Bisnis.com, JAKARTA — Respons pasar keuangan global terhadap hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Bank Sentral AS (The Fed) menunjukkan investor mulai bersiap menghadapi kemungkinan kebijakan moneter Amerika Serikat yang lebih ketat dari perkiraan sebelumnya.
Tim riset Phintraco Sekuritas mengatakan kendati The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,5%-3,75%, sinyal kenaikan suku bunga pada tahun ini memicu gejolak di pasar saham, obligasi, hingga komoditas.
Indeks-indeks utama di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu (17/6) dengan koreksi mayoritas saham sektor energi seiring meningkatnya ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter AS.
Investor merespons negatif revisi proyeksi suku bunga The Fed yang menunjukkan median Fed Funds Rate pada akhir 2026 berada di level 3,8%, lebih tinggi dibandingkan proyeksi Maret sebesar 3,4%.
"Kenaikan proyeksi tersebut menunjukkan bahwa komite tersebut melihat setidaknya satu kenaikan suku bunga sebagai hal yang diperlukan pada tahun 2026," tulis Phintraco Sekuritas, Kamis (18/6/2026).
Sentimen tersebut langsung tercermin di pasar obligasi. Imbal hasil Treasury AS tenor dua tahun melonjak 16 basis poin ke level 4,216%, sementara yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik lebih dari 7 basis poin menjadi 4,499%.
Sinyal hawkish The Fed juga memberikan tekanan pada pasar emas. Harga emas spot terkoreksi 1,03% ke level US$4.285 per troy ounce.
Kevin Warsh Tambah Unsur KetidakpastianNamun, yang menjadi perhatian pasar bukan hanya proyeksi suku bunga, melainkan juga dinamika baru di tubuh The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.
Dalam rapat kali ini, Warsh memilih abstain terhadap proyeksi suku bunga yang dirilis komite. Meski demikian, pernyataan-pernyataannya dinilai tetap menempatkan stabilitas harga sebagai prioritas utama, sehingga memberikan kesan bahwa bank sentral AS masih cenderung hawkish.
Equity Research Analyst OCBC Sekuritas, Devi Praharsa, menilai pasar kini tengah beradaptasi dengan gaya komunikasi Warsh yang berbeda dibandingkan pendahulunya, Jerome Powell.
"Style komunikasi Warsh akan berubah dan cenderung lebih sedikit memberikan panduan [forward guidance] dibandingkan Powell. Dampaknya, tingkat ketidakpastian pasar kemungkinan menjadi sedikit meningkat," ujar Devi.
Menurutnya, selama inflasi masih terkendali, kebutuhan untuk menaikkan suku bunga sebenarnya dapat berkurang. Apalagi jika gencatan senjata di Timur Tengah terbukti berkelanjutan dan mampu menjaga harga minyak tetap rendah.
"Kalau inflasi masih terkendali karena ceasefire cukup berkelanjutan dan harga minyak turun, kemungkinan urgensi untuk menaikkan suku bunga berkurang," katanya.





