PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur mengakui kebijakan pemadaman listrik bergilir yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur selama dua pekan terakhir, dipengaruhi oleh penurunan pasokan batu bara.
Dana Puspita Sari Manajer Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Jatim mengatakan, penurunan pasokan batu bara itu berdampak ke sektor pembangkitan listrik.
“Memang ini lebih banyak dikaitkan dengan kurangnya pasokan (batu bara) yang masuk, terutama di lokasi juga di Jawa Timur, dan beberapa lokasi Jawa lainnya. Jadi di sini memang terjadi kendala di sistem pembangkitan. Untuk kepastiannya pun juga kami tidak bisa menyampaikan secara pasti gitu, tapi pastinya pasokan untuk Jawa Timur sendiri berkurang sehingga kami perlu melakukan manajemen beban dengan melakukan pemadaman di beberapa daerah,” ungkapnya kepada Radio Suara Surabaya, Kamis (18/6/2026).
Ia memaparkan bahwa pemadaman terpaksa dilakukan karena volume pasokan daya yang mengalir masuk ke wilayah Jatim mengalami penurunan secara signifikan. Menurutnya, penurunan ada di bawah lima persen.
“Kalau sebenarnya kemarin sempat kami cek rata-rata itu tidak sampai, paling kalau misalnya di bawah lima persen dari seluruh beban,” ujarnya.
Adapun sebelumnya, pemadaman listrik bergilir itu dikomunikasikan ke masyarakat sebagai pemeliharaan infrastruktur. Dana menjelaskan bahwa kondisi riil saat ini murni disebabkan kendala teknis suplai batu bara yang berkurang. Ia pun meminta maaf jika kondisi ini menganggu pelayanan-pelayanan terdampak.
“Tapi kita selalu upayakan bahwa pengumuman ini disampaikan langsung kepada pelanggannya, baik pelanggan pemerintahan, masyarakat ataupun pelanggan industri seperti itu. Dan kami mohon maaf bahwa kondisi ini mungkin membuat tidak nyaman sehingga pelayanan ini ya, dan pelayanan lainnya jadi terganggu,” ucapnya.
Sementara menjawab keluhan masif masyarakat mengenai tidak adanya pemberitahuan atau jadwal resmi pemadaman, Dana menjelaskan bahwa dinamika operasional di tingkat pembangkit juga seringkali berubah.
“Karena memang kami mendapatkan informasinya itu mendadak. Jadi, kan ini tergantung kondisi pembangkit. Ini jadi ada beberapa koperasi pembangkit misalnya tiba-tiba dia harus keluar karena ada gangguan. Otomatis dengan kondisi yang sekarang ini sudah ada kendala teknis, akhirnya bertambah lagi seperti itu,” ucapnya.
Ia menjelaskan saat suplai dari pabrik tiba-tiba terganggu dan membuat operasional terhenti karena dilakukan pemeliharaan dan sebagainya, mengharuskan pihaknya untuk mengatur kembali jadwal pemadaman.
“Sehingga kami pun harus mengatur kembali itulah sebabnya akhirnya mendadak tiba-tiba kami harus melakukan manajemen beban tersebut,” tambahnya. (bil/ham)




