jpnn.com, JAKARTA - Ketua DPP PDI Perjuangan Deddy Yevri Sitorus menyebut kejadian pembubaran diskusi dan sosialisasi di lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) disayangkan terjadi dalam kondisi normal.
Namun, kata dia, aksi pembubaran diskusi oleh mahasiswa menjadi sulit dicegah ketika akumulasi kemarahan dan gerakan mahasiswa sedang memuncak terhadap pemerintah.
BACA JUGA: Diskusi dengan Budiman Sudjatmiko, Nusron, dan Sudaryono di UGM Ricuh, Mahasiswa Muak!
"Kalau bicara konteks di mana akumulasi kemarahan dan gerakan mahasiswa sedang memuncak, kejadian itu sulit dihindarkan," kata Deddy melalui layanan pesan, Kamis (18/6).
Diketahui, ramai mahasiswa menggeruduk acara diskusi yang menghadirkan tiga pejabat negara di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Senin (15/6) malam. Adapun, pejabat yang hadir dalam forum ialah Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.
BACA JUGA: Diskusi di UGM Dibubarkan Mahasiswa, Qodari: Demokrasi Wajib Ada Dialog
Deddy mempertanyakan pemilihan tempat dan waktu kegiatan diskusi yang menghadirkan perwakilan pemerintah, karena terkesan abai terhadap dinamika sosial.
"Kesannya seolah menantang dan tak peduli," ujar legislator Komisi II DPR RI itu.
BACA JUGA: Respons BEM Bersatu, Guntur PDIP: Jangan Merendahkan Gerakan Mahasiswa
Deddy mengatakan kegiatan sosialisasi atau propaganda seharusnya dilakukan jauh hari agar pesan tersampaikan.
Opsi lainnya, kata legislator Dapil Kalimantan Utara (Kaltara) itu, sosialisasi atau diskusi propaganda bisa dilakukan setelah keadaan lebih kondusif untuk menyampaikan respons pemerintah terhadap aspirasi mahasiswa.
Namun, Deddy mempertanyakan kegiatan sosialisasi dan diskusi propaganda dilakukan ketika kondisi tengah memanas.
"Jadi, jelas-jelas kegiatan ini sejak awal berpotensi menimbulkan gesekan," katanya. (ast/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Direktur Nusakom Sebut Ada yang Sengaja Memotong Video Hasil Wawancara Deddy Sitorus
Redaktur : Elfany Kurniawan
Reporter : Aristo Setiawan




