Emiten sektor kesehatan PT Prodia Diagnostic Line Tbk bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Perusahaan dengan kode ticker PRDL ini dijadwalkan mencatatkan sahamnya di BEI pada 9 Juli 2026.
PRDL menawarkan sebanyak-banyaknya 522,9 juta saham baru atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. Perseroan mematok kisaran harga penawaran Rp 100-Rp 120 per saham.
Dengan harga tersebut, PRDL berpotensi menghimpun dana segar hingga mencapai Rp 62,74 miliar. Saat ini, perseroan juga telah menunjuk PT Sucor Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.
Seiring dengan IPO, PRDL juga menggelar program alokasi saham untuk karyawan atau employee stock allocation (ESA) sebanyak-banyaknya 36,6 juta saham atau setara 7% dari saham yang ditawarkan. Harga pelaksanaan program ESA sama dengan harga penawaran umum.
PRDL didirikan pada 2010 dengan nama PT Dialine Systems Indonesia. Setahun kemudian, perseroan berganti nama menjadi PT Prodia Diagnostic Line.
Perseroan bergerak di bidang industri alat kesehatan, khususnya produk in vitro diagnostics (IVD). Selain memproduksi alat kesehatan, PRDL juga menjalankan bisnis perdagangan alat laboratorium, alat farmasi dan alat kedokteran, jasa kalibrasi dan metrologi serta layanan pengujian dan kalibrasi alat kesehatan.
Mengutip prospektus IPO PRDL, manajemen menyebut industri IVD di Indonesia masih memiliki prospek pertumbuhan yang positif. Hal ini didukung oleh peningkatan belanja kesehatan pemerintah, penguatan infrasrtuktur kesehatan serta implementasi berbagai program deteksi dini penyakit.
Adapun pemerintah mengalokasikan anggaran kesehatan sebesar Rp 244 triliun dalam APBN 2026, meningkat dari Rp 218,5 triliun pada 2025. Anggaran tersebut digunakan, antara lain untuk memperkuat Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Program Cek Kesehatan Gratis, pengendalian penyakit menular serta peningkatan fasilitas layanan kesehatan.
Program Cek Kesehatan Gratis juga dinilai membuka peluang bagi perseroan. Program tersebut mencakup 13 jenis skrining penyakit, sementara PRDL berencana mengikuti pengadaan untuk sembilan jenis pemeriksaan yang sesuai dengan portofolio produknya.
Berdasarkan Rencana Umum Pengadaan Farmalkes Kementerian Kesehatan 2026, anggaran program tersebut mencapai sekitar Rp 2,6 triliun. Perseroan memperkirakan potensi pasar yang dapat menggunakan produknya mencapai sekitar Rp 2,2 triliun.
PRDL mengklaim memiliki pengalaman dalam pengadaan pemerintah. Pada 2023, perseroan memenangkan tender pengadaan reagen profil lipid senilai sekitar Rp90 miliar. Sementara pada 2025, perseroan kembali memperoleh pengadaan untuk kebutuhan skrining penyakit kardiovaskular dan APRI Score untuk skrining kanker hati.
Selain itu, meningkatnya jumlah fasilitas kesehatan di Indonesia juga menjadi peluang peluang bagi perseroan. Hingga akhir 2025 terdapat lebih dari 3.000 rumah sakit dan lebih dari 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia.
Saat ini, PRDL telah melayani lebih dari 7.600 pelanggan yang terdiri atas rumah sakit, puskesmas, dan laboratorium klinik milik pemerintah maupun swasta. Meski demikian, perseroan menilai ruang ekspansi masih terbuka karena lebih dari 47% fasilitas kesehatan dan sekitar 38% dinas kesehatan kabupaten/kota di Indonesia belum menjadi pelanggan.
Manajemen PRDL pun optimis dapat memanfaatkan pertumbuhan industri melalui pengalaman lebih dari satu dekade di bisnis IVD, kemitraan dengan perusahaan internasional, jaringan distribusi yang luas serta layanan purna jual yang mendukung operasional pelanggan.
Tanggal Penting IPO PRDL- Masa penawaran awal: 18-23 Juni 2026
- Tanggal efektif OJK: 29 Juni 2026
- Masa penawaran umum: 1-7 Juli 2026
- Tanggal penjatahan: 7 Juli 2026
- Distribusi saham secara elektronik: 8 Juli 2026
- Pencatatan saham di BEI: 9 Juli 2026




