Intip Strategi BRI Jaga Beban Bunga Kala BI Rate Makin Tinggi

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis, JAKARTA — Persaingan menghimpun dana pihak ketiga (DPK) yang makin ketat, terutama memasuki era suku bunga tinggi, mendorong PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. mengubah pendekatan bisnis pendanaannya.

Alih-alih mengandalkan perang suku bunga, BRI memilih memperbesar transaksi nasabah melalui ekosistem digital dan penguatan posisi sebagai bank transaksional untuk menjaga pertumbuhan dana murah.  

Strategi tersebut menjadi penting ketika industri perbankan menghadapi tekanan likuiditas dan kenaikan biaya dana dalam beberapa waktu terakhir. Di tengah kondisi itu, BRI menilai kemampuan menciptakan aktivitas transaksi yang tinggi akan menjadi faktor pembeda dibandingkan sekadar menawarkan bunga simpanan yang lebih agresif.  

Hal ini memungkinkan BRI menjaga daya saing suku bunga Perseroan di saat pasar keuangan Indonesia memasuki era suku bunga tinggi, seiring dengan kenaikan BI Rate oleh Bank Indonesia (BI).

Terbaru, BI Rate baru saja dinaikkan 25 bps menjadi 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur BI pada Kamis (18/6/2026). Dengan kenaikan tersebut, total kenaikan BI Rate sudah mencapai 100 bps atau 1,00% dalam 2 bulan terakhir.

SEVP Transaction and Retail Funding BRI Trilaksito Singgih menjelaskan bahwa penguatan bisnis pendanaan menjadi salah satu pilar utama dalam transformasi perusahaan. Fokusnya diarahkan pada pembangunan BRI sebagai transaction bank yang mampu menjadi pusat aktivitas keuangan nasabah, baik individu maupun pelaku usaha.  

Baca Juga

  • Pilah-pilih Saham Bank Jumbo Terdiskon, Ada BMRI hingga BBRI
  • KUR BRI Tembus Rp84,36 Triliun, Serapan Sektor Pertanian Terbesar
  • Mulai Perjalanan Bersama BRI Prioritas, Nikmati Ragam Apresiasi Eksklusif

Pendekatan tersebut mulai tercermin pada pertumbuhan tabungan yang berada di atas rata-rata pasar. Pada kuartal I/2026, BRI mencatat pertumbuhan tabungan sekitar 11,5% year-on-year (YoY) menjadi Rp543,3 triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan industri yang berada di kisaran 8% YoY.

Kinerja itu ditopang oleh peningkatan aktivitas transaksi melalui aplikasi BRImo dan berbagai layanan digital lainnya.  

Menurutnya, pertumbuhan dana tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kemampuan bank menarik simpanan baru. Aktivitas transaksi yang terus meningkat dinilai mampu menciptakan dana mengendap yang lebih stabil sekaligus memperkuat komposisi dana murah atau current account saving account (CASA).  

“Cara kita menumbuhkan DPK kita adalah dengan cara membangun CASA yang lebih bagus. Kita juga memperbaiki komposisi special rate deposito kita buat geser ke yang lebih murah,” katanya, Kamis (18/6). 

Singgih mengatakan transformasi digital menjadi salah satu mesin utama di balik strategi tersebut. BRI memanfaatkan basis nasabah yang besar untuk membangun ekosistem transaksi yang lebih luas, mulai dari kebutuhan harian masyarakat hingga aktivitas bisnis berbagai segmen usaha.  

Perseroan menilai kekuatan utama BRI terletak pada kombinasi jaringan yang kuat di segmen mikro dan pedesaan dengan kemampuan digital yang terus berkembang. Model ini memungkinkan bank menjangkau aktivitas ekonomi yang selama ini belum sepenuhnya tersentuh layanan keuangan modern.  

“Saat kita mendefinisikan bahwa BRI itu 'Satu Bank untuk Semua', yang unik adalah bahwa yang sudah kuat sekali di rural kita lengkapi dengan kekuatan engine yang baru di BRI. Dan di situ konsep ekosistemnya nanti ada dengan bermacam model,” katanya.

Ekosistem yang dibangun BRI tidak terbatas pada nasabah individu. BRI mengembangkan keterhubungan dengan berbagai rantai bisnis, mulai dari sektor pertanian, perdagangan ritel modern, hingga berbagai mitra usaha lain yang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sehari-hari. Dengan pendekatan tersebut, bank berharap dapat menangkap lebih banyak transaksi yang pada akhirnya memperkuat basis pendanaan.  

Di sisi lain, BRI tetap mempertahankan fokusnya pada segmen mikro yang selama puluhan tahun menjadi fondasi bisnis perseroan. Sekitar 72% portofolio kredit BRI masih berada di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah. Posisi tersebut sekaligus menjadi alasan mengapa jaringan layanan hingga pelosok Indonesia tetap menjadi bagian penting dari strategi perusahaan.  

PERUBAHAN SUKU BUNGA

Sementara itu, dalam menghadapi perubahan kondisi pasar, terutama dengan kenaikan suku bunga acuan yang berlanjut, BRI membuka ruang untuk melakukan penyesuaian strategi pendanaan maupun penetapan harga dana.

Meski demikian, BRI menegaskan langkah tersebut tetap dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kebutuhan menjaga akses pembiayaan bagi segmen mikro yang menjadi fokus utama perseroan.

Head of Liquidity & Funding Management Group BRI Teguh Sulistyono mengatakan bahwa sejauh ini, tekanan kenaikan suku bunga belum mendorong kebutuhan penyesuaian bunga simpanan secara agresif.

Basis nasabah yang besar dan tersebar dinilai masih memberikan ruang bagi BRI untuk mengelola biaya dana secara relatif efisien dibandingkan sebagian bank lain.  

"Dengan kondisi sekarang, mungkin kalau dicek sampai dengan kuartal satu [2026] itu kita malah lebih efisien dibandingkan dengan beberapa bank lain," katanya.

Transformasi ke arah bisnis transaksional bahkan mulai tercermin pada perbaikan biaya dana. Cost of fund (CoF) BRI yang sebelumnya berada di kisaran 3% berhasil ditekan menjadi sekitar 2,3% pada kuartal I/2026. Penurunan tersebut dinilai menjadi salah satu bukti bahwa strategi digital dan transaksi mulai memberikan dampak nyata terhadap efisiensi pendanaan.  

Selain pendanaan, BRI terus memperluas peran BRImo sebagai pintu masuk berbagai kebutuhan finansial masyarakat. Produk tabungan tetap menjadi andalan, tetapi perseroan mulai memperluas layanan investasi, termasuk emas, yang dapat diakses secara digital melalui ekosistem grup BRI.  

Strategi tersebut menunjukkan bahwa perebutan dana masyarakat kini tidak lagi hanya berlangsung di meja deposito. Bagi BRI, kemampuan menjadi bagian dari aktivitas keuangan harian nasabah menjadi kunci mempertahankan pertumbuhan dana murah sekaligus menjaga efisiensi di tengah kompetisi likuiditas yang semakin ketat.  

REKOMENDASI ANALIS

Sementara itu, sejumlah analis menilai strategi BRI memperkuat bisnis transaksional mulai memberikan dampak nyata terhadap struktur pendanaannya.

Tim analis Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi dan Ahnaf Yassar mencatat perbaikan komposisi dana murah menjadi salah satu faktor utama yang menopang prospek kinerja BRI tahun ini.

Pertumbuhan rekening giro dan tabungan yang ditopang akuisisi nasabah serta pengembangan ekosistem merchant mendorong rasio CASA naik menjadi 70,6% pada akhir 2025 dari 67,3% pada tahun sebelumnya. Perbaikan komposisi dana tersebut membantu menekan biaya dana dan memberikan ruang bagi BRI menghadapi tekanan margin pada periode mendatang.  

“Peningkatan ini membantu menurunkan biaya pendanaan hingga akhir tahun, memberikan penyangga tambahan terhadap potensi normalisasi margin pada tahun 2026,” ungkap mereka dalam riset yang terbit belum lama ini.

Menurut Samuel Sekuritas, penguatan funding mix, ekspansi ekosistem berbasis transaksi, dan perbaikan kualitas aset menjadi alasan utama mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBRI.

Samuel Sekuritas memperkirakan perbaikan biaya dana dan komposisi CASA akan mengimbangi risiko perlambatan pertumbuhan kredit maupun tekanan margin dari segmen kredit usaha rakyat (KUR).  

Pandangan serupa disampaikan MNC Sekuritas. Lembaga riset tersebut menilai penetrasi BRImo yang terus meningkat berhasil mendorong pertumbuhan dana murah ritel dan memperkuat posisi BRI sebagai bank transaksional.

Research Analyst MNC Sekuritas Victoria Venny mengatakan bahwa hingga kuartal I/2026, rasio CASA BRI meningkat menjadi 68,1% seiring pertumbuhan CASA ritel sebesar 11,7% secara tahunan. MNC menyebut perkembangan itu sebagai hasil dari strategi penguasaan wilayah dan penguatan transaksi nasabah yang dijalankan perseroan.  

Meski demikian, Venny melihat tantangan belum sepenuhnya hilang. MNC Sekuritas menyoroti rencana penurunan bunga KUR menjadi 5% yang berpotensi menekan pendapatan bunga BRI apabila skema subsidi pemerintah tidak berubah.

Dalam simulasi MNC, penurunan imbal hasil KUR sebesar 100 basis poin dapat mengurangi laba bersih sekitar 2% dibandingkan dengan proyeksi dasar.  

Di tengah risiko tersebut, kemampuan BRI memperbesar basis dana murah dan memperluas aktivitas transaksi dinilai menjadi faktor kunci menjaga profitabilitas.

Dari sisi investasi, kedua sekuritas tersebut masih mempertahankan rekomendasi positif terhadap saham BBRI.

Samuel Sekuritas merekomendasikan beli dengan target harga Rp4.400 per saham.  Sementara itu, MNC Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp4.050 per saham.

Menurut MNC, koreksi harga saham BBRI selama ini telah membuat valuasinya BBRI menjadi menarik. Sementara itu, efisiensi pendanaan, pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan, dan modal yang kuat dinilai masih mampu menopang ketahanan kinerja perseroan.  

Adapun, saham BBRI ditutup di level Rp2.960 pada perdagangan Kamis (18/6/2026), mencerminkan tingkat koreksi sebesar 19,13% secara year-to-date (YtD), sejalan dengan pelemahan pasar saham Indonesia secara keseluruhan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BPJS Kesehatan-pemangku kepentingan dorong optimalisasi Program JKN 
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Mojtaba Khamenei Muncul Respons Deal Damai Perang AS-Iran
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Presiden Prabowo Setujui Anggaran Rp100,1 Triliun untuk Percepat Pemulihan Pascabencana di Sumatera
• 11 jam lalupantau.com
thumb
Pilih Morgan Oey Jadi Duta FFI 2026, Prilly Latuconsina Ngaku Ngefans Sejak SMP
• 22 jam lalugrid.id
thumb
Demo Mahasiswa hingga Reformasi Jilid 2 Akan Terus Berlanjut? Ini Prediksi Ade Armando | ROSI
• 15 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.