Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (AEI) David Sutyanto menilai hasil ulasan dari MSCI menjadi momentum untuk memperkuat kualitas pasar modal Indonesia, supaya semakin kompetitif di tingkat global.
"Hasil ini bukan sinyal negatif terhadap pasar modal Indonesia, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat kualitas pasar agar semakin kompetitif di mata investor global," ujar David sebagaimana keterangan resmi di Jakarta, Jumat.
Menurutnya, sejumlah indikator utama dalam penilaian MSCI masih menunjukkan fondasi pasar modal Indonesia yang kuat.
"Beberapa aspek seperti persyaratan investor, batas kepemilikan asing, ruang kepemilikan asing, kebebasan arus modal, pembukaan rekening investor, regulasi pasar, sistem kustodian, perdagangan, hingga ketersediaan instrumen investasi masih memperoleh penilaian yang relatif positif," ujar David.
Ia mengatakan, hal tersebut menunjukkan bahwa dari sisi infrastruktur, keterbukaan, dan aksesibilitas, pasar Indonesia tetap berada dalam radar utama investor global sebagai salah satu pasar berkembang penting di kawasan Asia Pasifik.
Di sisi lain, Ia mengakui masih terdapat pekerjaan rumah pada aspek information flow, namun, catatan tersebut tidak dapat diartikan sebagai kelemahan struktural yang sulit diperbaiki.
"Justru ini menjadi masukan yang sangat penting bagi regulator, bursa, emiten, analis, dan seluruh pelaku pasar untuk meningkatkan kualitas keterbukaan informasi, konsistensi komunikasi, serta akses data yang lebih setara bagi investor domestik maupun asing," ujar David.
David menilai perbaikan kualitas informasi menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia.
Bagi investor global, menurutnya, pasar yang menarik tidak hanya ditentukan oleh ukuran dan likuiditas, namun juga oleh kemudahan akses terhadap informasi yang kredibel, tepat waktu, dan sesuai standar internasional.
David mengatakan, agenda pembenahan arus informasi perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kelas pasar modal Indonesia, sekaligus memperkuat kepercayaan investor.
Sementara itu, dalam risetnya, Samuel Sekuritas Indonesia menilai penurunan peringkat pada kriteria Information Flow belum cukup kuat untuk mengubah status Indonesia sebagai pasar berkembang.
Samuel Sekuritas menyebut sejumlah faktor pendukung masih menjadi penopang utama posisi Indonesia, diantaranya mewajibkan pengungkapan pemegang saham dengan kepemilikan minimal 1 persen, keberadaan kerangka kerja High Shareholder Concentration (HSC), serta peta jalan peningkatan free float hingga 15 persen.
"Faktor-faktor itu cukup untuk mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market," tulis Samuel Sekuritas.
Dalam laporan MSCI yang dirilis pada Jumat (19/6) pagi, yang mencakup lima segmen Market Accessibility dan terdiri dari 18 measurement (kriteria) .
Rinciannya, diantaranya 10 dari 18 kriteria dinilai “++” (double plus, yang merupakan kriteria tertinggi) yang menunjukkan sudah sesuai dengan best practice global dan tidak ada issue, kemudian 6 kriteria masih dinilai “+” (single plus) yang diharapkan terus ada improvement.
Sementara itu, pada kriteria Information Flow dan Foreign Exchange Market Liberalization Level dinilai “-“ (negatif), yang menunjukkan adanya concern untuk ada improvement.
Baca juga: OJK terus perkuat kualitas transparansi pasar tanggapi ulasan MSCI
Baca juga: IHSG Jumat ini dibuka melemah 10,88 poin ke posisi 6.161,46
Baca juga: BEI: Kami punya ekspektasi tinggi, RI tetap "emerging market" di MSCI
"Hasil ini bukan sinyal negatif terhadap pasar modal Indonesia, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat kualitas pasar agar semakin kompetitif di mata investor global," ujar David sebagaimana keterangan resmi di Jakarta, Jumat.
Menurutnya, sejumlah indikator utama dalam penilaian MSCI masih menunjukkan fondasi pasar modal Indonesia yang kuat.
"Beberapa aspek seperti persyaratan investor, batas kepemilikan asing, ruang kepemilikan asing, kebebasan arus modal, pembukaan rekening investor, regulasi pasar, sistem kustodian, perdagangan, hingga ketersediaan instrumen investasi masih memperoleh penilaian yang relatif positif," ujar David.
Ia mengatakan, hal tersebut menunjukkan bahwa dari sisi infrastruktur, keterbukaan, dan aksesibilitas, pasar Indonesia tetap berada dalam radar utama investor global sebagai salah satu pasar berkembang penting di kawasan Asia Pasifik.
Di sisi lain, Ia mengakui masih terdapat pekerjaan rumah pada aspek information flow, namun, catatan tersebut tidak dapat diartikan sebagai kelemahan struktural yang sulit diperbaiki.
"Justru ini menjadi masukan yang sangat penting bagi regulator, bursa, emiten, analis, dan seluruh pelaku pasar untuk meningkatkan kualitas keterbukaan informasi, konsistensi komunikasi, serta akses data yang lebih setara bagi investor domestik maupun asing," ujar David.
David menilai perbaikan kualitas informasi menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia.
Bagi investor global, menurutnya, pasar yang menarik tidak hanya ditentukan oleh ukuran dan likuiditas, namun juga oleh kemudahan akses terhadap informasi yang kredibel, tepat waktu, dan sesuai standar internasional.
David mengatakan, agenda pembenahan arus informasi perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kelas pasar modal Indonesia, sekaligus memperkuat kepercayaan investor.
Sementara itu, dalam risetnya, Samuel Sekuritas Indonesia menilai penurunan peringkat pada kriteria Information Flow belum cukup kuat untuk mengubah status Indonesia sebagai pasar berkembang.
Samuel Sekuritas menyebut sejumlah faktor pendukung masih menjadi penopang utama posisi Indonesia, diantaranya mewajibkan pengungkapan pemegang saham dengan kepemilikan minimal 1 persen, keberadaan kerangka kerja High Shareholder Concentration (HSC), serta peta jalan peningkatan free float hingga 15 persen.
"Faktor-faktor itu cukup untuk mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market," tulis Samuel Sekuritas.
Dalam laporan MSCI yang dirilis pada Jumat (19/6) pagi, yang mencakup lima segmen Market Accessibility dan terdiri dari 18 measurement (kriteria) .
Rinciannya, diantaranya 10 dari 18 kriteria dinilai “++” (double plus, yang merupakan kriteria tertinggi) yang menunjukkan sudah sesuai dengan best practice global dan tidak ada issue, kemudian 6 kriteria masih dinilai “+” (single plus) yang diharapkan terus ada improvement.
Sementara itu, pada kriteria Information Flow dan Foreign Exchange Market Liberalization Level dinilai “-“ (negatif), yang menunjukkan adanya concern untuk ada improvement.
Baca juga: OJK terus perkuat kualitas transparansi pasar tanggapi ulasan MSCI
Baca juga: IHSG Jumat ini dibuka melemah 10,88 poin ke posisi 6.161,46
Baca juga: BEI: Kami punya ekspektasi tinggi, RI tetap "emerging market" di MSCI





