JAKARTA, KOMPAS - Upaya penerapan pembelajaran AI dan koding di sekolah-sekolah masih menemui tantangan cukup berat. Meski sudah didorong melalui peraturan, masih banyak sekolah yang belum menjadikannya mata pelajaran pilihan sesuai aturan. Gurunya pun masih sedikit yang berkompeten.
Staf Khusus Menteri Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Artifisial di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Muhammad Muchlas Rowi mengungkapkan, hingga kini baru sekitar 16.000 sekolah di semua jenjang yang menerapkan koding dan Akal Imitasi atau AI sebagai mata pelajaran pilihan.
Hal ini berarti selama setahun diterapkan, belum ada setengah dari total 445.532 sekolah dalam data pokok pendidikan (Dapodik) yang menerapkannya.
Selain itu, jumlah guru yang dilatih untuk memiliki kompetensi Koding dan AI baru sekitar 59.000 guru dari total 3,4 juta guru dalam Dapodik.
Padahal, pembelajaran Koding dan AI atau Kecerdasan Buatan dapat diterapkan dengan tiga cara; sebagai mata pelajaran pilihan, diintegrasikan dengan mata pelajaran lain, atau menjadi kegiatan ekstrakurikuler.
"Artinya, dari sisi populasi sekolah, angkanya bahkan belum mencapai setengah. Ini menjadi cambuk bagi kita, Pak Menteri juga sempat mempertanyakan mengapa angkanya masih seperti itu," kata Mukhlas di Jakarta, Jumat (19/6/2026).
Setelah ditelusuri, menurut Muchlas, ternyata pencatatan Dapodik baru mengakomodasi implementasi sebagai mata pelajaran pilihan, sementara pelaksanaan melalui integrasi dan ekstrakurikuler belum tercatat. Karena itu, ia menilai data ini belum sepenuhnya menggambarkan kondisi di lapangan, namun tetap menjadi pengingat agar implementasi diperluas.
Hal baru yang dilakukan adalah kita mengembangkan (ajang eksebisi) bidang kecerdasan artifisial di Lomba Kompetensi Siswa (LKS).
Untuk itu, salah satu cara memperluas implementasi pembelajaran koding dan AI bagi pelajar adalah melalui kompetisi. Gelaran Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Pendidikan Menengah tahun 2026.
Ajang ini kembali mencoba melombakan kemampuan menggunakan akal imitasi atau AI sebagai ajang eksibisi pada jenjang Sekolah Menengah Atas. Ini diharapkan bisa menjaring lebih banyak talenta nasional yang akan dibina di bidang AI.
Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Maria Veronica Irene Herdjiono mengatakan, penguasaan AI telah menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari di berbagai aspek kehidupan sehingga generasi masa depan harus memiliki cakap menggunakannya.
"Tahun ini, hal baru yang dilakukan adalah kita mengembangkan bidang kecerdasan artifisial di Lomba Kompetensi Siswa (LKS)," kata.
Pada ajang LKS Dikmen, kompetisi AI dilaksanakan dalam bentuk kompetisi berbasis studi kasus. Setiap tim akan merancang, membangun, dan mempresentasikan aplikasi berbasis kecerdasan artifisial untuk menyelesaikan permasalahan dunia nyata sesuai challenge case yang ditetapkan panitia.
Cabang perlombaan AI semakin didorong karena para siswa Indonesia telah terlebih dahulu menoreh prestasi pada ajang internasional tahun lalu di International Olympiad in Artificial Intelligence (IOAI) di Beijing, China, pada 2-9 Agustus 2025.
Hal ini menjadi strategi awal membangun jalur pembinaan talenta unggul menuju kompetisi internasional yang berkelanjutan.
Sejarah itu dicetak oleh delegasi Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI) yang baru mengikuti IOAI untuk pertama kali. Medali perak diraih Faiz Rizki Ramadhan dari MAN Insan Cendekia Serpong; Matthew Hutama Pramana dari SMA Kolese Loyola Semarang; Luvidi Pranawa Alghari dari SMP Pribadi Depok; dan medali perunggu diraih Jayden Jurianto dari SMAK 1 Kristen BPK Penabur Jakarta.
"Harapannya, siswa yang mengarah ke pendidikan kejuruan maupun yang mengarah ke SMA benar-benar bisa menerapkan dan semakin melengkapi sumber daya kita yang mampu mengembangkan kecerdasan artifisial," ucapnya.
Berbeda dengan cabang OSN lainnya yang melalui tahapan berjenjang dari sekolah hingga nasional, ajang eksibisi AI akan menggunakan mekanisme yang lebih sederhana. Tim peserta tetap melakukan pendaftaran, tetapi seleksi langsung mengarah ke tingkat nasional dan dilaksanakan secara luring.
Satu tim terdiri dari tiga sampai lima orang dengan mengunggah terlebih dahulu proposal yang disusun berdasarkan tantangan dari panitia. Tim juga juga harus menyerahkan video demonstrasi aplikasi dan video presentasi yang menjelaskan berbagai sumber pendukung yang digunakan selama proses pengembangan, termasuk referensi, framework, dataset, hingga AI tools yang dimanfaatkan.
Adapun jadwal OSN jenjang SMA tingkat kabupaten/kota akan digelar pada 18-19 Juni 2026, tingkat provinsi pada 27-29 Juli 2026, tingkat nasional tahap semifinal pada 12 Agustus 2026. Untuk selanjutnya, tahap final digelar pada 14-20 September 2026.
Rektor Cakrawala University, Alim Anggono yang menyelenggarakan LKS dan OSN 2026 menegaskan, AI menjadi salah satu kompetensi penting yang perlu dipersiapkan sejak dini untuk menghadapi tantangan masa depan. “Kami berharap program ini dapat berjalan dengan baik dan menjadi bagian dalam membangun ekosistem pembinaan talenta kecerdasan artifisial di Indonesia,” kata Alim.





