Bank Mega Syariah tetap fokus dalam mendorong kinerja pembiayaan pada sektor-sektor yang memiliki ketahanan tinggi terhadap dinamika ekonomi global.
IDXChannel – Di tengah penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) rupiah, PT Bank Mega Syariah tetap optimistis terhadap prospek pertumbuhan pembiayaan komersial sepanjang 2026 ini.
Anak usaha PT Bank Mega Tbk (MEGA) tersebut meyakini bahwa fluktuasi nilai tukar yang terjadi saat ini tidak akan mengurangi peluang pembiayaan pada sektor-sektor produktif, terutama yang memiliki fundamental usaha kuat dan prospek pertumbuhan yang positif.
"Kami paham bahwa penguatan dolar AS memang menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu dicermati karena berpotensi mempengaruhi biaya usaha, arus kas, serta kebutuhan modal kerja pelaku usaha. Namun, aktivitas ekonomi domestik tentu tetap berjalan, sehingga kebutuhan pembiayaan di berbagai sektor strategis kami yakin masih membuka ruang pertumbuhan yang menjanjikan," ujar Corporate & Business Banking Division Head Bank Mega Syariah, Guritno, dalam keterangan resminya, Kamis (18/6/2026).
Menurut Guritno, pihaknya saat ini masih tetap fokus dalam mendorong kinerja pembiayaan pada sektor-sektor yang memiliki ketahanan tinggi terhadap dinamika ekonomi global.
Guritno menjelaskan bahwa sejauh ini pihaknya melihat tren penguatan dolar AS sebagai salah satu dinamika global yang perlu dicermati, namun tetap tidak mengurangi peluang pertumbuhan pembiayaan korporasi.
"Kami optimistis bahwa kebutuhan pembiayaan pada sektor-sektor produktif masih tetap terbuka luas, seiring aktivitas ekonomi yang juga harus terus berjalan," ujar Guritno.
Optimisme ini, dikatakan Guritno, terkonfirmasi oleh realisasi kinerja solid Perseroan di segmen komersial, yang mencatatkan pertumbuhan positif, di mana per Mei 2026, outstanding pembiayaan komersial berhasil mencapai lebih dari Rp5,7 triliun.
"Secara year to date (YtD), angka tersebut tumbuh sekitar 13,22 persen dibandingkan posisi Desember 2025 yang tercatat sebesar Rp5,17 triliun," ujar Guritno.
Kinerja pembiayaan komersial ini ditopang oleh dua sub-segmen utama, yaitu pembiayaan korporasi dengan porsi sebesar 43,76 persen dari total pembiayaan bank atau lebih dari Rp4,4 triliun, serta Business Banking dengan kontribusi sebesar 13,86% atau senilai lebih dari Rp1,4 triliun di Mei 2026.
Guritno menjelaskan, sektor pendidikan dan kesehatan masih menjadi kontributor utama pertumbuhan pembiayaan korporasi Bank Mega Syariah.
Kedua sektor tersebut dinilai memiliki fundamental yang kuat, kebutuhan yang relatif stabil, serta prospek pertumbuhan yang positif seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan pendidikan dan kesehatan.
Selain itu, Bank Mega Syariah juga melihat peluang pembiayaan pada infrastruktur, komoditas, perdagangan, transportasi dan logistik, serta berbagai sektor jasa lainnya yang memiliki prospek usaha yang baik.
Peluang tersebut semakin terbuka bagi pelaku usaha yang memiliki aktivitas ekspor atau pendapatan berbasis valuta asing.
"Komposisi sektor-sektor tersebut memberikan ruang bagi Bank Mega Syariah untuk terus mengembangkan portofolio pembiayaan yang produktif dan berkelanjutan," ujar Guritno.
Di sisi lain, penguatan dolar AS dapat menjadi momentum positif bagi pelaku usaha yang berorientasi ekspor. Nilai tukar yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia sekaligus mendorong peningkatan pendapatan perusahaan yang memiliki basis pendapatan dalam valuta asing.
Melihat peluang tersebut, Bank Mega Syariah secara aktif menjalin komunikasi dengan nasabah dan calon nasabah yang memiliki basis usaha berorientasi ekspor guna memahami kebutuhan pembiayaan serta rencana ekspansi bisnis mereka.
"Kami juga terus membuka peluang pembiayaan pada sektor-sektor yang memiliki prospek ekspor yang baik dan sejalan dengan strategi bisnis perusahaan," ujar Guritno.
Meski demikian, dikatakan Guritno, pihaknya juga tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam setiap penyaluran pembiayaan. Seluruh proses pembiayaan dilakukan melalui asesmen yang komprehensif terhadap profil risiko, kemampuan pembayaran, serta ketahanan usaha nasabah terhadap perubahan kondisi pasar global.
Total pembiayaan Bank Mega Syariah per Mei 2026 sendiri juga berhasil tumbuh sehat sebesar 7,2 persen menjadi lebih dari Rp9,9 triliun, dibandingkan posisi Mei 2025 yang sebesar Rp9,3 triliun.
Dalam hal ini, Bank Mega Syariah akan terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan pengelolaan risiko yang prudent.
"Dengan strategi tersebut, kami optimistis pembiayaan korporasi dapat terus tumbuh secara sehat dan berkelanjutan di tengah berbagai tantangan ekonomi global," ujar Guritno.
(taufan sukma)





