Bank Indonesia (BI) mengungkapkan nilai transaksi Local Currency Transaction (LCT) antara Indonesia dan Tiongkok terus melonjak signifikan. Bahkan, transaksi penyelesaian perdagangan dan investasi menggunakan rupiah dan renminbi telah mencapai US$ 13 miliar atau Rp 232,5 triliun (kurs Rp 17.890 per US$) hanya dalam empat bulan pertama di 2026.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan capaian tersebut menunjukkan semakin kuatnya kerja sama ekonomi dan keuangan antara Indonesia dan Cina, khususnya dalam penggunaan mata uang lokal untuk transaksi bilateral.
“Local currency transaction antara Indonesia dengan Tiongkok sangat besar. Tahun lalu secara keseluruhan mencapai US$ 18 miliar (Rp 321,95 triliun). Tahun ini, empat bulan saja telah mencapai US$ 13 miliar (Rp 232,5 triliun),” ujar Perry dalam konfernsi pers, Kamis (18/6).
Menurut Perry, penggunaan rupiah dan renminbi secara langsung dalam transaksi perdagangan dan investasi akan semakin mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
“Dengan penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi yang langsung dengan rupiah dan renminbi, ini semakin mengurangi kebutuhan dolar untuk perdagangan dan investasi maupun berbagai transaksi lainnya,” katanya.
Perry mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari strategi diversifikasi transaksi internasional yang terus diperkuat oleh kedua negara. Bank Indonesia bersama Bank Sentral Tiongkok juga akan terus mendorong penggunaan mata uang lokal oleh sektor perbankan dan pelaku usaha di masing-masing negara.
“Kami akan terus dorong perbankan dalam negeri dan pengusaha dalam negeri. Demikian juga Bank Sentral Tiongkok terus mendorong perbankan dan dunia usaha di sana semakin banyak menggunakan rupiah dan renminbi,” ujar Perry.
Kebijakan ini juga sejalan dengan upaya internasionalisasi mata uang renminbi yang tengah didorong pemerintah Tiongkok.
Sejalan dengan meningkatnya penggunaan mata uang lokal tersebut, BI juga memperluas instrumen operasi moneter valuta asing melalui instrumen spot dan swap dalam valuta offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah.
Kebijakan ini dilakukan untuk mendukung kebutuhan transaksi perdagangan dan investasi bilateral yang terus meningkat serta memperkuat stabilitas pasar keuangan domestik.
“Ke depan, Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik,” kata Perry.



