Jakarta, VIVA – Prudential Syariah memperkuat komitmen dalam menghadirkan proteksi syariah yang relevan dan bermakna bagi masyarakat, melalui tagline "Risiko sakit bisa datang kapan saja, tanpa aba-aba".
Chief Customer & Marketing Officer Prudential Syariah, Vivin Arbianti Gautama mengatakan, langkah ini merupakan upaya pihaknya memberikan akses perlindungan terbaik bagi masyarakat, mulai dari kesehatan, jiwa, hingga perencanaan masa depan sesuai dengan prinsip syariah.
Komitmen itu ditegaskannya bukan sekadar kata-kata. Sejak berdiri sebagai entitas mandiri pada 2022 hingga 2025, Prudential Syariah telah membayarkan santunan sebesar Rp 8,5 triliun kepada lebih dari 325 ribu peserta.
"Ini menjadi bukti nyata bagi perlindungan dan dukungan finansial, saat keluarga Indonesia menghadapi risiko kehidupan," kata Vivin dalam keterangannya, Kamis, 18 Juni 2026.
- [Istimewa]
Dia pun mencontohkan kisah seorang nasabah Prudential Syariah bernama Joko Mulyono, yang mendapat tagihan sebesar Rp 200 juta untuk berbagai layanan kesehatan yang harus dijalaninya mulai dari operasi dan pengobatan lain.
Hingga akhirnya, suatu hari, seorang temannya yang menjadi tenaga pemasar menawarkan proteksi kesehatan. Joko mengakui bahwa waktu itu dirinya belum tahu arti penting asuransi syariah.
"Saya hanya mengikuti dan membeli tanpa pikir panjang, yang ternyata punya dampak yang mengubah hidup saya. Keputusan penting itulah yang akhirnya menyelamatkan keuangan keluarga saya," kata Joko.
Risiko kesehatan pertama datang tiba-tiba, dimana Joko merasakan keluhan di punggungnya yang tak kunjung reda. Setelah pemeriksaan lanjutan, dokter memutuskan ia harus menjalani operasi dan rawat inap. Tagihan hampir mencapai Rp 50 juta, dimana angka itu bukan jumlah kecil.
"Saya betul-betul kaget. Ternyata saya tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun dari pemeriksaan, operasi, sampai rawat inap, semua ditanggung Prudential Syariah," ujar Joko.
Tapi ujian belum selesai. Beberapa waktu kemudian, ditemukan kelainan di usus Joko. Dia pun harus menjalani prosedur kolonoskopi dengan biaya sekitar Rp 78 juta. Lalu empat tahun kemudian, masalah pembuluh darah memaksanya masuk ruang operasi lagi untuk tindakan EVLA, dengan biaya mencapai Rp 102 juta.
Tiga kali masuk rumah sakit, total tagihan menembus lebih dari Rp 200 juta namun tabungan Joko tetap utuh. "Hanya dalam beberapa tahun, total biaya medis saya menembus ratusan juta. Tanpa persiapan, angka ini bisa menguras seluruh tabungan masa depan keluarga saya," ujar Joko.





