China Desak NATO Evaluasi Perannya di Tengah Ketegangan Terkait Rusia dan Ukraina

pantau.com
5 jam lalu
Cover Berita

Pantau - China mendesak Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk mengevaluasi secara serius perannya dalam menjaga perdamaian dan stabilitas dunia setelah muncul pernyataan NATO terkait dukungan Beijing kepada Rusia dalam perang Ukraina.

China Kritik Sikap NATO

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menyampaikan pernyataan tersebut di Beijing pada Kamis (18/6) sebagai respons atas komentar Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte yang menyebut aliansi itu terus memantau dukungan China terhadap Rusia.

"NATO perlu mengatasi persepsi yang salah tentang China dan berhenti memicu konfrontasi dan mengalihkan kesalahan," ungkap Lin Jian dalam konferensi pers.

Lin mengatakan NATO perlu meninjau kembali perannya dalam lingkungan internasional saat ini karena organisasi tersebut merupakan peninggalan era Perang Dingin.

"Sebagai peninggalan dari Perang Dingin, NATO perlu merenungkan secara serius peran apa yang telah dimainkannya dan dampaknya terhadap perdamaian dan stabilitas di dunia saat ini," ujarnya.

Sebelumnya pada Rabu (17/6), Mark Rutte mengatakan NATO terus memantau berbagai laporan terkait aktivitas China yang disebut berkaitan dengan Rusia.

"Mengenai China, yang kami ketahui, tentu saja adalah upaya pengelakan sanksi, barang-barang ganda, dan sebagainya. Kami tidak naif. Kami mengikuti semuanya dengan cermat," kata Rutte kepada wartawan.

China Tegaskan Posisi soal Perang Ukraina dan Agenda BRICS

Menanggapi tuduhan tersebut, Lin menegaskan bahwa China mempertahankan posisi yang objektif dan adil dalam konflik Ukraina serta aktif mendorong upaya perdamaian.

"Beijing tidak memberikan senjata mematikan kepada pihak mana pun yang berkonflik dan telah memberlakukan kontrol ketat atas barang-barang dwiguna," ungkapnya.

Secara terpisah, pertemuan ke-16 penasihat keamanan nasional BRICS dan perwakilan tinggi untuk keamanan nasional dijadwalkan berlangsung di New Delhi, India, pada 22-23 Juni 2026.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi dijadwalkan menghadiri pertemuan tersebut untuk membahas situasi keamanan internasional, isu regional dan global, serta tantangan keamanan konvensional dan non-konvensional bersama negara anggota BRICS.

Kementerian Luar Negeri China menyatakan negara-negara BRICS berkomitmen menjaga perdamaian dunia, mendorong pembangunan bersama, memperkuat multilateralisme, dan mewujudkan tata kelola global yang lebih adil di tengah situasi internasional yang semakin bergejolak.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.838 per Dolar AS usai BI Kerek Suku Bunga ke 5,75%
• 9 jam lalubisnis.com
thumb
Hasil Swiss vs Bosnia dan Herzegovina: La Nati Pesta Gol di Los Angeles
• 14 jam lalumedcom.id
thumb
Detik-detik Roy Suryo Ditangkap Polisi Terkait Kasus Ijazah Jokowi
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Usulan MTsN 2 mengemuka saat kunjungan Menko AHY ke Bogor
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Ironis! Dipuji karena Bersihkan Stadion Piala Dunia, Fans Jepang Malah Menuai Kritik di Negaranya Sendiri
• 5 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.