Pemadaman listrik bergilir pekan lalu diplesetkan menjadi menyala bergilir. Keterandalan listrik menjadi olok-olok dan kenyataannya masalah ini belum berakhir. Ada yang mengatakan masalah pasokan batubara, tetapi bisa saja ini akibat pemeliharaan pembangkit yang buruk.
Kenyataannya, listrik byar pet masih terjadi. Vera Wibawa (47), warga Desa Ciapus, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor menceritakan listrik padam di daerahnya, Rabu (17/6/2026) jam 14.00 sampai sekitar jam 17.00.
Biasanya, siang sampai sore, dia menanak nasi, mengerjakan pesanan kue, juga mencuci baju. Namun, semua tak bisa dilakukan, sebab hampir semua perangkat memerlukan listrik.
“Parahnya, nggak ada info, jadi baterai HP juga sekarat. Mau nggak mau, keluar rumah, cari tempat jajan yang punya genset dan numpang nge-charge. Kalau ada info sebelumnya, setidaknya kita bisa siap-siap,” tuturnya.
Vera pun ragu bila pemerintah mendorong penggunaan kompor listrik. ”Apa betul lebih hemat? Kalau jadi lebih lama masaknya, juga susah ya. Apalagi, kalau listrik mati, tambah nggak bisa masak dong,” tuturnya.
Di berbagai wilayah lain, listrik byar pet juga terpantau masih terjadi. Banyak warganet melaporkan kejadian pemadaman listrik kepada admin PLN di media sosial.
Emir Rizaldi melalui akunnya di media sosial X @EmirRizaldi1 melaporkan listrik padam di Rabu kemarin di Desa Pancawati, Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor, Rabu (17/6/2026). Demikian pula akun @andiniagnesp di Cibarusah, Kabupaten Bekasi, akun @taesungs1 di Bandung, akun @Huang55067557 di Cikarang, dan @cheezecakey di Sleman, Yogyakarta mengeluhkan kondisi serupa kemarin.
“Halo min, area Ngemplak Sleman Jogja kenapa mati lampu terus yaaa?,” tulis cheezecakey kepada admin akun PLN di media sosial.
Kamis (18/6/2026), pemadaman masih terjadi seperti disuarakan @fredelyasy di wilayah Artos Kabupaten Magelang dan @rudyjatmiko di Cibinong, Kabupaten Bogor.
Pejabat PT PLN sendiri tak berani berkomentar mengenai pemadaman bergilir ini. Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PT PLN Gregorius Adi Trianto tak memberi tanggapan saat dihubungi melalui pesan tertulis baik akhir pekan lalu maupun Kamis ini.
Dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (15/6/2026), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyebut para pengusaha batubara tak mendapat untung bila menjual batubara ke PLN. Sebab, harga batubara penugasan untuk PLN dipatok di 70 dolar AS per ton.
“Kebutuhan PLN pertahun sebesar 154 juta metrik ton dan dari 154 juta metrik ton telah kita beri penugasan kepada perusahaan batubara 190 juta metrik ton. Yang sudah confirm 150-160 juta metrik ton dan sudah dilakukan kontrak 134 juta metrik ton. Berarti kurang 20 juta metrik ton,” tuturnya.
Selain itu, menurut Bahlil, PLN memerlukan batubara dengan kalori menengah. Saat ini, cadangan batubara kalori menengah semakin sedikit.
Harga batubara kalori menengah untuk kebutuhan dalam negeri (DMO/domestic obligation) pun hanya 70 dolar AS per metrik ton.
Sumber Kompas pun menjelaskan, saat ini, pengusaha batubara memang lebih menyukai ekspor batubara. Sebab, harga batubara global berkisar 150 dolar AS per metrik ton. Akibat, PLN kekurangan pasokan.
Bahlil dalam rapat kerja di DPR juga menyatakan, harga jual batubara ke PLN yang sudah dipatok 70 dolar AS per metrik ton membuat perusahaan tidak mendapat untung. “Itu jadi trouble. Ini saya minta diprioritaskan dan fleksibelkan,” ujarnya lagi.
Presiden Prabowo Subianto pun, menurut Bahlil, sudah meminta penanganan khusus untuk pasokan batubara PLN. Untuk itu, dibentuk tim pengadaan yang terdiri atas PT PLN, Irjen dan Dirjen Minerba Kementerian ESDM, serta BPKP.
Pengamat Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menilai, kendati sebagian besar pembangkit listrik PLN masih menggunakan batubara sebagai bahan bakar, semestinya pasokan batubara tak menjadi masalah. Sebab, sejak ada aturan DMO, pengusaha wajib memasuk 20 persen batubaranya ke PLN dengan harga 70 dolar per metrik ton.
Harga itu pun dinilai Fahmy tak membawa kerugian bagi pengusaha sebab, biaya produksi batubara sekitar 40 dolar AS per metrik ton. Memang, harga ini tak memberi keuntungan sebesar keuntungan ekspor. Namun, bila tak menyetor kewajiban DMO ke PLN, pengusaha batubara akan dikenai denda.
“Kalau aturan itu diterapkan benar, seharusnya PLN nggak kekurangan batubara,” ujar Fahmy.
Seringnya pemadaman listrik dan luasnya lokasi pemadaman listrik, menurut Fahmy, lebih mengindikasikan buruknya manajemen pemeliharaan pembangkit PLN.
Fahmy mencontohkan, hampir semua kabupaten sudah mengalami pemadaman listrik bergilir. Kemarin, Sleman tempat Fahmy tinggal mengalami pemadaman listrik, dan Kamis ini dikabarkan Gunung Kidul aka mengalami hal serupa selama empat jam. Pemadaman sering terjadi dalam durasi cukup lama, PLN hanya meminta maaf dan beralasan masalah teknis.
“Semestinya PLN meningkatkan kualitas pemeliharaan sehingga bisa meminimalkan pemadaman. Ini yang harus dikoreksi oleh Menteri ESDM, manajemen di PLN,” tutur Fahmy.
Kinerja PLN, menurut Fahmy, sempat membaik saat menerapkan digital monitoring system sehingga bisa dipantau daerah mana saja yang mengalami pemadaman dan harus segera dipulihkan. Namun, sistem ini menjadi tak berarti ketika pemadaman terlalu kerap terjadi selama berjam-jam dan di banyak daerah. (INA)





