Harga Minyak Membara, Puluhan Kapal Tanker Keluar dari Persembunyian

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali naik setelah perundingan Amerika Serikat (AS)-Iran di Swiss batal digelar. Pembatalan ini memicu kekhawatiran bahwa proses menuju perdamaian permanen masih penuh ketidakpastian.

Merujuk Refinitiv, pada perdagangan Jumat (19/6/2026), harga minyak Brent ditutup di US$80,57 per barel atau menguat 0,90%. Penguatan ini memperpanjang tren positifnya dengan menguat 2,03% dalam tiga hari beruntun.

Sepanjang pekan ini, harga minyak brent jatuh 7,96%. Dengan demikian, harga minyak brent sudah ambruk dua pekan beruntun.

Sementara itu,harga minyak WTI pada perdagangan Jumat (19/6/2026) ditutup menguat 1,27% ke US$ 77,54 per barel.

Sepanjang pekan ini, harganya ambruk 8,64%.

Harga minyak kembali naik meski Iran dan AS masih menjalankan gencatan senjata sementara, termasuk pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Iran sejauh ini masih mematuhi komitmennya dengan tidak menyerang kapal-kapal yang melintas di Hormuz. Namun, pembatalan perundingan lanjutan di Swiss membuat pelaku pasar tetap waspada.

Di sisi lain, Sekjen OPEC, Haitham Al Ghais, menegaskan permintaan minyak global belum akan mencapai puncak dalam waktu dekat.

Kapal Kembali Menyalakan Sinyal

Analis Kpler dalam laporan kepada klien pada Jumat menyebut kapal tanker super Iran mulai kembali menyalakan transponder atau alat pemancar sinyal setelah sebelumnya mematikannya selama konflik berlangsung.

Kapal-kapal mulai kembali menyiarkan posisi mereka saat melintasi Selat Hormuz setelah selama berminggu-minggu menyembunyikan pergerakan dengan mematikan transponder.

Baca: Iran-AS Damai atau Tidak, Minyak Murah US$60 Tinggal Kenangan

 

Data AXS Marine menunjukkan terdapat 25 pelayaran komersial melalui Hormuz pada Kamis (18/6/2026). Jumlah ini adalah yang tertinggi sejak 18 April dan lebih dari lima kali lipat rata-rata harian selama 10 hari pertama Juni.

Namun angka tersebut masih jauh di bawah tingkat normal sebelum konflik yang mencapai sekitar 120 pelayaran per hari.

Produsen minyak Teluk juga mulai aktif menawarkan pasokan.

Kuwait Petroleum Corp menawarkan minyak mentah pengiriman Juli melalui tender setelah mencabut status force majeure dan mengumumkan rencana peningkatan produksi. Sementara itu, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) mengeluarkan tender keempatnya bulan ini.

Amerika Serikat secara resmi mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pada Kamis.

Pusat Informasi Maritim Gabungan (Joint Maritime Information Center/JMIC) yang dipimpin Angkatan Laut AS memperingatkan para pelaut agar tetap waspada terhadap keberadaan ranjau laut dan aktivitas militer selama operasi pembersihan berlangsung.

JMIC juga menyarankan kapal menghindari jalur Traffic Separation Scheme (TSS) karena risiko ranjau.

Jalur TSS yang diadopsi badan pelayaran PBB pada 1968 tersebut mengatur rute pelayaran melalui perairan Iran dan Oman di Selat Hormuz.

"Risikonya berkisar dari ancaman ranjau hingga kemungkinan kapal terjebak di Teluk Timur Tengah jika ketegangan kembali meningkat dan Iran kembali menutup Hormuz," tulis perusahaan pialang kapal Braemar dalam catatannya, kepada Reuters.

"Kesepakatan ini juga membuka kemungkinan Iran mengenakan biaya untuk pengelolaan transit Selat Hormuz setelah 60 hari."imbuhnya.

Syarat Iran Bikin Industri Pelayaran Khawatir

Swiss menyatakan perundingan lanjutan AS-Iran terkait perjanjian damai yang lebih luas tidak akan berlangsung pada Jumat. Wakil Presiden AS JD Vance juga membatalkan kunjungannya, menegaskan masih tingginya ketidakpastian mengenai perdamaian jangka panjang.

Iran memberi sinyal akan memperketat kontrol terhadap lalu lintas pelayaran. Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa kapal yang melintasi Hormuz harus berkoordinasi dengan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran.

Baca: Sudah 'Bakar' Rp1.200 Triliun, Jepang Tetap Gagal Selamatkan Yen

 

Perusahaan keamanan maritim Inggris Ambrey melaporkan bahwa pasukan Iran memerintahkan sebuah kapal tanker berbendera Hong Kong dan kapal kargo berbendera Saint Kitts dan Nevis untuk berbalik arah pada Kamis.

Dalam surat edaran yang dikirim kepada industri pelayaran dan diperoleh Reuters, Otoritas Selat Teluk Persia Iran (PGSA) menyatakan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz tanpa izin pelayaran yang sah dari lembaga tersebut.

PGSA yang mengklaim sebagai satu-satunya otoritas penerbit izin juga menyatakan berhak mengenakan biaya asuransi dan mewajibkan pemilik kapal memperoleh serta memperbarui perlindungan asuransi.

Industri pelayaran menolak segala bentuk biaya atau tarif yang dikenakan pada jalur yang mereka anggap sebagai perairan internasional.

Sementara itu, armada berisi 10 kapal tanker super berbendera Iran yang mengangkut hampir 20 juta barel minyak dilaporkan berlayar dari area jangkar Chabahar di Teluk Oman menuju Asia, yang kemungkinan besar akan memasok kilang-kilang independen (teapot refineries) di China.

"Polemik terkait sanksi sepihak Amerika Serikat tampaknya tidak lagi menjadi persoalan utama," kata Charlie Brown, penasihat senior organisasi pemantau lalu lintas tanker Iran, United Against Nuclear Iran (UANI).

Baca: Tak Cuma RI: India, Pakistan Hingga China Juga Batasi Pembelian Dolar

 

Sebanyak lima kapal tanker super Iran yang telah terisi minyak juga terpantau meninggalkan kawasan tersebut pada Jumat.

"Arus pelayaran dua arah menunjukkan perdagangan minyak mentah Iran secara bertahap mulai kembali mendekati pola operasi normal," tulis para analis Kpler.

Sebanyak 18 kapal yang melintasi Hormuz pada Kamis menggunakan jalur pelayaran yang ditetapkan Iran. Hanya satu kapal yang menggunakan rute resmi yang ditetapkan oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO). Sementara rute enam kapal lainnya tidak dapat dipastikan.

Kesepakatan AS-Iran juga memunculkan pertanyaan mengenai tata kelola Selat Hormuz ke depan. Setelah masa bebas biaya selama 60 hari berakhir, Iran akan menggelar pembicaraan dengan Oman dan negara-negara Teluk untuk membahas mekanisme pengelolaan selat tersebut.

Ketentuan ini membuka peluang bagi Iran untuk mengenakan biaya atau tarif transit bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz di masa mendatang.

Baca: BI Rate RI Paling Agresif di Dunia, Cuma Kalah dari Rwanda & Sri Lanka

 

Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai pembukaan kembali Selat Hormuz secara terbatas, pencabutan status force majeure oleh Kuwait, serta berakhirnya blokade Angkatan Laut AS terhadap Iran telah meyakinkan investor bahwa gangguan pasokan yang sempat mendorong harga minyak di atas US$120 per barel telah berakhir.

Menurutnya, gencatan senjata selama 60 hari merupakan langkah positif yang jelas. Namun, meski kesepakatan tersebut bertahan, aksi jual minyak dalam beberapa waktu terakhir kemungkinan tidak akan berlangsung lama.

Analis pasar Axi, Tiago Lacerda, memperkirakan harga minyak akan bergerak di kisaran US$75-82 per barel dalam jangka pendek. Saat ini, harga Brent tercatat sudah turun sekitar 36% dari puncaknya selama konflik berlangsung.

"Fokus pasar kini beralih pada apakah pembukaan kembali jalur pelayaran benar-benar berjalan lancar. Banyak perusahaan pelayaran besar masih belum kembali melintas dan premi asuransi tetap tinggi, menunjukkan pasar masih berhati-hati terhadap kecepatan normalisasi situasi," kata Lacerda.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hadiri Haul Ulama Betawi, Pramono: Jakarta Harus Jadi Rumah bagi Semua Suku dan Agama
• 2 jam laluokezone.com
thumb
Isu Penggulingan Prabowo, Cerminan Demokrasi Atau Ambisi Politik Kelompok Yang Tersisih?
• 22 jam lalucumicumi.com
thumb
Prabowo Panggil John Herdman, Bahas Piala Dunia hingga Pembenahan Sepak Bola
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BEI Optimistis Status Pasar Modal Indonesia Tetap Bertahan di Emerging Market MSCI
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Dasco Naik Mobil Komando, Disambut Meriah Ratusan Mahasiswa di Depan DPR
• 9 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.