Tiga Negara, Tiga Kepentingan: Perebutan Soft Power dalam Piala Dunia 2026

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Piala Dunia FIFA (Fédération Internationale de Football Association) merupakan salah satu ajang olahraga internasional paling bergengsi di dunia. Sejak pertama kali diselenggarakan pada 1930, turnamen ini berlangsung setiap empat tahun dan menjadi kompetisi yang diperebutkan oleh negara-negara dari berbagai belahan dunia. Edisi 2026 akan menjadi penyelenggaraan ke-26 yang diperkirakan tetap menarik perhatian besar dari penggemar sepak bola global.

Piala Dunia 2026 memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan edisi sebelumnya. Untuk pertama kalinya, turnamen ini akan diselenggarakan oleh tiga negara sekaligus. Keputusan tersebut berkaitan dengan perluasan jumlah peserta dari 32 menjadi 48 tim, sebuah kebijakan yang disetujui FIFA pada 2017 untuk memperluas partisipasi dan membuka peluang yang lebih besar bagi seluruh konfederasi (Guajardo & Krumer (2024).

Berdasarkan hasil pemungutan suara FIFA pada 2018, proposal bersama Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko terpilih sebagai tuan rumah setelah mengungguli Maroko (MysteryJerseyKing, 2026). Alih-alih bersaing secara terpisah, ketiga negara anggota CONCACAF tersebut memilih mengajukan pencalonan bersama dengan menggabungkan sumber daya dan kapasitas yang mereka miliki untuk menyelenggarakan turnamen terbesar dalam dunia sepak bola.

Piala Dunia sebagai Instrumen Soft Power

Dalam kacamata Hubungan Internasional, Joseph Nye mendefinisikan soft power sebagai kemampuan untuk memperoleh hasil yang diinginkan melalui daya tarik (attraction) dan persuasi, bukan melalui paksaan (Nye, 2021). Nye menambahkan bahwa soft power ibarat magnet yang bisa menarik ketika didekatkan dengan besi, tetapi tidak akan melekat jika menggunakan plastik—yang artinya penggunaan soft power sangat bergantung pada persepsi audiens sasaran.

Di era globalisasi, olahraga telah berkembang menjadi salah satu instrumen soft power yang paling efektif. Ajang seperti Piala Dunia FIFA mampu menarik perhatian dunia sekaligus menciptakan perhatian internasional yang sulit diperoleh melalui diplomasi konvensional. Melalui penyelenggaraan kompetisi ini, negara dapat memperkenalkan identitas nasionalnya sekaligus membangun persepsi positif di mata masyarakat global.

Terlebih bagi para penggemar sepak bola, ajang empat tahun sekali ini menjadi momentum yang paling berharga dan sulit dilewatkan. Daya tarik ini memengaruhi mereka untuk mengeluarkan uang untuk menonton pertandingan ini, baik lewat media daring maupun secara langsung. Hasilnya, bukan hanya pertandingan yang menjadi sorotan, melainkan juga kota tuan rumah, budaya lokal, infrastruktur, akses transportasi, keamanan, hingga interaksi antara masyarakat lokal dan pengunjung internasional.

Tiga Negara, Tiga Kepentingan

Berada dalam satu payung penyelenggaraan, Amerika Serikat, Kanada, serta Meksiko memanfaatkan ajang ini untuk memperkuat kerja sama di regional Amerika Utara, mengingat sebelumnya Meksiko dan Amerika Serikat memiliki latar belakang sejarah yang kurang baik, sehingga momen ini menjadi sarana bagi kedua negara menjalin hubungan yang lebih baik.

Sedangkan untuk Amerika Serikat dengan Kanada telah terjalin hubungan baik saat keduanya bergabung dalam NATO, tetapi mengingat kebijakan Trump terkait peningkatan tarif juga berdampak pada hubungan kedua negara ini. Oleh karena itu, Piala Dunia FIFA 2026 membuka peluang untuk kohesivitas di kawasan.

Meskipun demikian, ketiga negara ini tetap memiliki kepentingan yang berbeda dalam memanfaatkan Piala Dunia 2026 sebagai alat soft power.

Bagi Amerika Serikat, turnamen ini menjadi kesempatan untuk memperkuat citra sebagai pemimpin global yang memiliki kapasitas sumber daya yang unggul. Sebagai negara yang akan menyelenggarakan mayoritas pertandingan, termasuk laga final, Amerika Serikat memperoleh panggung terbesar untuk menunjukkan kemampuannya mengelola event internasional tersebut.

Dalam perspektif soft power Joseph Nye, jika sukses diselenggarakan ajang ini akan menjadi daya tarik dan legitimasi Amerika Serikat di mata dunia. Hal ini menjadi semakin penting di tengah meningkatnya persaingan geopolitik global, serta berbagai kritik terhadap kepemimpinan internasional Amerika Serikat akhir-akhir ini. Dengan kata lain, Piala Dunia 2026 dapat menjadi sarana bagi Amerika Serikat untuk memperkuat kembali citra sebagai negara yang terbuka dan mampu memimpin kerja sama internasional.

Kanada memiliki kepentingan yang berbeda. Melalui Piala Dunia 2026, Kanada berupaya memperkuat citranya sebagai negara yang aman, inklusif, toleran, dan multikultural. Toronto dan Vancouver menjadi representasi dari keberagaman etnis dan budaya yang selama ini menjadi identitas utama Kanada. Selain menjadi sarana diplomasi budaya, turnamen ini juga memberikan kesempatan bagi Kanada untuk menunjukkan komitmennya terhadap nilai-nilai sosial, seperti kesetaraan, keberagaman, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Dengan demikian, Kanada berusaha membangun soft power yang bertumpu pada daya tarik nilai dan identitas sosialnya.

Sementara itu, Meksiko memanfaatkan turnamen ini untuk memperkuat citra sebagai negara dengan warisan budaya yang kaya dan tradisi sepak bola yang kuat. Menjadi tuan rumah Piala Dunia untuk ketiga kalinya memberikan posisi istimewa bagi Meksiko dalam sejarah FIFA. Melalui paparan global yang dihasilkan oleh Piala Dunia, Meksiko berupaya menampilkan wajah alternatif yang menonjolkan keramahan masyarakat, kekayaan budaya, serta kapasitasnya sebagai penyelenggara acara internasional berskala besar.

Perbedaan kepentingan tersebut menunjukkan bahwa meskipun ketiga negara berbagi turnamen yang sama, mereka tidak sedang mengejar tujuan yang identik. Piala Dunia menjadi ruang bagi masing-masing negara untuk mempromosikan narasi nasional yang berbeda sesuai dengan kebutuhan politik, ekonomi, dan diplomatik mereka.

Soft Power yang Tidak Terdistribusi Secara Merata

Meskipun Piala Dunia 2026 diselenggarakan oleh tiga negara, distribusi keuntungan soft power tampaknya tidak akan berlangsung secara setara. Amerika Serikat memperoleh mayoritas pertandingan. Sebaliknya, Kanada dan Meksiko hanya menyelenggarakan sekitar 20 persen pertandingan yang mayoritas berlangsung pada fase awal turnamen (Reiche, 2026).

Dalam perspektif Joseph Nye, kondisi ini penting karena soft power tidak hanya bergantung pada kepemilikan sumber daya daya tarik seperti budaya, nilai, atau identitas nasional, tetapi juga pada kemampuan untuk memproyeksikan daya tarik tersebut kepada audiens internasional. Semakin besar exposure yang diperoleh suatu negara, semakin besar pula peluangnya untuk membentuk persepsi global.

Hal ini menunjukkan bahwa panggung Piala Dunia tidak dibagi secara merata. Sebagai negara yang menjadi lokasi mayoritas pertandingan, Amerika Serikat akan menerima perhatian media internasional yang lebih besar, arus wisatawan yang lebih tinggi, serta frekuensi paparan simbol-simbol nasional yang lebih intens dibandingkan Kanada dan Meksiko. Di sini, Amerika Serikat menjadi aktor yang memiliki peluang paling besar untuk mengonversi perhatian global menjadi keuntungan reputasional.

Akibatnya, meskipun Kanada berupaya mempromosikan citra sebagai negara multikultural dan Meksiko berusaha menampilkan kekayaan budaya serta tradisi sepak bolanya, kemampuan kedua negara tersebut untuk mengubah daya tarik itu menjadi pengaruh internasional kemungkinan akan lebih terbatas dibandingkan Amerika Serikat. Perhatian dunia yang terkonsentrasi pada kota-kota tuan rumah utama—seperti New York, Los Angeles, Dallas, Atlanta, dan Miami—berpotensi membuat narasi mengenai Piala Dunia 2026 lebih banyak diasosiasikan dengan Amerika Serikat daripada dengan proyek bersama Amerika Utara.

Dengan demikian, Piala Dunia 2026 memperlihatkan paradoks menarik dalam praktik soft power. Di satu sisi, turnamen ini dipromosikan sebagai simbol kerja sama trilateral. Namun di sisi lain, distribusi eksposur, perhatian media, dan keuntungan reputasional menunjukkan bahwa tidak semua negara memiliki peluang yang sama untuk memanfaatkan panggung global tersebut. Dalam konteks ini, soft power bukan hanya soal siapa yang paling menarik, melainkan juga siapa yang memperoleh ruang paling besar untuk dilihat oleh dunia.

Antara Citra dan Realitas

Piala Dunia 2026 menciptakan citra yang masif bagi masing-masing penyelenggara, dan bisa dikatakan berhasil sebagai soft power walaupun tidak sepenuhnya setara—tetapi yang tidak bisa dihiraukan adalah citra yang dibangun sering berlawanan dengan realitas yang sebenarnya.

Amerika Serikat masih menghadapi polarisasi politik, isu imigrasi, keamanan domestik, serta perdebatan mengenai posisi internasionalnya. Terlebih lagi konflik dengan Iran yang terus berlangsung, banyak negara yang skeptis terhadap Amerika Serikat dan bisa memicu tantangan keamanan. Kanada tidak lepas dari kritik terkait relasi historis dengan masyarakat adat, biaya penyelenggaraan event, dan berbagai isu sosial lainnya. Sementara itu, Meksiko masih dibayangi oleh persoalan kriminalitas, kekerasan, korupsi, serta tantangan keamanan yang sering menjadi sorotan media global.

Karena itu, Piala Dunia 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ingin dilihat oleh dunia, melainkan juga tentang apakah dunia mempercayai citra yang mereka tampilkan. Jika citra yang diproyeksikan sejalan dengan realitas politik, ekonomi, sosial, budaya, dan keamanan yang ada, turnamen ini dapat menjadi sumber soft power yang kuat.

Namun, jika terdapat kesenjangan yang terlalu besar antara narasi dan kenyataan, sorotan global yang sama justru dapat memperlihatkan kontradiksi yang berpotensi melemahkan daya tarik mereka sendiri. Terlebih lagi piala dunia memang bisa memberikan keuntungan yang luar biasa, tetapi jika gagal citra negara akan dikenang buruk.

Pada akhirnya, Piala Dunia 2026 menandai babak baru dalam sejarah olahraga internasional. Untuk pertama kalinya, tiga negara menjadi tuan rumah bersama dalam satu turnamen yang akan menarik perhatian dunia. Namun, makna politik dari penyelenggaraan ini jauh melampaui sepak bola itu sendiri.

Melalui perspektif soft power, Piala Dunia 2026 dapat dipahami sebagai arena diplomasi publik yang memungkinkan Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko membangun citra dan memperkuat daya tarik internasional mereka. Meski demikian, penyelenggaraan bersama tidak menghapus kepentingan nasional yang berbeda-beda. Di balik kerja sama regional yang ditampilkan kepada dunia, terdapat upaya masing-masing negara untuk memperoleh keuntungan reputasional dan memperkuat posisi mereka di panggung global.

Meskipun berdiri dengan kepentingan berbeda, soft power ketiga negara tersebut tetap dikatakan berhasil, karena mampu memikat para penggemar sepak bola dunia untuk menyaksikan Piala Dunia FIFA 2026 dan menjadi sarana bagi Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko untuk menunjukkan kebolehannya dalam menyelenggarakan ajang besar tersebut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Beda 45 sentimeter, Inilah Pemain Tertinggi dan Terpendek Piala Dunia 2026
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Katua Kadin: Industri Butuh 30-60 Hari untuk Pulih Usai Selat Hormuz Dibuka
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
IHSG Dibuka Turun ke 6.191 Kamis Pagi
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Verifikasi SPMB Makassar Capai 70 Persen, Pemkot Siapkan Antisipasi Lonjakan Jalur Domisili
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Ada Eksekusi Hotel Sultan, GBK Tetap Bisa Dipakai Warga untuk Olahraga
• 9 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.