Jakarta: Hari lanjut usia diperingati Puskesmas Jatinegara dengan berbagai kegiatan. Rinciannya adalah lomba lansia, senam, pentas angklung, dan tur keliling Kota Tua.
"Disitu kita membuat semacam talk show, tema-tema yang kaitannya dengan lansia. Kesehatan tulang, kesehatan mental, kesehatan jiwa, dan seterusnya. Nah, ini tahun ini kita mengambil tema terkait kesehatan mental di lansia," kata Kepala Puskesmas Jatinegara Aditya Galatama Purwadi, melalui keterangan tertulis, Jumat, 19 Juni 2026.
Kegiatan ini dikawal Pasukan Putih Puskesmas Jatinegara. Aditya mengatakan kegiatan ini diadakan setiap tahun dalam rangka Hari Lanjut Usia Nasional.
"Bila tahun lalu dipusatkan di Lubangbuaya, tahun ini kita pusatkan di Kota Tua. Acaranya sendiri di Museum Seni Rupa dan Keramik. Memang sengaja di tempat wisata. Tapi wisata edukasi," ujar Aditya.
Baca Juga :
Kolaborasi Komunitas Berdayakan Lansia dan Anak PantiMenurut Aditya, berbagai kegiatan yang digelar terbuka untuk umum. Pihaknya tak menutup ruang jika ada warga lansia uang ingin ikut serta. Terutama, grup angklung.
"Kita juga ada grup angklung lansia namanya Mahira Batavia. Kemarin mendapatkan juara juga di DKI terkait lomba angklung. Dan siapapun yang mau, lansia yang mau bergabung, silakan mereka membuka latihan berkala," kata Aditya.
Menurut dr Aditya kegiatan ini bisa berlangsung terus setiap tahunnya karena efeknya itu cukup baik buat oma-oma dan opa-opa. Mereka jadi bersosialisasi dan aktif. Ketemu temen-temannya semangat.
"Saya tuh senang kalau ngeliat kayak gitu tuh dari oma opa itu. Jadi mudah-mudahan ini tahun depan kita bisa adakan terus setiap tahunnya gitu," ujar Aditya.
Kegiatan lomba kognitif juga diadakan. Tujuannya, agar fungsi-fungsi organ kognitif yang menurun saat lansia tetap terjaga.
"Ini tadi lomba gambar, pentas angklung bisa juga, nyanyi, pokoknya sifatnya kegiatan seperti itu. Itu akan membantu memelihara fungsi otak dan fungsi tubuh kita," ujar Aditya.
Selama kegiatan Hari Lanjut Usia Nasional, Pasukan Putih Puskesmas Jatinegara selalu mengawal dan mendampingi para lansia. Pasukan Putih adalah tim tenaga kesehatan layanan jemput bola (door-to-door) dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang bertugas memberikan perawatan medis langsung ke rumah warga.
Fokus utama layanan ini adalah melayani lansia, penyandang disabilitas, atau warga dengan keterbatasan akses yang tidak memungkinkan untuk datang langsung ke fasilitas kesehatan. Koordinator Pasukan Putih Jakarta Timur, Chandra Hidayat menyebut pihaknya sengaja mengawal lansia.
"Kehadiran kami merupakan wujud nyata komitmen untuk memberikan pelayanan terbaik bagi para lansia," tutur Chandra Hidayat.
Pada momentum ini, Pasukan Putih Kecamatan Jatinegara juga meluncurkan Program LENTERA (Layanan Edukasi dan Terapi Terintegrasi untuk Rehabilitasi Lansia) sebagai inovasi pelayanan yang mendukung kesehatan, rehabilitasi, dan kualitas hidup lansia.
"Kami berharap semangat Gerakan Semua Cinta Lansia terus tumbuh melalui kolaborasi seluruh pihak demi mewujudkan lansia yang sehat, aktif, mandiri, dan bermartabat," kata Chandra.
Sementara itu narasumber Talk Show, Dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater) dari RSUPN Cipto Mangunkusumo (RSCM) Irmia Kusumadewi mengatakan perhatian terhadap lansia harus terus diperkuat melalui berbagai program yang mendukung kualitas hidup mereka. Menurutnya, lansia merupakan bagian penting masyarakat yang harus tetap mendapatkan ruang untuk hidup sehat dan bahagia.
Dia juga berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan sejak usia produktif, serta membangun pola hidup sehat yang berkelanjutan.
Ilustrasi lansia. Foto: Istimewa
Menurutnya tidak semua lansia memiliki kecenderungan bersikap kekanakan. Hanya lansia yang sudah mengalami penurunan fungsi kognitif yang bisa mendadak jadi kekanakan.
Selain itu, sikap kekanakan bisa ditunjukkan lansia yang memiliki masalah kesehatan, seperti gangguan berkemih dan sulit tidur. Jika lansia tidak dapat mengomunikasikan rasa sakit tersebut pada anggota keluarga lain (misal karena Alzheimer atau stroke), maka yang muncul adalah uring-uringan atau sebaliknya, menjadi pasif.
"Karena itu tetap aktif meski kondisi fisik berkurang agar tetap sehat, tetap komunikasi dan interaksi dengan sekitar dan jangan menyendiri," kata Irmia.




