Menurut laporan Financial Times, CEO Mitsui OSK Lines, Jotaro Tamura, menilai perusahaan-perusahaan pelayaran global masih akan berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk kembali melintasi Selat Hormuz.
Baca juga: Uni Eropa Siapkan Jalur Perdagangan Alternatif untuk Kurangi Ketergantungan pada Selat Hormuz
Operator kapal, kata dia, membutuhkan kepastian bahwa kondisi keamanan di lapangan benar-benar telah membaik sebelum mengaktifkan kembali rute pelayaran secara penuh.
Tamura menjelaskan kesepakatan politik saja belum cukup untuk memulihkan kepercayaan pelaku industri maritim. Implementasi nyata dan stabilitas keamanan di kawasan menjadi faktor utama yang akan menentukan kapan lalu lintas kapal dapat kembali berjalan normal.
Ia memperkirakan proses pemulihan tidak akan terjadi dalam hitungan hari. Dengan mempertimbangkan berbagai hambatan dan ketidakpastian yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, normalisasi aktivitas pelayaran diperkirakan memerlukan waktu beberapa pekan hingga sekitar satu bulan.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia. Sebelum konflik berlangsung, lebih dari 20 persen pasokan minyak global serta pengiriman gas alam cair (LNG) melewati perairan tersebut. Selain energi, jalur ini juga menjadi rute penting bagi distribusi berbagai komoditas dan barang konsumsi menuju negara-negara kawasan Teluk.
Sebelum ketegangan meningkat, sekitar 135 kapal melintas setiap hari di Selat Hormuz. Namun sejak konflik memanas, jumlah kapal yang beroperasi di kawasan itu mengalami penurunan signifikan.
Mitsui OSK Lines sendiri mengoperasikan lebih dari 900 kapal di seluruh dunia, termasuk ratusan kapal tanker pengangkut minyak mentah, produk olahan minyak, dan bahan kimia. Menjelang tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran, perusahaan tersebut telah memindahkan empat kapalnya keluar dari kawasan Teluk. Sementara itu, sedikitnya tujuh kapal lainnya masih menunggu kesempatan aman untuk melintasi Selat Hormuz.
Situasi yang belum sepenuhnya pulih membuat sejumlah pelaku industri meminta adanya koordinasi internasional dalam proses pembukaan kembali jalur pelayaran. Perusahaan-perusahaan pelayaran dan pemilik kapal mendesak Organisasi Maritim Internasional (IMO) untuk mengatur pergerakan ratusan kapal yang saat ini masih tertahan di kawasan Teluk.
Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez mengatakan pihaknya tengah mengevaluasi tingkat keamanan pelayaran di Selat Hormuz, termasuk risiko yang berasal dari kemungkinan keberadaan ranjau laut maupun kepadatan lalu lintas kapal. Selain itu, IMO juga berupaya menyiapkan koridor aman bagi para pelaut yang telah terjebak di kawasan tersebut selama lebih dari tiga bulan.
Di sisi lain, perusahaan pelayaran peti kemas global Hapag-Lloyd menyambut positif perkembangan diplomatik terbaru antara AS dan Iran. Perusahaan berharap kapal-kapal yang selama ini tertahan dapat segera kembali beroperasi.
Meski demikian, Direktur Kelautan Intertanko Philip Belcher mengingatkan bahwa setiap operator tetap perlu melakukan penilaian risiko secara menyeluruh sebelum memutuskan berlayar. Menurutnya, kehati-hatian tetap menjadi kunci untuk memastikan keselamatan awak dan kapal di tengah proses transisi menuju normalisasi.
Perkembangan ini terjadi seiring langkah AS dan Iran menuju penyelesaian formal konflik yang telah berlangsung hampir empat bulan. Pejabat AS menyebut kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman sebagai dasar penghentian konflik, sementara penandatanganan resmi kesepakatan dijadwalkan berlangsung pada pekan ini.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)





