Merawat Memori Melalui Toponimi Kampung Tua Yogyakarta

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Kota-kota tua di Indonesia biasanya memiliki kawasan urban yang cikal bakal namanya berdasarkan kondisi geografis, penanda tertentu, atau konsensus warga masyarakatnya. Demikian halnya Yogyakarta yang memiliki sejumlah nama perkampungan tua nan unik.

Dengan menelusuri toponiminya, sejumlah nama kampung tua di ”Kota Gudeg” ini dapat menjadi cerminan kejayaan warganya pada masa lampau. Berbekal informasi asal-usul nama sebuah kawasan, menelusuri labirin perkampungan di Kota Yogyakarta tentu akan menjadi pengalaman yang lebih menyenangkan dan menarik.

Kelurahan Klitren di Kecamatan Gondokusuman, misalnya, tampak seperti permukiman kebanyakan di pusat kota Yogyakarta di mana letaknya yang strategis memungkinkan menjamurnya usaha indekos dan warung makan. Pada masa lampau, permukiman yang terletak tak jauh dari Stasiun Lempuyangan ini merupakan kawasan tempat tinggal para buruh yang bekerja di bengkel kereta api.         

Kampung Klitren yang berada di dekat Balai Yasa Yogyakarta di Kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta, Kamis (18/6/2026).

Nama Klitren diyakini merupakan gabungan dari kata “koeli trein”yang diartikan sebagai buruh kereta api.

Letaknya yang dekat dengan sejumlah universitas membuat Klitren menjadi salah satu tempat ideal untuk bisnis indekos.

Nama Klitren diyakini merupakan gabungan dari kata dari bahasa Belanda, ’koeli trein’ , yang dapat diartikan sebagai buruh kereta api. Kata Klitren pun berkembang sejak era Belanda untuk mewakili banyaknya pekerja bengkel kereta api yang bermukim di kawasan permukiman itu. 

Kampung Klitren letaknya berdekatan dengan Balai Yasa Yogyakarta yang merupakan tempat perbaikan berbagai lokomotif milik PT KAI. Fasilitas itu dibangun pada tahun 1914 dengan nama Centraal Werkplaats.

Kereta melintas di pintu pelintasan kereta api di Kampung Tukangan, Yogyakarta, Kamis (18/6/2026).

Pengguna becak bermotor melintasi kawasan Kampung Tukangan, Yogyakarta, Kamis (18/6/2026).

Kawasan permukiman di Kampung Tukangan, Yogyakarta, yang kini banyak digunakan untuk tempat penginapan dan kafe, Kamis (18/6/2026).

Di sisi barat Stasiun Lempuyangan juga terdapat kampung dengan nama unik, yakni Kampung Tukangan. Area tersebut pada masa kolonial menjadi tempat tinggal para tukang kayu yang dipekerjakan untuk memproduksi bantalan rel kayu dan turut membangun Stasiun Lempuyangan.

Stasiun itu diresmikan pada tahun 1872 oleh perusahaan Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij. Lempuyangan merupakan stasiun tertua di Yogyakarta dan sempat terhubung dengan Stasiun Ambarawa.

Meski kini sudah tidak didominasi oleh pemukim dari kalangan tukang kayu, nama Tukangan tetap dilestarikan di tempat tersebut. Lokasinya yang berada di pusat kota dan dekat dengan stasiun membuat Kampung Tukangan dinilai strategis dan kini banyak diisi dengan tempat usaha penginapan dan kafe yang digandrungi pelancong dari kalangan anak muda.  

Kampung tersebut tersambung dengan Jembatan Kewek yang menjadi infrastruktur penting sejak era Belanda. Mengutip dari laman Museum Sonobudoyo, jembatan yang dibangun pada tahun 1921 itu pada awalnya dikenal dengan nama ”Kerk Weg”. Istilah dalam bahasa Belanda itu berarti ”jalan menuju gereja”.

Istilah ”Kewek” kemudian semakin populer untuk menyebut jembatan tersebut karena hasil ”pelesetan” dari katak Kerk Weg itu dianggap lebih mudah diucapkan oleh masyarakat Jawa pada masa itu. Nama Kewek pun dikenal hingga sekarang untuk menyebut jembatan yang menghubungkan Jalan Malioboro dengan kawasan Kotabaru di mana terdapat Gereja Katolik Santo Antonius dari Padua.

Sejumlah nama kampung yang diambil dari julukan atau profesi mayoritas penduduknya juga diterapkan di dalam lingkup Benteng Keraton Yogyakarta hingga kini. Kampung Pesindenan, misalnya, masih bisa ditemui hingga kini dan mewakili profesi penduduknya pada masa lalu yang sebagian besar merupakan Abdi Dalem Sinden. Mereka bertugas sebagai sinden atau penyanyi wanita dalam pentas seni gamelan atau pertunjukan wayang di Keraton Yogyakarta.

Kampung Pesindenan berseberangan dengan Kampung Gamelan. Berdasarkan laman resmi Keraton Yogyakarta, Kampung Gamelan merupakan tempat tinggal Abdi Dalem Gamel yang bertugas mengurus kuda milik sultan. Secara administratif, kampung ini berada di wilayah Kelurahan Panembahan, Kecamatan Keraton.

Yogyakarta juga memiliki kampung tua yang menarik untuk dikunjungi, yakni Kampung Code. Kampung di bantaran Sungai Code tersebut juga dikenal sebagai Kampung Romo Mangun karena tempat itu dulu pernah ditinggali rohaniwan dan budayawan Yusuf Bilyarta (YB) Mangunwijaya yang akrab dipanggil Romo Mangun.

Nama Code dinilai terkait dengan riwayat keberadaan Dinas Code, badan persandian pertama di Indonesia yang didirikan pada tahun 1946. Lokasi di dekat bekas kantor Dinas Code tersebut berada tak jauh dari Kampung Code dan kini diabadikan menjadi Museum Sandi Yogyakarta.

Nama-nama warisan masa lampau itu terus dilestarikan hingga era modern saat ini. ”Pelestarian nama-nama daerah masa lalu atau toponimi suatu daerah menurut saya berada di posisi yang penting karena keadaan tersebut berkaitan dengan asal-usul sekaligus identitas daerah itu yang khas,” ujar Achmad Paramasatya, pemerhati sejarah toponimi Yogyakarta.

Kawasan permukiman Kampung Code di bantaran Sungai Code, Yogyakarta, Kamis (18/6/2026).

Salah satu jalan masuk menuju Kampung Code

Anak-anak bermain layang-layang di kawasan Kampung Code.

Keberadaan nama tersebut membuat setiap daerah memiliki nilai dan sejarah pembentukannya masing-masing. Hal itu, lanjut Achmad, juga membentuk kehidupan masyarakat di dalamnya.

Pelestarian toponimi tersebut juga berkaitan dengan pembentukan memori kolektif masyarakat Yogyakarta. Selain untuk mempertahankan identitas dan nilai sejarah di dalamnya, pelestarian itu juga penting agar nama-nama kampung tersebut tidak hanya sebatas dikenang oleh para orang tua, tetapi juga menjadi sumber informasi yang tetap menarik untuk ditelusuri bagi generasi mendatang.

Baca JugaKampung Batik Kauman yang Kian Memikat
Baca JugaKampung Ketandan yang Lekat dengan Budaya Tionghoa

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cara Ukur Corong Pompa ASI agar Hasilnya Lebih Optimal
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Hotel Sultan Dieksekusi, Begini Nasib Tamu yang Sudah Booking Kamar
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
BPJS Kesehatan: Daftar Penyakit Tak Ditanggung dan Tak Bisa Dirujuk
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Gibran Datangi Sekolah yang Akan Digusur untuk Kopdes Merah Putih, Ternyata Belum dapat MBG
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Wapres Gibran Ajak Mahasiswa Tinjau MBG & Koperasi Desa Merah Putih, Pastikan Bebas Korupsi
• 19 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.