Ricuh Eksekusi Hotel Sultan: Batu dan Bambu Melayang, Dibalas Water Cannon

kompas.com
14 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelaksanaan eksekusi lahan kompleks Hotel Sultan di blok 15 Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, diwarnai aksi kericuhan, Kamis (18/6/2026) kemarin.

Sebelum tim eksekutor berhasil memasuki area hotel, sempat terjadi aksi lempar batu dan bambu dari massa yang menolak ekskusi.

Massa yang menamakan diri simpatisan pendukung Hotel Sultan sebenarnya sudah bersiap di depan hotel sejak sebelum pukul 07.00 WIB.

Baca juga: BREAKING NEWS: Eksekusi Hotel Sultan Ricuh, Aparat TNI Polri Dilempari Batu oleh Massa Simpatisan

Koordinator massa menggelar orasi di atas mobil komando untuk menolak eksekusi.

Sekitar pukul 08.00 WIB, mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zen terlihat hadir di antara massa pendukung Hotel Sultan.

Ia pun sempat naik ke atas mobil komando dan berbicara kepada massa.

Sementara itu, simpatisan Hotel Sultan terus menyampaikan orasi dan keluhannya soal rencana eksekusi.

Penyampaian dilakukan saat Wakil Menteri Sekretaris Negara 1, Bambang Eko Suharyanto dan kuasa hukum Pusat Pengelolaan Kawasan GBK (PPKGBK) Chandra Hamzah sedang menyampaikan keterangan pers di depan awak media.

Para perwakilan karyawan mempertanyakan nasib mereka yang akan kehilangan pekerjaan jika Hotel Sultan dieksekusi pada hari ini.

"Kalau kami kehilangan pekerjaan, anak kami bisa kelaparan, keluarga kami bisa mati, MBG saja tidak cukup pak!" kata salah satu peserta aksi di atas mobil komando.

Menurut perwakilan massa, belum ada kepastian penyerapan bagi para pekerja yang berstatus bukan sebagai karyawan tetap di Hotel Sultan.

Perwakilan pekerja juga mengeluhkan sulitnya mencari pekerjaan di situasi krisis ekonomi yang saat ini dihadapi Indonesia.

Baca juga: Demo Tolak Eksekusi Hotel Sultan Ricuh, Polisi Semprot Water Cannon ke Massa

Eksekusi dimulai, kericuhan terjadi

Sekitar pukul 09.40 WIB, eksekusi pengosongan Hotel Sultan dimulai.

Proses eksekusi dimulai sekitar pukul 09.40 WIB, ditandai dengan pembacaan surat penetapan eksekusi oleh Panitera Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Azhar.

Setelahnya, aparat gabungan dari tim juru sita PN Jakarta Pusat berjalan untuk memasuki area halaman Hotel Sultan.

Mereka didampingi aparat gabungan dari polisi dan TNI yang berpakaian lengkap.

Sementara itu, ratusan aparat gabungan dari TNI AD dan Kepolisian tampak bersiaga penuh memadati area akses masuk ke halaman Hotel Sultan.

Mereka memakai helm, pelindung tubuh atau body armor, serta memegang tameng transparan berukuran besar bertuliskan "KODAM JAYA", "TNI AD", dan "POLISI".

Pasukan yang berbaris rapat menyerupai pagar betis ini perlahan merangsek maju, membuka jalan bagi tim juru sita di tengah blokade kawat berduri yang dipasang oleh massa penolak eksekusi.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Reynold Hutagalung memimpin komando pasukan tersebut lewat pengeras suara.

Ia sempat meminta agar massa simpatisan Hotel Sultan membukakan jalan bagi tim juru sita yang didampingi aparat.

Saat itu, pasukan sempat dipukul mundur oleh massa aksi simpatisan.

Pasalnya, massa aksi yang menolak eksekusi melempari petugas dan awak media yang meliput dengan batu, botol air mineral, hingga bambu panjang.

Petugas Dit Samapta Polda Metro Jaya pun sempat mundur bersama dengan awak media.

Baca juga: Kenapa Kivlan Zen Muncul Saat Eksekusi Hotel Sultan?

Dihalau water cannon

Sementara Juru Sita PN Jakarta Pusat lari berhamburan karena takut terkena lemparan batu.

Kemudian, petugas polisi dan TNI AD yang berseragam lengkap dengan baton dan tameng pun maju bergantian ke barisan depan untuk berlindung dari aksi perlawanan massa aksi.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Massa aksi pun menolak untuk berhenti meski telah diperintahkan untuk berhenti oleh pimpinan polisi dari kendaraan taktis.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menhut Klaim Indonesia Semakin Mampu Tangani Karhutla
• 16 jam lalukompas.com
thumb
Meksiko Jadi Tim Pertama Lolos ke 32 Besar
• 8 jam lalucelebesmedia.id
thumb
BGN Pangkas Penerima MBG di Jawa, Sasar Anak yang Butuh Intervensi Gizi
• 6 jam laludisway.id
thumb
Ditopang Fundamental dan Reformasi Pasar Modal, RI Dinilai Tetap Jadi Buruan Investasi Dunia
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Demo Mahasiswa hingga Reformasi Jilid 2 Akan Terus Berlanjut? Ini Prediksi Ade Armando | ROSI
• 19 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.