VIVA –Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei merespon momentum penandatanganan nota kesepahamanan (MoU) damai dengan Amerika Serikat. Dalam pernyataannya, Mojtaba Khamenei dengan tegas menyebut kesepakatan itu terjadi bukan karena Iran menginginkannya melainkan karena melainkan karena Amerika Serikat yang disebut lebih membutuhkan dan terus mendorong tercapainya perjanjian itu.
"Sebagaimana telah Anda ketahui, sebuah nota kesepahaman telah ditandatangani antara presiden Iran dan presiden Amerika Serikat," tulis Khamenei dikutip dari laman NDTV, Jumat 19 Juni 2026.
Ia mengatakan bahwa para pejabat Iran telah bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mencapai tahap ini. Namun, menurutnya, pihak Amerika justru menjadi pihak yang paling bersemangat mendorong terwujudnya kesepakatan tersebut.
"Presiden Amerika-lah yang karena merasa terdesak, menggunakan berbagai cara dan pengaruh untuk mewujudkan hal ini," tulisnya.
Khamenei juga mengakui bahwa secara pribadi ia memiliki pandangan yang berbeda terhadap kesepakatan tersebut.
"Saya, pada prinsipnya, memiliki pandangan yang berbeda," ujarnya.
Meski demikian, ia tetap memberikan persetujuan setelah mendapat komitmen dari Presiden Iran bahwa hak-hak bangsa Iran serta Front Perlawanan akan tetap dilindungi.
Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak akan mengalah apabila Amerika Serikat mencoba mengajukan tuntutan di luar kesepakatan yang telah disepakati bersama.
"Ia juga secara tegas menyatakan bahwa jika pihak Amerika berusaha mengajukan tuntutan yang berlebihan, mereka tidak akan menaatinya," tulis Khamenei.
Dalam pesannya kepada rakyat Iran, ia menyebut dirinya sebagai pelayan yang rendah hati meminta masyarakat menunggu hingga seluruh syarat yang telah disepakati benar-benar direalisasikan.
Penandatanganan nota kesepahaman itu dilakukan dalam jamuan makan malam yang diselenggarakan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, di Istana Versailles setelah berakhirnya KTT G7.
Macron mengumumkan perkembangan tersebut melalui media sosial X. Ia menyebut kesepakatan itu sebagai langkah yang membuka jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan dan memungkinkan Selat Hormuz kembali dibuka.
Sebelumnya, penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat. Teheran juga memastikan bahwa pertemuan yang direncanakan di Jenewa tetap akan dilaksanakan sesuai jadwal.
Isi Kesepakatan AS-Iran
Dokumen tersebut secara resmi berjudul "Memorandum Kesepahaman Islamabad antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran." Dalam dokumen itu, kedua negara sepakat untuk segera dan secara permanen menghentikan operasi militer di seluruh medan konflik, termasuk di Lebanon.





