OpenAI terus memperkuat jajaran sumber daya manusianya menjelang rencana penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO). Perusahaan pengembang ChatGPT ini baru saja merekrut dua nama besar, yakni Noam Shazeer, salah satu tokoh penting dalam perkembangan kecerdasan buatan (AI) modern di Google, serta Dean Ball, mantan pejabat kebijakan AI di Gedung Putih Amerika Serikat.
Mengutip TechCrunch pada Kamis (18/6), langkah itu dinilai sebagai upaya OpenAI memperkuat dua aspek penting sekaligus, yakni pengembangan teknologi AI dan hubungan dengan regulator di tengah persaingan yang semakin ketat di industri kecerdasan buatan.
Shazeer mengumumkan pengunduran dirinya dari Google pada Rabu (18/6) setelah lebih dari dua dekade berkarier di perusahaan tersebut. Ia dikenal sebagai salah satu ilmuwan yang berperan besar dalam perkembangan AI generatif modern.
Namanya tercatat sebagai salah satu penulis makalah bersejarah Attention Is All You Need yang diterbitkan pada 2017. Makalah tersebut memperkenalkan arsitektur Transformer, teknologi yang kemudian menjadi fondasi berbagai model AI generatif, termasuk ChatGPT dan Gemini.
Selain berkarier di Google, Shazeer pernah mendirikan startup Character AI, platform chatbot berbasis AI yang sempat menjadi salah satu startup AI paling populer. Pada 2024, Google kembali merekrut Shazeer melalui kesepakatan yang memberikan akses terhadap teknologi Character AI.
Kepindahan Shazeer ke OpenAI menjadi salah satu perpindahan talenta paling menonjol dalam persaingan industri AI yang saat ini diwarnai kompetisi antara sejumlah perusahaan besar seperti Google, OpenAI, Anthropic, dan Meta.
Perkuat Hubungan dengan Pembuat KebijakanSelain memperkuat kemampuan teknologinya, pengembang ChatGPT itu merekrut Dean Ball untuk memimpin tim baru bernama Strategic Futures.
Sebelum bergabung dengan OpenAI, Ball bertugas di Gedung Putih dan terlibat dalam penyusunan Rencana Aksi AI Amerika Serikat. Setelah itu, ia kembali ke lembaga pemikir Foundation for American Innovation sebagai peneliti senior.
Melalui unggahannya di media sosial X, Ball mengungkapkan bahwa dirinya akan resmi bergabung dengan OpenAI pada 6 Juli 2026.
“Mandat kami adalah membantu kepemimpinan perusahaan membentuk kebijakan AI terdepan,” tulis Ball.
Dalam posisi barunya, Ball akan melapor langsung kepada Chief Strategy Officer OpenAI Jason Kwon.
Tim Strategic Futures akan berfokus pada berbagai isu strategis yang dinilai semakin penting seiring pesatnya perkembangan teknologi AI.
Ruang lingkup kerja tim tersebut mencakup risiko bencana yang berpotensi ditimbulkan AI, peningkatan kemampuan AI secara mandiri, dampaknya terhadap pasar tenaga kerja, hingga hubungan antara perusahaan AI, pemerintah, dan masyarakat.
Menurut Ball, tata kelola internal akan menjadi faktor yang semakin penting dalam perkembangan industri AI ke depan. Ia menilai laboratorium AI terdepan tidak hanya bertanggung jawab mengembangkan teknologi, tetapi juga harus memimpin pengambilan keputusan terkait tata kelola dan keamanan AI.
Rekrutmen Shazeer dan Ball menunjukkan upaya OpenAI memperkuat posisi di dua bidang yang semakin menentukan arah industri AI, yakni inovasi teknologi dan kebijakan publik. Langkah tersebut dilakukan ketika persaingan pengembangan AI kian ketat dan pengawasan regulator terhadap teknologi tersebut terus meningkat di berbagai negara.




