”Wall of Jakarta”: Media Ekspresi, Kolaborasi, dan Silaturahmi Seniman Urban

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Suara kocokan dan semprotan cat kaleng terdengar bersahutan saat 13 seniman membuat mural pada dinding di sisi selatan M Bloc Space, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dalam gelaran Wall of Jakarta, Jumat (19/6/2026). Kaleng-kaleng cat beraneka warna dan tangga serta scaffolding menemani para seniman ini berkarya. Mereka dibebaskan untuk membuat karya dalam sebidang dinding yang satu dengan yang lainnya saling berbatasan dengan garis imajiner.

Batasan imajiner ini membangun kolaborasi bagi para seniman karena untuk menyambung gambar satu sama lain harus dalam semprotan cat yang saling menyambung, tidak terpisah secara tegas. Mereka boleh membuat figur manusia, benda mati, obyek perkotaan, ataupun grafiti tipografi. Panitia hanya meminta seniman untuk lebih menonjolkan warna oranye agar lebih dominan karena untuk membawa nuansa kekhasan Jakarta.

”Sebetulnya sih kita membawa karakter Jakartanya juga. Ada warna-warna Jakartanya makanya kita bawa-bawa oranye karena juga memang acaranya di Jakarta. Jadi kita bikin ada nuansa Jakarta,” ujar Wisnu, salah satu perwakilan panitia kegiatan.

Sudut ini sebelumnya memang diperuntukkan sebagai area mural. Bagi para pengunjung setia M Bloc, sudut ini telah akrab sebagai galeri seni lukisan dinding yang kerap menjadi spot favorit bagi pengunjung untuk berswafoto. Acara ini sekaligus menjadi penyegar tampilan sudut tersebut dengan tampilan mural-mural baru oleh para artis ini setelah dinding area tersebut dicat putih polos kembali pascarenovasi M Bloc Space di tahun 2025.

Wall of Jakarta ini merupakan perayaan seni dan budaya urban yang berpusat pada kegiatan pembuatan mural, pameran seni jalanan, serta ruang diskusi kreatif. Acara ini menjadi wadah kolaborasi para pelaku seni visual yang memungkinkan pengunjung untuk berinteraksi langsung dengan seniman dan melihat sudut pandang Kota Jakarta yang berbeda.

Kegiatan ini sebenarnya merupakan prakegiatan serupa yang menurut rencana akan diselenggarakan pada Agustus nanti di Kepulauan Seribu dan tentunya dengan skala yang lebih besar. Selain seniman dari daerah, seperti Pontianak, Surabaya, Malang, Semarang, Cilacap, Yogyakarta, dan Jakarta, kegiatan ini juga turut mengundang beberapa artis internasional dari Singapura dan Malaysia yang telah dikurasi panitia.

Suara kocokan dan semprotan cat kaleng terdengar bersautan saat 13 seniman membuat mural pada dinding di sisi selatan M Bloc Space.

Kaleng-kaleng cat beraneka warna dan tangga serta scaffolding menemani para seniman ini berkarya.

Mereka dibebaskan untuk membuat karya dalam sebidang dinding yang satu dengan yang lainnya saling berbatasan dengan garis yang imajiner sehingga terjalin kolaborasi karya.

Pemilihan lokasi di M Bloc karena tempat ini dinilai titik strategis berkumpulnya generasi muda dan wadah kreativitas yang bisa menjadi simbol kebangkitan ekonomi kreatif urban. Bangunan bekas gudang produksi uang dan kompleks perumahan karyawan yang tak terpakai lagi di kawasan Blok M.

Lahan seluas 6.500 meter persegi milik Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) ini pada 2019 disulap menjadi salah satu wadah kreativitas atau ruang tempat berkarya dan berkolaborasi. Kompleks ini juga menjadi tempat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Ruang dinding untuk berkarya cukup luas untuk 13 seniman tersebut. Satu dinding di sisi selatan digunakan oleh enam seniman dengan kapling masing-masing berukuran panjang sekitar 7 meter dan tinggi 3 meter. Di sisi utara, tujuh seniman mengisi ruang berukuran tinggi sekitar 6 meter dan lebar 4 meter. Scaffolding dan tangga digunakan oleh artis untuk membuat karya di dinding yang tinggi di sisi utara. Jadi, ada seniman yang mendapatkan kapling memanjang (landscape) dan ada yang meninggi (portrait).

Sebagian seniman grafiti memilih untuk menyembunyikan identitasnya dengan inisial khusus. Salah satunya adalah NSANE5 asal Jakarta yang menolak untuk menyebutkan nama asli, umur, dan identitas lainnya.

Artis yang sudah memulai membuat grafiti tipografi sejak tahun 2000 ini telah melanglang berkarya hingga ke Perancis dalam proyek kolaborasi Cosmopolite Art Tour di tahun 2011 dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sejak awal berkarya hingga kini. Hal ini karena ia ingin publik lebih fokus pada karya tipografinya yang membuat huruf-huruf namanya sendiri dalam berbagai variasi visual dibandingkan dirinya.

Layaknya seni lukisan di kanvas, dunia grafiti dengan media dinding bagi NSANE5 sangatlah luas. ”Ada seniman yang mungkin fokusnya lebih ke abstrak atau ada yang juga bisa dua-duanya gitu. Seperti sebelah saya ini dia bisa karakter bisa realis juga. Dia bisa tipografi juga gitu. Jadi, sebenarnya grafiti itu luas sekali. Karena setiap orang ada yang mungkin sukanya simpel. Ada yang mungkin sukanya benar-benar ribet banget. Misalkan dia gabungin karakter sama letter dijadiin satu. Jadi, itu tergantung senimannya sendiri sih sebenarnya. Dia ngolah karyanya seperti apa gitu,” ujarnya.

Menurut NSANE5, momentum kegiatan seperti Wall of Jakarta ini dapat menjadi ajang pertemuan para artis dari lintas wilayah bahkan negara atau benua. Melalui acara Wall of Jakarta ini, mereka saling bertemu, berdiskusi untuk membuat karya berbarengan. Membahas bagaimana gambar pada batas kapling akan dibuat, apakah akan bersambung satu sama lain. Seperti juga saat ia berkolaborasi dalam Cosmopolite Art Tour yang mempertemukan artis dari belahan Asia dan Eropa.

Setiap seniman memiliki ciri khas karya mereka sendiri. Selain NSANE5 yang memilih berkarya dengan aneka bentuk tipografi namanya, seniman asal Singapura, Song (31), membuat sebuah karya yang menampilkan figur mitologi makhluk bertubuh manusia dan kaki menyerupai buaya bernama Selung.

”Lukisan ini adalah mitologi yang saya buat berdasarkan ruangan tropikal dan spirit di Asia Tenggara. Saya selalu bicara menggunakan mitologi lama untuk yang menceritakan perjalanan dan pengalaman saya sebagai artis dengan teman-teman saya dan orang-orang di sekitar saya. Jadi, kali ini saya membuat lukisan karakter yang dipanggil Selung,” kata seniman yang telah empat kali berkarya di Indonesia ini.

Song sangat tertarik dengan tradisi dan warisan setiap negeri yang berkembang di Singapura, Asia Tenggara, atau di Asia dan menghubungkan kisah-kisah ini di dalam karya muralnya. Ia mengaku sangat senang kembali ke Jakarta untuk berkolaborasi dengan artis mural Indonesia.

Menurut dia, kegiatan ini membuka wawasannya bahwa banyak artis generasi baru yang sangat bagus dan berbakat. Ia juga merasa senang melihat komunitas artis mural bertemu, berkolaborasi, dan menginspirasi satu sama lain.

Momentum Wall of Jakarta ini dapat dimanfaatkan pengunjung dan pemerhati seni mural untuk bertemu langsung dengan para seniman ini yang akan merampungkan karya-karya mereka hingga Sabtu (20/6/2026). Melalui tangan para seniman, tembok-tembok akan bercerita kembali kepada publik. Mural bukan sekadar gambar di dinding, melainkan telah menjadi penanda, identitas, bahkan dapat membuat sebuah tempat terasa hidup.

Baca JugaFotografer Jerman Raih Hadiah Seni Terbesar di Eropa


Baca JugaMerawat Memori Melalui Toponimi Kampung Tua Yogyakarta





Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
AS Serang Kapal Terduga Pengedar Narkoba Tewaskan Tiga Orang
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Siapa Pemain dengan Bayaran Termahal di Piala Dunia 2026?
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Wakil Ketua DPR Dasco Buka Suara soal Nasib Karyawan Hotel Sultan usai Dieksekusi Negara
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Komponen Motor Listrik yang Paling Sering Rusak
• 19 jam lalumedcom.id
thumb
Mengungkap Kondisi Psikologis Lewat 5 Arti Mimpi Kucing, dari Anak Kucing hingga Kucing Hilang
• 3 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.