Pantau - Olahraga skateboard dinilai tidak hanya melatih kemampuan fisik, tetapi juga berperan penting dalam membentuk mental, ketahanan diri, dan sistem motivasi anak melalui proses jatuh dan bangkit yang terjadi secara berulang saat berlatih.
Berbagai penelitian menunjukkan seorang anak rata-rata harus mengalami ratusan kali kegagalan sebelum berhasil menguasai gerakan dasar skateboard seperti ollie, yaitu lompatan dasar dalam olahraga tersebut.
Penelitian Pullias Center for Higher Education di University of Southern California menemukan bahwa pengulangan kegagalan fisik sebelum kompetisi menjadi faktor utama yang membedakan skateboard dari banyak cabang olahraga lainnya.
Saat berlatih, otak anak terus memproses berbagai keputusan dalam waktu singkat, mulai dari mengatur keseimbangan tubuh, menentukan tekanan kaki, hingga mengatur waktu melompat dan mendarat.
Latih Otak dan Sistem KeseimbanganProses latihan yang berlangsung berulang kali membantu membentuk koneksi saraf baru di otak sehingga gerakan yang awalnya sulit dilakukan dapat menjadi otomatis seiring waktu.
Skateboard juga melatih dua sistem penting dalam tubuh, yakni sistem keseimbangan pada telinga bagian dalam dan sistem sensorik otot serta sendi yang memberi informasi posisi tubuh kepada otak.
Penelitian menunjukkan stimulasi intensif terhadap kedua sistem tersebut dapat membantu menenangkan sistem saraf, termasuk pada anak-anak dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas atau ADHD.
Berpengaruh pada Motivasi dan Ketahanan MentalPenelitian Albert Einstein College of Medicine yang dipublikasikan dalam jurnal Science pada 2019 menemukan bahwa serebelum atau bagian otak yang mengatur koordinasi gerak memiliki hubungan langsung dengan pusat dopamin.
Dopamin merupakan zat kimia dalam otak yang berperan dalam rasa puas, motivasi, dan penghargaan terhadap pencapaian.
Setiap keberhasilan mendaratkan trik setelah berkali-kali gagal dinilai mampu melatih ulang sistem motivasi dalam otak sekaligus memperkuat rasa percaya diri anak.
Temuan lain dari Hull Services di Alberta, Kanada, menunjukkan aktivitas seperti skateboard juga dimanfaatkan dalam pendekatan terapi berbasis neurosains untuk membantu anak-anak yang mengalami trauma, kekerasan, penelantaran, maupun gangguan perilaku.
Melalui proses belajar yang menuntut ketekunan dan keberanian menghadapi kegagalan, skateboard dinilai menjadi sarana efektif untuk membangun ketahanan mental sekaligus perkembangan neurologis anak.




