JAKARTA - Gempa berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada 16 Juni 2026 kembali menegaskan tingginya kerentanan geologis di wilayah tersebut. Gempa kerak dangkal yang dipicu aktivitas sesar aktif itu menunjukkan bahwa ancaman seismik di Sulawesi tidak hanya berasal dari Sesar Palu-Koro, tetapi juga dari percabangan sesar kompleks di sekitarnya.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan kawasan Palolo dan Sausu merupakan zona tarikan atau pull-apart yang terbentuk akibat dinamika Sesar Palu-Koro. Ketidaksempurnaan pada jalur sesar geser utama menyebabkan peregangan kerak bumi yang membentuk sesar-sesar turun dan cekungan yang kemudian terisi endapan sedimen.
"Inilah yang menjadi kunci mengapa guncangan gempa ini menjadi sangat destruktif. Endapan sedimen yang lunak di wilayah cekungan cenderung mengamplifikasi atau memperkuat gelombang seismik, menyebabkan bangunan di atasnya menerima guncangan jauh lebih kuat dibandingkan area dengan batuan dasar yang keras," kata Daryono dalam keterangannya, Rabu (17/6/2026).
Berikut enam fakta gempa M6,7 Sulawesi Tengah:
1. Termasuk Gempa Kerak Dangkal
Gempa ini dikategorikan sebagai shallow crustal earthquake atau gempa kerak dangkal yang umumnya dipicu aktivitas sesar aktif. Kedalaman hiposenter yang dangkal membuat energi gempa terkonsentrasi di sekitar episenter sehingga guncangan terasa sangat kuat di wilayah Palu, Sigi, dan Parigi Moutong.
Daryono menjelaskan kondisi tersebut memunculkan fenomena *near-field effect*, yakni gelombang seismik tidak mengalami peredaman signifikan sebelum mencapai permukaan tanah.




