Grup usaha konglomerat Tanah Air Prajogo Pangestu memperluas portofolio investasinya ke sektor kesehatan. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) tercatat menjadi pemegang saham PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) sebanyak 1,48%.
Aksi Prajogo menjadi perhatian di tengah rencana anak usaha Prodia, PT Prodia Diagnostic Line Tbk bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Perusahaan dengan kode ticker PRDL ini dijadwalkan mencatatkan sahamnya di BEI pada 9 Juli 2026.
PRDL menawarkan sebanyak-banyaknya 522,9 juta saham baru atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. Perseroan mematok kisaran harga penawaran Rp 100-Rp 120 per saham.
Berdasarkan data pemegang saham 1% yang diterbitkan Bursa Efek Indonesia (BEI) emiten raksasa petrokimia itu memiliki sebanyak 13,89 juta lembar saham atau sekitar 1,48% saham PRDA per Mei 2026. Apabila ditelusuri, TPIA baru masuk di saham sektor kesehatan itu di April 2026.
Adapun PT Prodia Utama masih menjadi pemegang saham pengendali PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) dengan kepemilikan 534,37 juta saham atau setara 57%. Di posisi berikutnya terdapat Bio Majesty Pte Ltd yang menggenggam 112,5 juta saham atau 12%. Sementara itu, PT Prodia Widyahusada Tbk tercatat memiliki 47,72 juta saham treasuri atau 5,09%.
Selain itu, saham PRDA juga dimiliki sejumlah investor institusi, antara lain EFG Bank AG Singapore Branch A/C Clients sebanyak 30,12 juta saham atau 3,21%, Caceis Bank Luxembourg Branch/UCITS Clients sebanyak 10,37 juta saham atau 1,11%.
Lalu ada beberapa produk reksa dana yang dikelola PT Henan Putihrai Asset Management, yakni Reksa Dana HPAM Syariah Ekuitas sebanyak 1,28%, Reksa Dana HPAM Ultima Ekuitas 1,99%, dan Reksa Dana HPAM Smart Beta Ekuitas 2,62%.
Di sisi lain, apabbila menilik pergerakan sahamnya pada Rabu (17/6), saham PRDA terpantau turun 5,49% dalam sebulan terakhir dan terkoreksi 0,41% dalam enam bulan terakhir. Sedangkan secara year to date (ytd) naik 4,78%.
Kinerja Kuartal I 2026Sepanjang kuartal I 2026, emiten layanan laboratorium dan klinik tersebut membukukan pendapatan Rp 01,4 miliar, tumbuh 3,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Manajemen PRDA mengatakan capaian tersebut menjadi pendapatan kuartal pertama tertinggi dalam dua tahun terakhir, ditopang oleh permintaan yang berkelanjutan pada layanan tes rutin dan tes esoterik.
Seiring pertumbuhan pendapatan, beban pokok pendapatan naik 4,4% secara tahunan menjadi Rp 229,3 miliar. Meski demikian, PRDA berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp17,9 miliar pada kuartal I 2026, melonjak 150,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perseroan menyebut pertumbuhan laba didorong oleh peningkatan pendapatan serta optimalisasi harga pokok penjualan dan biaya operasional.
Dari sisi arus kas, PRDA membukukan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp112,2 miliar dan arus kas dari aktivitas investasi tercatat negatif Rp 62,8 miliar. Hal itu seiring belanja untuk pengembangan aset dan penguatan ekosistem operasional demi mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Hingga akhir Maret 2026, total aset PRDA mencapai Rp 2,6 triliun. Adapun total liabilitas tercatat sebesar Rp 263,5 miliar, sedangkan total ekuitas mencapai Rp 2,4 triliun. Perseroan menilai struktur permodalan dan likuiditas tetap terjaga sehingga mendukung fleksibilitas keuangan untuk operasional maupun ekspansi usaha.
Finance & Sustainability Director Prodia, Marina Eka Amalia, mengatakan fondasi keuangan perseroan masih berada dalam kondisi positif dan solid. Menurutnya, kondisi keuangan yang sehat dan resilien tersebut mampu menopang keberlangsungan operasional perusahaan secara berkelanjutan. PRDA juga telah melakukan langkah-langkah antisipatif serta evaluasi risiko secara cermat sehingga stabilitas kinerja keuangan tetap terjaga.
“Ke depan, Perseroan akan terus disiplin dalam pengelolaan biaya (cost discipline), menerapkan prioritas dalam setiap strategi yang dilakukan, serta memastikan setiap investasi yang dilakukan memiliki Return on Investment yang jelas,” ucap Marina dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Kamis (17/6).




