HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Setiap gelaran Piala Dunia selalu menghadirkan beragam prediksi mengenai tim yang berpeluang besar mengangkat trofi juara. Sebagian menjagokan negara yang memiliki pemain-pemain bintang, sementara yang lain lebih percaya pada kekuatan kolektivitas tim.
Pandangan berbeda disampaikan Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal. Politikus yang akrab disapa Deng Ical itu justru menjatuhkan pilihannya kepada tim nasional Belanda sebagai kandidat kuat juara dunia.
Menariknya, alasan yang dikemukakan Deng Ical bukan karena Belanda memiliki pemain terbaik dunia atau deretan superstar yang mendominasi pemberitaan sepak bola internasional. Sebaliknya, ia menilai kekuatan terbesar De Oranje justru terletak pada pemerataan kualitas pemain di seluruh lini.
“Saya lebih menjagokan Belanda. Karena di sana banyak pemain bagus, tetapi tidak ada superstar. Jadi kekuatannya cenderung merata dan saya yakin kerja sama tim akan lebih bagus,” ujar Syamsu Rizal.
Menurut Deng Ical, sepak bola modern semakin menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah tim tidak selalu ditentukan oleh satu atau dua pemain bintang. Dalam banyak turnamen besar, tim yang mampu bermain kolektif dan memiliki chemistry kuat sering kali mampu melangkah lebih jauh dibandingkan tim yang terlalu bergantung pada individu tertentu.
Belanda dinilainya memiliki karakter tersebut. Hampir di setiap lini, tim Oranye memiliki pemain berkualitas yang bermain di klub-klub papan atas Eropa. Namun tidak ada satu nama yang benar-benar menjadi pusat permainan atau memiliki status megabintang yang membuat tim terlalu bergantung kepadanya.
Kondisi itu justru dianggap sebagai keuntungan. Ketika tidak ada pemain yang terlalu dominan, setiap anggota tim memiliki tanggung jawab yang sama untuk berkontribusi. Pola permainan pun menjadi lebih cair karena ancaman dapat datang dari berbagai sektor.
Dalam sejarah sepak bola, Belanda memang dikenal sebagai salah satu negara dengan filosofi permainan yang kuat. Negeri Kincir Angin melahirkan konsep Total Football yang mengubah wajah sepak bola dunia dan menjadi inspirasi bagi banyak tim modern. Tradisi tersebut masih terasa hingga sekarang melalui gaya bermain yang mengedepankan penguasaan bola, pergerakan kolektif, dan disiplin taktik.
Meski belum pernah meraih gelar juara dunia, Belanda tetap masuk dalam daftar negara yang disegani. Mereka beberapa kali berhasil mencapai babak final dan secara konsisten melahirkan generasi pemain berkualitas.
Deng Ical melihat generasi saat ini memiliki modal untuk menciptakan kejutan. Dengan skuad yang relatif seimbang, Belanda dinilai mampu menghadapi berbagai situasi pertandingan tanpa harus mengandalkan satu sosok tertentu.
Ia menilai kekuatan kolektif menjadi faktor penting dalam turnamen sepanjang Piala Dunia. Jadwal yang padat, tekanan tinggi, hingga kemungkinan cedera pemain membuat sebuah tim membutuhkan kedalaman skuad yang baik. Dalam kondisi seperti itu, tim yang memiliki kualitas merata biasanya lebih mampu menjaga konsistensi performa.
Selain itu, kerja sama tim yang solid juga menjadi modal penting saat memasuki fase gugur. Pada tahap tersebut, pertandingan sering kali berlangsung ketat dan ditentukan oleh detail kecil. Tim yang mampu bermain sebagai satu kesatuan biasanya memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.
Pandangan Deng Ical juga mencerminkan keyakinan bahwa sepak bola adalah olahraga kolektif. Sehebat apa pun seorang pemain, hasil pertandingan tetap ditentukan oleh kontribusi seluruh anggota tim di lapangan.
Karena itu, ia optimistis Belanda dapat menjadi kuda hitam sekaligus penantang serius dalam perebutan gelar juara dunia. Meski tidak memiliki pemain dengan status superstar yang mendominasi sorotan publik, kualitas merata yang dimiliki skuad Oranye diyakini dapat menjadi senjata utama.
Di tengah dominasi tim-tim favorit seperti Argentina, Brasil, Prancis, dan Inggris, Deng Ical memilih mengambil jalur berbeda. Baginya, kekuatan tim tidak selalu lahir dari gemerlap nama besar, melainkan dari kemampuan seluruh pemain untuk bekerja sama dan saling melengkapi.
Dengan alasan itulah, Belanda menjadi pilihan utama Syamsu Rizal. Tim Oranye dianggap memiliki fondasi yang cukup kuat untuk bersaing hingga akhir turnamen, bahkan berpotensi mengakhiri penantian panjang mereka untuk meraih gelar juara dunia pertama dalam sejarah sepak bola negara tersebut. (wid)





