Maskapai di Negara-negara Teluk Kembali Bergeliat Pasca Perjanjian Damai AS-Iran

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Maskapai-maskapai penerbangan di kawasan Teluk mulai kembali meningkatkan operasionalnya setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menandatangani perjanjian sementara untuk mengakhiri perang. Sebelumnya perang telah berlangsung hampir empat bulan.

Dikutip dari Reuters pada Sabtu (20/6), Managing Partner Aviation Strategy, James Halstead, mengatakan pembukaan kembali wilayah udara di kawasan tersebut akan memungkinkan maskapai-maskapai regional memulihkan operasional secara penuh.

"Jika situasi kembali normal, saya melihat mereka akan kembali beroperasi seperti biasa dan pulih sepenuhnya," ujar Halstead.

Saat ini data Flightradar24 menunjukkan jumlah penerbangan maskapai utama di kawasan Teluk kini telah pulih ke sekitar 82 persen dari tingkat sebelum perang yang dimulai pada 28 Februari lalu.

Bahkan, Gulf Air dan Kuwait Airways dalam beberapa hari terakhir sudah mencatat volume penerbangan yang melampaui level sebelum konflik.

Di samping itu, tiga maskapai terbesar di kawasan, yakni Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways juga telah kembali beroperasi mendekati kondisi normal.

Etihad dan Qatar Airways yang sebulan lalu hanya mampu menjalankan 40-50 persen dari kapasitas normalnya kini juga telah pulih hingga mendekati 90 persen.

Sementara Emirates yang mempertahankan operasionalnya sepanjang konflik berada pada tingkat pemulihan yang lebih tinggi.

CEO Emirates Tim Clark sebelumnya mengatakan perusahaan akan fokus meyakinkan para pelancong mengenai aspek keselamatan dan keandalan layanan. Berdasarkan data Flightradar24, volume penerbangan Emirates saat ini telah mencapai 86 persen dari level sebelum konflik.

Sementara Gulf Air dan Etihad berada di level 93 persen, Qatar Airways 87 persen, dan Kuwait Airways 86 persen. Adapun Air Arabia dan Flydubai masih tertinggal dengan tingkat pemulihan masing-masing sebesar 75 persen dan 57 persen.

Dampak perang Iran-AS memang dirasakan industri penerbangan global. Kenaikan harga bahan bakar jet, gangguan jadwal penerbangan di Eropa dan Asia, hingga kebutuhan relokasi pesawat membuat prospek industri memburuk.

International Air Transport Association (IATA) yang mewakili lebih dari 370 maskapai penerbangan atau sekitar 85 persen lalu lintas udara dunia juga memangkas hampir separuh proyeksi laba industri penerbangan global pada 2026 menjadi USD 23 miliar dari perkiraan sebelumnya sebesar USD 41 miliar. Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan laba industri sebesar USD 45 miliar pada 2025.

Selama konflik berlangsung, serangan drone dan rudal di kawasan Teluk beberapa kali memaksa penerbangan melakukan pengalihan rute. Kondisi itu sempat memicu kekhawatiran mengenai keselamatan penumpang dan awak pesawat serta membatasi jalur penerbangan yang dapat digunakan.

Hingga kini, Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) juga masih mempertahankan peringatan bagi maskapai untuk menghindari wilayah konflik meski akan mempertimbangkan perkembangan terbaru dalam evaluasi berikutnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Perilaku Anak yang Menandakan Parenting Baik Menurut Ahli
• 15 jam lalubeautynesia.id
thumb
Siapa Pemain dengan Bayaran Termahal di Piala Dunia 2026?
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Bareskrim tahan tersangka FH dalam kasus PT Dana Syariah Indonesia
• 58 menit laluantaranews.com
thumb
Polwan Penjaga Perdamaian di Jantung Konflik Afrika Tengah
• 8 jam laludetik.com
thumb
Wamendikdasmen Tinjau Persiapan OSN Matematika di SD Lamongan dan Dorong Penguatan Karakter Murid
• 1 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.