara lain di dunia terus mengurangi cadangan strategis maupun persediaan komersial mereka sebagai upaya untuk meredam gangguan pasokan di Timur Tengah,” kata Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow.

Meski demikian, ancaman kelebihan pasokan membayangi pasar. Dalam proyeksi awalnya untuk 2027, Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan pasar minyak akan memasuki periode kelebihan pasokan yang signifikan, dengan pasokan global diperkirakan melonjak 8 juta barel per hari, sementara permintaan hanya meningkat sekitar 2 juta barel per hari.

Dalam jangka pendek, lembaga tersebut menilai kesepakatan antara Iran dan AS dapat menjadi peluang untuk mengisi kembali persediaan yang telah menipis atau membangun cadangan strategis baru.

“Pasar mungkin masih meremehkan besarnya kelebihan pasokan yang akan masuk ke pasar,” kata analis riset Empire FX, Crispus Nyaga.

Meskipun demikian, para pelaku industri menilai pemulihan penuh produksi dan kapasitas pengilangan ke tingkat sebelum perang kemungkinan membutuhkan waktu beberapa minggu, beberapa bulan, bahkan hingga bertahun-tahun.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tok! The Fed Tahan Suku Bunga Acuan di Level 3,5%-3,75%
• 15 jam lalubisnis.com
thumb
4.131 Personel Gabungan Kawal Demo Jakarta Hari Ini, Simak Titik Aksi
• 3 jam laluliputan6.com
thumb
Kronologi kasus siswi SMAN 6 terjatuh dan terlindas di Jalan Lauser
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Pemerintah Siapkan Stimulus Non-Tunai, Ini Penerimanya!
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Gisel Deg-degan Pertama Kali Main Sinetron, Akting Bareng Suami Amanda Manopo
• 9 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.